Sabtu, 18 Oktober 2014

·         cerpen ini aku buat untuk afganisme yang lagi pengen baca cerita-cerita tentang idolanya, yaitu Afgan Syahreza...
BELUM PERCAYA
"Pagi ini cerah banget,,, enaknya ngapain ya? Pr semua udah beres, tugas kelompok sekolah beres, mandi udah, apalagi ya?"
Dia adalah Tibi. Anak cantik itu memang sangat perfectsionist. Setiap tugas sekolah yang diberikan pasti selalu dikerjakan lebih awal sebelum waktunya sehingga di hari libur seperti ini ia tidak perlu cape lagi mengerjakannya.
"Dengerin lagu Afgan enak kayanya". Emm... tapi kenapa cewe itu ragu-ragu dengerin lagu idolanya itu ya? Oooh, pantas saja, Afgan idolanya itu adalah tetangganya. Ia takut nanti malah Afgan yang takut dengan dirinya yang terlaku terobsesi dengan Afgan.
...
Ayahku pindah kantor seminggu yang lalu. Aku dan ibu ikut ayah pastinya. eh, tidak sengaja pas aku beres-beres rumah dua hari yang lalu ada mobil yang melewati rumahku.
Aku yang begitu penasaran dengan tetangga baruku itu (tepatnya aku yang menjadi tetangga baru mereka)menerawang siapa yang di dalam mobil hitam itu alias KEMAL "Kepo Maksimal". OMG!! Jantungku berdebar tidak karuan, hatiku rasanya mau keluar dari tempatnya. "Apa bener aku lihat Afgan? Ko bisa?"
Aku terus melihat kemana tujuan mobil itu... dan...
"OMG!! Ko mobilnya masuk ke rumah di sebelah rumahku sih? Beneran? Aaaaaa!!!"
Aku berteriak histeris sambil menutup mulutku yang tidak bisa berhenti menganga ini... Setelah itu, aku masuk ke dalam rumahku sampai-sampai aku lupa sapu yang sedang aku pegang tadi disimpan entah dimana.
"Mamaaaaa?"
"Ada apa sayang? Ko kamu panik gitu, ada apa?"
"Ma, aku .... emmm, Ma..."
"Iya ada apa? Ga jelas gitu ngomongnya? Jadi mama ikut panik kan.."
"Mama tahu ga tetangga kita itu siapa?"
"Tahu lah, mereka itu Pa Loyd dan Bu Lola kan.. kenapa emangnya?"
"emmm... ngga ko Ma.. ya udah,  aku ke luar dulu ya ..."
Aku keluar lagi dan tidak memberitahu pada Mama tentang tetanggaku ini adalah idolaku.
...
Aku sengaja membaca koran di luar sambil duduk di kursi menunggu siapa tahu ada malaikat datang ke rumahku... tapi kira-kira mungkin ga ya?... aduuh, ko jadi dreamer kaya gini sih? Mendingan di hari Minggu ini aku lari-lari aja gitu ya ke taman deket kompleks ini.
"Mama, ingat ga Mama nyimpan sepatu sport aku dimana?"
"Di bawah tangga sayang, kamu mau kemana?"
"Tibi mau keliling kompleks sini Ma.. mau ikut ga?"
"Mama lagi sibuk nih kan nanti sore kita bikin syukuran.. kamu aja sendiri ya, hati-hati sayang"!
Kubuka gerbang rumahku dan berlari pelan sambil mengintip pagar rumah Afgan. Mana ya? Ko ga ada orang?
Hmmm... yasudah lah. Apa salahnya aku berlari sendirian? Langkah kakiku semakin lamban,, dan akhirnya lari-lari berubah mejadi jalan-jalan. Aku mengambil hp di saku jaketku yang telah terpasang dengan headset. Kumasukkan hedset ke telingaku dan segera aku memutar lagu Afgan yang berjudul "Rumahmu Jauh". Tidak terasa mulutku ternyata ikut bernyanyi, sampai-sampai ada seseorang yang mencolek pundakku dari belakang, dan aku langsung kaget karenanya.
"Hai, boleh ikut lari?"
Spontan aku mencopot headset yang menghalangi pendengaranku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. OMG! Afgan?
"Dari tadi aku panggil, eh.. kamu terus asyik dengan musik kamu.."
Afgan tersenyum memulai pembicaraannya di sela-sela perjalanan kami
"Aduh, maaf tadi volumenya diperbesar jadi ga kedengaran mungkin,, hehe.."
Aduh, gantengnya manusia ini.. sungguh beruntung bisa jalan sama Afgan.....
"Ngomong-ngomong siapa nama kamu?"
Hah? Afgan nanyain namaku?
"Tibi, salam kenal.."
"Nama kamu lucu banget, t-i-b-i"
Aduuh, senyumnya begitu menawan. Aku tidak berhenti memandangi afgan ketika dia menoleh ke arah lain. Karena itu, aku tersandung batu di depanku dan aku tersungkur di depan Afgan... aduh, rasanya malu sekali.. bagaimana ini? Apa aku harus bangkit sambil tersenyum? Atau aku pura-pura sakit saja biar ditolongin Afgan?
"Sini aku bantu.."
Aduh, suara Afgan membuatku semakin lemas.. kurasakan tangan Afgan memegang lenganku membantu aku berdiri.. duuh, senangnya...
"Kamu ga apa-apa Tibi?"
"Ngga ngga ko, makasih ya".
Kemudian afgan menutunku ke bawah pohon untuk duduk-duduk sebentar sambil membeli 2 gelas es campur yang dibelikannya satu untukku. Saat dia makan, aku benar-benar tidak bisa menggerakan tanganku. Aku membayangkan dia adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk hidupku. Cara makannya aja udah mempesona, apalagi yang lainnya?
...
Satu bulan kemudian,,
aku mengintip lagi  pagar rumah Afgan, namun kali ini aku mengintip dari samping rumahku. Afgan terlihat memakai kemeja hitam rapi casual bersiap untuk bernyanyi di sebuah acara. Ingin sekali aku ikut, tetapi bagaimana caranya...
aku mengendap mengeluarkan motor dari garasiku.
"Tibi, itu siapa yang ngeluarin motor? Coba tolong lihat sebentar!"
Duh, bagaimana ini, Mama tahu kali motornya diambil.
"mm... ini tibi lagi ngeluarin motor Ma.. Tibi boleh kan pergi naik motor mau ke rumah teman Tibi!"
Dan ternyata Mama memperbolehkanku... Alhamdulillah...
Lalu kubuntuti mobil Afgan...dan akhirnya mobilnya berhenti juga di sebuah gedung yang sudah bertuliskan nama sebuah acara dengan bintang tamu spesial yaitu Afgan Syahreza.
Setelah Afgan dan teamnya masuk, aku megendap masuk juga, tetapi aku dihalangi oleh beberapa penjaga disana. Mereka menanyakan tiket masuk padaku. Oh iya, aku lupa tidak membawa dompet.. bagaimana ini..aku bingung tujuh keliling, aku duduk termenung di samping tempat penukaran tiket menunggu entah apa itu. Tiba-tiba dari dalam gedung keluarlah idolaku yang begitu cool, entah mau apa Afgan keluar gedung. Aku menyembunyikan wajahku. Namun, ternyata Afgan menujuku dan berkata pada penjaga tiket itu. Afgan langsung menarik tanganku. Aku ikut begitu saja bersamanya ke dalam gedung.
Aku belum sadar yang menarik tanganku itu adalah Afgan. Kemudian kudengar suara lembut di telingaku,"kamu datang kesini sendiri Tibi?"
"Iya... emm... aku tadi tidak bawa dompet, lupa. Maafkan aku.."
"Kenapa minta maaf? Seharusnya aku berterimakasih sama kamu sudah meluangkan waktu untuk acara spesial ini, lagipula aku juga pernah lupa tidak bawa dompet.. tenang aja, kita sama ko.."
Waah, baik sekai Afgan ini. Udah ganteng, pinter, baik lagi...
Aku diantarkan Afgan ke tempat duduk paling depan.. dan saat itu aku baru sadar kalau ternyata aku masih memakai baju tidur. Untungnya, aku memakai jaket yang bagus sehingga baju tidurku ini sedikit tertutupi. Rambutku yang lurus ini untung mudah diatur sehingga tidak terlalu amburadul.
...
Munculah idolaku yang sangat ditunggu-tunggu penonton diikuti teriakan yang sangat histeris dari belakangku. Aku ikut berteriak dan sungguh, ini pengalaman pertamaku menonton Afgan secara live dan duduk paling depan.
Sayangnya, acara itu hanya berlangsung selama dua jam. Waktu yang sangat kurang bagiku dan afganisme lainnya untuk mendengarkan dan melihat Afgan.
...
"Aduh, ko kempes sih bannya!!! Mana panas lagi? Ga bawa uang lagi? Ga bawa handphone pula... ".
Aku menuntun sepeda motorku yang kempes. Cuaca begitu panas terik, hampir membuat  kulitku dehidrasi. Untungnya nyanyian Afgan di konser tadi menghapus semua rasa hausku. Aku terus saja bernyanyi sepanjang jalan dan tidak merasakan cape atau lelah sedikitpun..
...
Tiid...tiid...tiid, suara klakson mobil berbunyi. Ternyata itu ayahku.
"Tibi, kenapa motornya... sini, ikut ayah saja biar motornya simpan di bengkel dulu.".
"Ini juga lagi nyari bengkel yah... tapi masalahnya masih jauh bengkelnya.."
"Bentar, ayah telpon dulu pak Roni ya biar urus motornya. Kamu sekarang ikut ke mobil, panas banget ini"..
Alhamdulillah lagi,,,  hari ini memang sangat beruntung bagiku..
...
Tok tok tok... siapa itu??
"Tibi, itu ada tamu tuh... tolong bukakan pintunya.."
Clek, pintu terbuka. OMG! Waw, mimpi apa aku semalam? Ko pagi-pagi begini ada malaikat datang ke rumahku? Aku harus bagaimana. Wajahku saat itu lagi ngga kobe banget. Aku tersenyum dan mempersilakan masuk.
"Aku ambilkan minum dulu ya,,,"
"Ah, tidak usah Tibi, aku kesini mau sebentar saja ko,  aku mau ngajak kamu jalan sore ini. Lagi sibuk ga?"
"Ngg....ngga ko, memangnya kamu ngga sibuk ya?"
"Kebetulan lagi kosong jadwalnya, kamu mau kan?"
"Ya,"dengan tegas aku katakan ya pada Afgan.
"Eh, loh perasaan.... Mama kenal sama temen kamu ini? Sebentar sebentar, Afgan yang penyanyi itu kan?"
"Iya tante..hehe"
"Ko bisa kenal sama Tibi, rumah na Afgan dimana?"
"Di sebelah rumah tante. Pak Loyd.."
"Oh, anaknya Pak Loyd dan Bu Lola toh... pantas saja Afgan kenal sama Tibi ya... Eh, mau minum apa?"
"Ga usah tante, ini juga mau pulang ko... makasih tante"
...
Kulihat Afgan mengeluarkan mobil dari garasinya tanpa supir. Aku yang sudah berpakaian rapi menunggu afgan di teras rumah.
"Maa.. berangkat dulu ya...."
Aku sangat senang, apalagi ketika Afgan membukakan pintu mobilnya untukku. Ahaideuh... aku yakin kalau Afgan menaruh hati padaku. GR banget sih kamu Tibi? Dalam hati aku berbicara sendiri.
"Kita mau kemana nih?"
"kan kamu yang ngajak, aku sih ikut kamu aja..."
"Kita ke tempat makan aja gimana? Udah makan?"
"Kalo makan sore sih belum,, hehe... kan tadi udah makan siang"
"Yaaah, padahal aku belum makan nih, tapi kamu mau ga temenin aku makan?"
OMG! Afgan mau aku nemenin dia makan? Kesempatan yang ga boleh dibiarkan nih...
"Temenin? Boleh..."
Boleh amat gaan, dalam hati aku bersorak ria.
...
"Tibi, kamu mau aku pesenin apa?"
"Terserah kamu aja.."
"Beneran nih... aku suka kentang goreng, kamu mau itu juga?"
"Apa aja..."
aku tahu saat aku makan, pandangan mata Afgan tertuju padaku. Entah aku yang terlalu kepedean ataukah memang benar adanya. Aku memberanikan diri melihat mata Afgan dan benar saja, Afgan tampak sedang melihatku dan segera menoleh ke arah lain saat aku melihatnya. Tidak lama kemudian, aku mendengar panggilan untukku...
"Tibi..."
"Iya?"
"Aku boleh tanya sesuatu ga sama kamu,,, apa kamu udah punya pacar?"
"Aku.... belum gan... ada apa?"
"Kalau aku mau jadi pacar kamu gimana?"
Aduuh gaan, ngapain kamu nanya itu? Ya pasti aku bakal bilang mau lah... kalaupun aku punya pacar, bakal aku putusin pacar aku demi kamu gan... tapi, gimana cara jawab pertanyaan Afgan ini ya?
"M... m... Mau gan"
"Beneran Tibi? Berarti sekarang kita resmi pacaran kan?"
Afgan nampak tak percaya aku bilang mau jadi pacarnya. Padahal, aku yang seharusnya masih belum percaya Afgan melakukan hal ini...
"Iya, Afgan ganteng...."
"Berarti aku boleh manggil kamu sayang kan? Alhamdulilah..."
"Aku juga seneng banget punya pacar kaya kamu sayang..."
Sejak saat itu aku menjadi pacar Afgan.. dan kamu tahu apa? Afgan yang setiap hari menjemputku pulang kuliah.. kurang apa coba? Namun, setiap Afgan menjemputku, dia tidak pernah turun dari mobilnya, mungkin karena takut diketahui identitasnya sama yang lain .. kalau yang lain pada tahu gawat, bisa-bisa pacarku yang super ganteng ini habis dikerumuni orang-orang...
"Halo? Yang, aku lagi di jalan mau jemput kamu, tunggu ya sayang!"
Kamu tahu rasanya Afgan bilang seperti itu? Rasanya tuh kaya hati yang ditusuk-tusuk sama cinta yang sangat bisa buat aku lemas.
Itu mobilnya udah datang, aduuh, rambutku harus kobe nih. Tampil cantik di hadapan malaikat... aku segera berlari ke arah mobil itu.
"Tadi macet ga sayang?"
"asal itu buat kamu, macet atau ngga ga masalah buat aku,"
Aduh,,, suara manja khas ala Afgan muncul lagi bikin aku lemas. Stop gan, stop,, jangan gombal lagi.... bisa bisa aku meleleh nanti...
kemudian Afgan mengeluarkan suara merdunya itu...
"Bawakah pergi cintaku, ajak kemana engkau mau. Jadikan temanmu, temanmu paling kau cinta.. disini ku pun begitu, trus cintaimu di hidupku didalam hatiku sampai waktu yang pertemukan kita nanti...." saking merdunya suara Afgan, aku mulai tertidur di dalam mobil.
Tidak terasa dari kampus ke rumahku sampai begitu cepat. Tidurku belum cukup.., ku dengar suara Afgan membangunkanku, "sayang, ini udah sampai... ayo bangun"
Kurasakan telapak tangan Afgan mengusap pipiku... aduh lembutnya.. Sebenarnya saat itu aku sudah bangun, aku sengaja tertidur siapa tahu afgan mengangkatku dan memangkuku ke dalam rumah...
....
 tiba-tiba pintu mobil terbuka dan terdengar suara Mama yang membangunkanku,,,
"Sayang, bangun sayang,,,"
Loh? Ko suara Mama sih yang muncul? Aku segera terbangun dan menanyakan Afgan pada Mama..
"Afgannya kemana Ma? Mama ko di sini sih?"
"Hah? Afgan? Tuh lihat, dia lagi nyanyi di Tv!"
Aku segera mengucek-ngucek mataku dan melihat Tv... dan Afgan ternyata lagi nyanyi di acara gebyar BCA,
"Loh? Ko aku ada di atas tempat tidur sih?"
ALAMAK! Aku baru sadar aku bermimpi di atas semua ini... aku teryata sudah tidur seharian, sampai-sampai aku belum sempat membantu Mama yang sedang meyiapkan makanan dan lain-lain untuk syukuran sore nanti...
Aku segera turun dari kasurku, aku langsung menuju teras rumah dan memulai untuk mengintip rumah Afgan dan disitu sepi banget. Cuma ada Arsya (adiknya Afgan) dan bibi yang selalu ada di rumah Afgan.
Yaa.. sudahlah Tibi, kamu ternyata cuma mimpi. Tapi kan siapa tahu mimpi itu jadi keyataan, iya kan?
TAMAT

cerita ini hanya karangan fiktif belaka, jika ada kesamaan nama dan tempat merupakan bentuk ketidaksengajaan.
Mohon dikomentari ya readers... terimakasih sudah berkunjung...


Sabtu, 11 Oktober 2014

novelku

novel ini saya buat sekitar satu tahun lalu, silahkan dibaca dan beri komentarnya ya....:)

SAYOUSHITERU
            “Yaaa.... akhirnya, hari itu tiba juga. Semua kelas XII di seluruh negeri tercinta ini menanti pengumuman hasil belajar mereka. Ya, kelulusan SMA yang ditnggu-tunggu akhirnya di depan mata.
            Ada dua sejoli, tentunya cowo dan cewe. Mereka adalah sahabat karib yang salah seorangnya merasa ingin memiliki hubungan lebih dari itu. Itulah aku, panggil saja Ana, akulah sahabat Giza yang ingin hubungan kami melebihi status yang sekarang. Giza dikenal sebagai seorang siswa SMA di salah satu Ibukota Jakarta itu yang pendiam, pemalu, tampan, baik hati, dan penyayang. Aku bersahabat dengan Giza sewaktu pertama kali masuk SMA itu. Aku merasa bahwa Giza itu berbeda dari cowo lain.
Karena Aku berusaha untuk selalu di samping Giza, makanya Giza yang dulunya pemalu (apalagi sama cewe) bisa akrab denganku karena kita merasa memiliki kecocokan. Kemanapun Giza pergi atau sebaliknya, kita tidak pernah sendirian, kita setia menemani terutama dalam urusan pendidikan. Aku dan Giza terkenal di SMA  karena... Bukan sombong, tapi seringkali kami yang suka dijadikan perpustakaan berjalan  oleh teman-teman kami.
***
“Jangan berlebihan Za! Aku yakin, nilai kamu pasti juga teratas.. percaya deh..”, jawabku saat Giza meneleponku sebelum pergi sekolah. Hari ini aku dan Giza tidak akan berangkat bareng karena katanya dia naik mobil bareng supirnya. Hmm.. dia lebih memilh supir daripada sahabatnya sendiri. Dasar sahabat tersayangku…
***
            Ketika Giza melihat papan kelulusannya, tidak dipungkiri lagi Giza memang cowo yang pintar. Ia berada di jajaran teratas. Giza dan teman-temannya saling memberi selamat dan pelukan teman. “Gilaa! Bro, keren.. Selamat ya”, banyak sekali ucapan selamat yang dilontarkan padanya.
“Aku harus ngasih tahu Anna soal ini… Oya, mana anak itu? Kok belum keliatan, padahal udah siang.. Apa aku telepon saja ya?”.
Halo, Ann?
Iya? Tumben, biasanya aku yang telepon kamu..
Kamu sekarang lagi di mana?
Kenapa gitu Za? Kehilangan aku? Haha..
Apaan sih kamu, itu hasilnya udah dipajang di madding, cepetan..
Kenapa buru-buru amat sih,, emangnya mau ke mana?
Kalau udah liat, rencananya aku mau ngajak kamu makan siang..
Lagi seneng ya?
Yaudah, cepetan.. Kamu lagi di mana?
Aku lagi di depan mading tahu… aku juga udah lihat hasilnya. Sekarang kamu ada di mana?
Aku tunggu ya di taman belakang.
(tuut..tuut..tuut..)
            *
“Iih, nyebelin. Kok langsung ditutup sih, gak sopan..!”, tutupku.
            Ketika kulihat papan pengumuman, tepat sekali, aku seposisi dengan Giza.
 “Kita  memang selalu berdampingan ya,hehe... “GR banget sih kamu, An!”, jawabku juga.  Ayolah, kamu dan Giza kan sahabatan... masa iya sih aku punya perasaan lebih dari itu!”, pikiranku terus saja begitu...
*
Wajah Anna yang cantik, ditambah rasa gembiranya membuat wajahnya sangat bersinar. Namanya juga perempuan, teman-teman Anna langsung saling memberi selamat ditambah yel-yel kurang jelas ala remaja.
Di sana Anna terlihat sedang mencari sesuatu. Kanan, kiri, depan, dan belakang. Tidak salah lagi,dia pasti mencari sahabatnya, Giza.  Ana segera ke taman belakang sekolah dan melihat Giza dengan headset yang selalu menempel di telinganya. Giza memang penikmat musik, bahkan kemampuannya dalam vokal sangat bagus menurut Anna, hanya saja Giza tidak pernah menunjukkan kebolehannya itu karena pribadinya yang pemalu.
            *
Hei!!!Giza, Gizaaaa,yes....!
Ana? Hehe...Good Job!
Kok segitu kagetnya lihat aku, kaya lihat penampakan aja.. Oya, tahu gak sih, angkatan kita lulus 100%.
Iya tau.(dengan nada cuek)
Za?? Kamu seneng kan?
Iyalah pasti!
Terus? Mana raut seang kamu?
            *
            Memang seperti biasa, namanya juga cowo. Bicara seperlunya. Terlebih Giza, dia itu kan pendiam, jadi pantas saja kalo dia diajak ngobrol memang begitu. Tapi aku sangat mengerti sifat Giza. Aku selalu ikhlas dicuekin sahabatku itu, karena aku tahu sebenarnya Giza juga sayang sama aku. Pikirku selalu mengatakan seperti itu..
            *
(Aku terdiam, nampak agak kesal dengan Giza)
Ana? Nanti malam,,,,  promnite ya???
Tumben kamu bicara duluan!
Ih,ko gitu sahabatku?
Habisnya kamu kalau gak ditanya gak pernah mau ngomong.. Jelek tahu..
Segitu sensinya sih,, maaf. Maafin gak? Maafin kan? Loh.. kok tangan kamu dingin?
            Ketika  tanganku dipegang Giza,  aku berpikir betapa perhatian Giza padaku. Aku semakin sayang dengan Giza. Diam-diam aku memiliki rasa lebih lagi pada Giza. Ooooh  ya Tuhan, apa benar perasaan ini? Apa aku harus diam saja dengan perasaanku ini..
            *
Hei,Bro!!Ko diem gitu? Dimaafin gak nih ?
Hah? Apa? Maaf, aku melamun tadi.... Kamu ngomong apaan?
Tuh, kan melamun itu gak baik tau! Jadi, aku dimaafin gak nih?
Ya iyalah Za! Masa aku sesensi itu... Oh ya, nanti malam di promnite kamu jadi pasangan aku ya? ya? ya?
Ya... ga ada pilihan lain, kepaksa deh!
Dasar! Ya sudah, ga usah maksain. Banyak kali yang mau pasangan sama aku…
Keep calm my sister,, gitu aja dianggap serius? Dasar bawel..
            *
Aku yang begitu kalem bawaannya, tetap saja dibilang bawel oleh Giza. Mungkin Giza lagi sensi waktu itu. Namun, itu tidak masalah. Walaupun begitu, aku tetap akan menjadi pasangan Giza di promnite nanti malam. Aduuuh, sudah terbayang aku dan Giza di promnite nanti..
            *
Kita pulang sekarang? Let’s go!
Bukannya tadi mau ngajak makan siang?
Kamu sih malah ngajak ngobrol, mau hujan nih kayanya! Gak jadi makannya ya? Hehe..
            *
            Aku biasa berjalan setiap hari pulang dan pergi. Rumah kami memang dekat dan itu satu perumahan. Rumahku tidak jauh dari rumah Giza. Karena itu, semakin lama aku rasanya nyaman dekat Giza. Di perjalanan, Giza mengajakku untuk beristirahat sejenak di bawah pohon  rindang. Akhir-akhir ini dia punya hobi baru yaitu diam di bawah pohon. Hobi kok aneh, bukannya bermain futsal, badminton atau sebagainya malah memilih diam.
Disini kayaknya sejuk nih! Apa kita bisa terus menikmati ini gak ya?
Maksud kamu Za?
Ngga, aku cuman mau kalau aku masih bisa menikmati suasana seperti ini sama kamu. Rasanya adem ya di bawah pohon?
Tiba-tiba Giza membuka tasnya dan mengeluarkan air mineral dan obat yang selalu dibawanya. Rasa penasaranku semakin hari semakin besar dengan obat itu. Apa sih itu?
Za? Aku lihat dan aku perhatiin kamu selalu miinum obat itu tiap jam segini. Itu bukan vitamin yang selama ini kan?
 Memang, sebelumnya ketika aku kerap menanyakan hal itu Giza selalu menjawab kalau itu vitamin. Namun, aku selalu yakin kalau itu bukan sekadar vitamin. Karena rasa tidak percaya ini makin besar, kali ini aku bersikeras ingin tahu.
Iya, ini vitamin.
Za! Aku ini sahabat kamu kan?
Apa harus dijawab? Iyalah!
Kamu jujur deh, itu bukan vitamin kan? Bukan apa-apa Za, aku khawatir sama kamu..
Ga segitunya kali.. Kalau ini emang vitamin harus gimana lagi?
Kutengadahkan telapak tanganku. Ada yang ganjil dengan kelakuan Giza akhir-akhir ini.
Za, kalau itu vitamin aku minta ya?
Ih, jangan Ann!
Sini, aku nyoba satu ya?
Please.. jangan Anna. Baik, aku bakalan bicara.
Jadi benar kan ini bukan vitamin kamu?
Tapi, ini rahasia kita. Jangan pernah....
Ssssttt… Za, aku janji ga akan ngomongin ini...
Aku rasa, gak sekarang ya? Pasti Papa udah nunggu .... nanti malam pas promnite aku janji bakal ceritain.
Janji sahabat ya? Awas aja kalau ngga..
Iya janji..
            *
Langit sepertinya juga tidak senang mendengar pegakuan Giza tentang vitamin itu. Rintik demi rintik segera berubah menjadi lebat. “Ya udah, sampai ketemu di prom ya! Aku duluan!”, Anna segera berlari ke rumahnya. Lama-lama Giza bosan juga diam di sana. Langkah cepat Giza memecah air yang menggenang di permukaan jalan. Tas kosong dijadikan tameng di atas kepalanya.
Assalamu’alaikum....Pah!
Waalaikumsalam. Za, sendiri?  Biasanya Ana kan suka ke sini dulu..
Ngga Pah, katanya Anna mau nyiapin pakaian dulu buat promnite nanti. Oh ya, kita lulus 100% loh Pah!”
Oya?.. Keren dong!... Eh, ngomong-ngomong, di promnite nanti Anna pergi sama kamu? Ciyeee...ciyee,  udah punya sasaran nih...!
Giza kan belum bilang iya..
Tapi benar kan kamu akan pergi bareng Anna..
Iya, tapi apaan sih Pah! Aneh-aneh aja... Ana itu cuman sahabat Giza kali, lagipula kan sahabat itu ngga akan ada ujungnya.
Kalau seandainya jadi pasangan juga sama-sama ga akan ada ujungnya kan Za,...Right?
Bisa aja Papa. Ngga mungkin lah, Giza ngga ada perasaan sama Anna.
Sejauh ini?
Aduh Pah! Udahlah, tuh liat lagi rame filmnya!
            *
            Ibu Giza meninggal saat beliau berangkat ke luar negeri. Giza tinggal dengan Papanya. Papa sangat senang dengan kedekatan aku dengan Giza. Tetapi, pilihan Gizalah yang terbaik. Papa akan melakukan apa saja demi anaknya itu, yang penting Giza senang dan bisa menjalani hidupnya dengan mulus walaupun Giza punya sesuatu yang mengganjal hidupnya. Setiap malam Papanya itu selalu berdoa untuk kesembuhan anaknya. Begitupun Giza, Ia selalu berdoa untuk Papa dan kesembuhan dirinya.
            *
            Sekarang kita berbicara tentang Rasi, dia adalah siswi di salah satu SMA di Jakarta juga, tetapi ia berbeda sekolah denganku dan Giza. Ia pun sama, sedang bergembira hati karena kelulusan dia dan teman-temannya yang sempurna.. Sepulang sekolah, ia biasa makan siang, bahkan ia suka menunggu temannya yang pulang sore hanya untuk makan bareng. Rasi memang setia dengan teman- temannya. Rasi itu cantik, aktif, pintar, dan baik. Namun, meskipun begitu, ia sama sekali belum pernah pacaran. Mungkin karena dia terlalu aktif atau dia selalu menolak karena menurutnya belum ada yang klop dengan dirinya.
Mamaaaa... aku pulang!
Ih, kamu kebiasaan, bilang salam dulu dong sayang!
Assalamu’alaikum Mama!
Waalaikumsalam, gimana hasilnya nak?”
Lulus 100%! Aku senaaang banget. Rasi sayang Mama!
Pah, sini! Coba lihat Rasi.... Kasih selamat dulu dong Pah!
Anak Papa sudah remaja, ga kerasa ya Ma, Rasi sudah mau kuliah lagi..
By the way,,,, Rasi laper nih, di meja udah ada makanan kan? Yuk, Ma, Pah! Kita rayain kelulusan Rasi bareng daging ayam dan sayur!!
*
 Yang suka bareng sama kamu siapa Papa lupa, bisanya juga dia suka kesini pulang sekolah..
Maksud Papa Giza? Emmmm....mungkin dia lagi mau nyiapin pakaian buat nanti malam sama kaya aku,  jadinya ga kesini dulu...
Aduuuh... pengen banget disamain sama Giza.. Memangnya kamu tahu Giza lagi apa sekarang?
Kan itu bisa jadi Pah...hehe..
Giza itu ganteng  ya, An?
Ya emang, Papa sirik ya....
Yeeey... masa sirik sama calon pacar anak Papa. Eh, keceplosan..
Maksudnya?
Anak Papa jangan bohong, kamu suka kan sama Giza,,, bilang aja, curhat sama Papa!
Ko
k Papa malah jodoh-jodohan sih! Giza emang deket sih sama Anna, tapi belum pacaran.. Udah ah, Anna nyiapin pakaian dulu ya... Muach Papa...
            *
            Aku dan Giza senasib. Mama kami sudah meninggal karena kecelakaan. Namun kini kami tetap senang karena memiliki ayah yang begitu memperhatikan kami.
            *
Anak Papa keren banget...
Baru aja Giza mau nanya. Beneran Pah? Gimana Giza pake begini? Jasnya gerah amat ya,,,
Turutin kata Papa. Udah, kamu pas banget, cocok, Kamu kaya Papa dulu. Dijamin Anna pasti terpana lihat kamu!
Kok Anna lagi? Memangnya ga ada orang lain.. Eh, sudah jam 9 pah! Aku jemput dulu....
Anna, kan?)
Ya, itu papa tau.... berangkat dulu ya pah...!
Siapa lagi selain Anna? Hehe..hati-hati, kamu bawa obatnya jangan lupa!
Siap pah
!
Jaga diri kamu... Anna juga!
Apaan..
            *
            Papa giza begitu senang melihat anaknya menjalani hidup dengan bahagia tanpa merenungkan kondisi tubuhya. Senyuman Giza adalah yang terpenting untuk Papa.
Giza pun berjalan menuju rumah Anna. Dari dulu memang begitu, kadang Anna atau Giza yang menjemput sahabatnya duluan. Tapi kali ini Anna memang ingin Giza menjemputnya.
Ana.... itu ada teman kamu diluar kayanya.
Bentar pah... Anna belum beres
Giza? Ayo silahkan masuk!
Makasih Om..
Mari duduk.. Bi, tolong ambilkan minum ada tamu..
Bentar ya Giza! Oya, katanya kamu nilainya bagus-bagus ya. Selamat ya..
Iya Om, makasih. Emmmm, Anna nya masih di atas?”
Iya, kan dandannya spesial mau ketemu kamu,,, eh, maksudnya mau ke promnite bareng kamu.
            *
            Papaku terlihat senang dengan Giza. Obrolan Papa dan Giza selalu nyambung dan selaras. Mungkin karena Giza sopan dan wawasannnya luas, jadi bicara apapun, Giza selalu nyambung. Ketika mereka asyik mengobrol tentang salah satu pengalaman Papa, aku pun datang ke hadapan mereka..
            *
I am coming..
Eh, Giza,, kamu udah datang?
Hmmmm dari tadi kali.
Maaf deh...
Pah, gimana Ana?, kuperlihatkan gaunku di depan Papa.
Emmm.. itu gaun Mama kamu ya? Bagus. Kalau menurut kamu Za?
Hah? Oh... emmm bagus, cantik. Oya, Om kita berangkat sekarang aja, yuk Anna!
Pah, berangkat dulu ya!
            *
Cuaca dingin, sepi dan berangin. Namun kali ini tidak seperti biasanya, aku merasa hangat dan nyaman. Bahkan setiap ku lihat Giza sedag berjalan rasanya seperti di surga walaupun aku belum tahu bagaimana rasanya. Namun, setiap Giza menengok ke arahku aku langsung berpaling. Bukan malu, tapi jantungku rasanya mau copot. Tidak ada suara apapun di antara kami. Kalau begini terus, ga akan rame. Baik, akan kucoba lontarkan pertanyaan saja dan semoga dijawab. Amiin,
Za, jangan diem aja dong,,,, ngobrol . Iya.....maaf, tadi aku lama banget kan? Maaf, maaf ya,,
Bukan itu...
Terus?
Ana, kamu bakal ngelanjutin k
uliah ke mana? Aku takut kita ga bisa ketemu lagi...
Oh ya, gimana kalau aku ngikutin kamu  aja . Hobi kamu kan ga jauh beda sama aku.
Ide bagus juga tuh! Gimana kalau di Universitas deket sini aja, aku bakal ngambil Bussines Management. Lagipula, ga jauh dan bagus juga, kan?
Aku setuju aja sih. Aku mau ngambil bisnis juga, biar ke depannya mudah.
Makasih ya An! Kamu sahabatku yang paling baik.
Kembali kasih..
            *
            Begitu Ana dan Giza datang, semua orang di dalam ruangan melihat mereka berdua. Teman-temannya menganggap Anna dan Giza sudah jadian alias pacaran karena mereka memang klop banget. Padahal, Giza dan Anna hanya sahabat biasa.
 Ana memang sangat serasi dengan gaun di malam itu, apalagi wajahnya selalu ceria dan calm. Giza juga terlihat sangat tampan dan sopan. Keduanya memang serasi. Hiburan, kesenian dan pidato sambutan dinikmati bersama. Kemudian Anna ingat tentang janji Giza tadi siang. Tapi sebelum itu, Giza yang sedang duduk bersama Anna kemudian mengeluarkan lagi obatnya. Ia meneguk obatnya dengan tenang, Anna diam melihat Giza yang selalu menelan obat itu setiap harinya.
Za, emmm..... kamu janji akan kasih tau tentang obat itu.
Ya,, aku ingat, aku janji. Kita duduknya di meja belakang saja ya?
 *
Aku...ga bisa bertahan tanpa obat ini..
Hah? Maksud kamu?
Aku mulai makan obat ini pas SMP. Aku punya penyakit. Waktu SMP itu aku sangat aktif, bahkan aku pulang ke rumah lebih sore daripada guru. Sejak itu aku bolak-balik ke dokter sama Papa. Aku ngerasa mudah cape, sampe-sampe aku pernah pingsan di jalan. Dokter pribadi ngasih obat ini. Waktu itu aku gak sengaja ngedenger pembicaraaan dokter, katanya umurku ga akan lama, Ann..
Kok  kamu bisa sampai begitu, Za?
Loh, kamu nangis Ann?
Terus... kamu makan obat ini buat hidup?
Penyakitku ini ga ada obatnya An. Mau pake apapun, penyakit ini makin lama malah tambah parah. Obat ini cuman sebagai supply oksigen biar aku keliatan segar dan bisa ceria aja”.
Kita ngobrol diluar aja yu..! Aku ga kuat, ga bisa nahan nangis. Malu diliat orang..
Lebay banget sih, Ann!
            *
Kalau kamu ga keberatan.........., sebenarnya kamu sakit apa?
Pengen tau banget, apa pengen tau aja? Ngga nular ko, tenang aja..
Za, jangan bercanda ya! Mau itu penyakit nular atau ngga, aku tetep mau jadi sahabat kamu. Kalau bisa dipindahin, aku mau penyakit kamu ada di aku!
Anna,, aku sebenernya kena penyakit lupus, Ann...
Hah???
Ana, jangan sampe kamu pingsan ...! Dasar lebay..
Aku tidak akan pernah ninggalin kamu, Za...
            *
Ana kemudian memeluk Giza sambil menangis. Giza begitu tersentuh ketika sahabatnya itu melempar kata-kata itu padanya.
            *
Udahlah An, buktinya aku masih bisa hidup sampai sekarang kan, segala sesuatu kan ga bisa ditentuin manusia, tapi sama Tuhan. Mending kita ke dalam lagi, ikutan menari disana. Itu lagunya lagi slow, enak buat bareng-bareng ..”.
            Kami pun segera masuk ke ruangan itu. Cahaya lampu menyamarkan bekas air mata di pipiku. Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa Giza baru memberitahuku sekarang. Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang.. Aku sangat takut ada sesuatu yang buruk erjadi dengan Giza..
*
Ann, jangan ngasih tahu ke siapapun tentang penyakitku ya..
Aku udah janji, Za.
Ann, kamu ga takut sama penyakit aku?
Aku ga takut penyakitnya, tapi aku takut banget kalau kamu lupa makan obat itu...
Makasih, Ann..
Sampai jumpa di kampus baru nanti ya…
Siip, bro..
            *
            Tibalah saatnya  Anna dan Giza menjalani OSPEK di salah satu Universitas di Jakarta itu. Kami berdua datang barengan meskipun harus nyubuh datang ke kampus. Kami diharuskan  memakai kalung dari rantai karet gelang dengan tulisan nama tentang seputar hewan.
            *
“Jalan jongkok terus, jangan berhenti... Gitu aja manja!”, suara salah seorang senior membentak kami. Dari belakang, ada lagi suara yang tidak kalah mengagetkan, ”Heeh! itu tuh yang paling belakang turutin depan dong!.
Senior 1 :”Emmm, apa ya yang bikin kalian jadi rame,
                “Oya,... sekarang kalian berpasangan cowo cewe,terus bikin kalung sepanjang mungkin dari kertas ini! cepet...”(sambil membagikan kertas kecil)
            *
            Semua sibuk mencari pasangannya, Ana terletak di tengah kerumunan peserta Ospek, Ia kebingungan mencari Giza..
            *
Dani :”Hei,,,!(menepuk Ana dari belakang)
Ana  :”Giza?...Oh, maaf ya” (ia berharap itu Giza)
Dani :”Kamu pasti nyari pasangan kan? Udah, sama aku aja, kebetulan aku belom juga”(sambil memegang tangan Ana)”Kenalin, aku Dani.  Kamu jadi pasangan aku ga apa-apa kan?”
Ana  :”Oh, iya ga apa-apa”(Ana terlihat terpaksa, sambil berusaha mencari Giza)
            *
Giza :Wadduh! Di barisan ini cowo semua, mana cewenya?(Di dalam hati)
Rasi :”Addudududuh!!”(terdorong menuju Giza oleh kerumunan)”Maaf,maaf...aku ga sengaja”
Giza :”Ya,ga apa. Ngomong-ngomong, kamu udah ada pasangan?”
Rasi :”Hehe..belum, kamu?”
Giza :”Sama. Kamu keberatan ga kalau kamu sama aku. Tapi, kalau ga mau aku ga apa-apa ko.”
Rasi :”Ya, ya.Aku sama kamu aja....”
            “Emmm,,, ini kertas sekecil ini, harus di jadiin panjang?Ada-ada aja sih!”(menggerutu dengan suara pelan)
Giza :”Boleh minjem kertasnya ga? Biar aku coba.......”
Rasi : (menatap dan melihat Giza tanpa menghiraukan sekitarnya)
            *
            Rasi terus saja melihat Giza. Rasi baru kali ini melihat seseorang yang bicaranya seperti Giza, sopan. Giza juga pintar dan hormat.
            *
Giza :”Mungkin kaya gini”(sambil menunjukkan kalung yang telah dibuatnya)
Rasi :” You are so genious!”
Giza :”Kamu berlebihan kali...”(tersenyum)
Senior 1 :”Waktunya sudah habis! Sekarang kalung itu pakein ke cewe pasangan kalian!!!”
Senior 2 :”Tunggu dulu! Kita akan pilih satu pasangan dari kalian untuk masangin kalungnya di depan kita semua...”(diam sejenak)”Ini! Pasangan depan saya yang cowonya pake kacamata ayo maju!”(menunjuk Giza)
Rasi :”Hei...(sambil menepuk pundak Giza)...maksud senior itu kita?”(berbisik pada Giza)
Giza :”Ayo kita ke depan, ”(sambil menghela nafas)
Senior 1 :”Sekarang saya minta anda (menunjuk Giza)memberikan kalung ke pasangannya dengan romantis sambil bilang I LOVE YOU!”
(Giza dan Rasi tegang dan gemetar)
Senior 2 :”Cepat!! Lagipula ini hanya bohongan!Gitu aja susah..”
Giza : (memegang kalung kertas)
            “I Love You”(sambil mengalungkan kertas itu ke Rasi dengan suara yang ragu)
            *
            Saat aku dengar Giza berbicara seperti itu, aku tertunduk,,  tertunduk, dan meneteskan air mata. Aku tak sanggup melihat pujaanku mengucapkan I Love You pada yang lain.
            *
Senior 1 :”Mana tepuk tangannya?”(kemudian sekeliling  dipenuhi dengan suara tepuk tangan)
            “Eh,,, kalau bohongan ga seru ya teman-teman!Gimana kalao dia nembak beneran sekarang!!!”
Peserta Ospek :”Tembak, tembak, tembak!”(sorak peserta menyuruh Giza menembak Rasi)
            *
            Giza yang polos, tidak pernah memikirkan dirinya akan menyatakan cinta pada orang yang baru saja dikenalnya itu. Tiba-tiba Giza merasa pusing, karena itu adalah waktunya ia minum obat. Aku sangat tahu gerak-gerik Giza waktu itu dalam keadaan sakit. Aku pun langsung mengacungkan tangan sambil  memanggil salah satu senior.
            *
Ana  :”Kak!”(sambil mengacungkan tangan)
(seorang senior perempuan menyuruh Ana ke depan)
Senior :”Ya,, ada apa?”
Ana  : (berbisik di telinga senior)
Senior :”Kalau begitu, silahkan...”(mengizikan Ana untuk mengambil Giza yang sedang berdiri di depan peserta Ospek)
            *
            Aku menghampiri Giza yang sudah lemas itu. Giza dan Aku meninggalkan lapangan. Benar saja, sebelum kami menuju tas Giza untuk mengambil obat, Giza jatuh pigsan. Giza segera dibawa petugas kesehatan di sana dan aku segera berlari mengambi obat Giza, lalu ke ruang kesehatan menunggu sahabatku ..
            *
Ana  :”Za, lama banget sih. Ayo bangun Za..”(khawatir)
Petugas kesehatan:”Teman kamu pusing? Ini obatnya!”
Ana  :”Iya, makasih. Tapi dia punya obat pribadi kak..”
Petugas kesehhatan :”Kalau begitu saya tinggal dulu ya...”
Ana  :”Makasih, Kak!”
            *
Giza : (batuk)”Ana...obatnya sini”
Ana  :”Ini, Za,”(mengambil obat dan air mineral)
Giza :”An, tadi ko kamu bisa ngambil gue di lapang sih? Kamu pemberani juga ya...(tersenyum)
Ana  :Ini demi kamu, Za(di dalam hati)
          “Baru tahu ya....”(bergurau)
Giza :”Kamu tadi izinnya gimana emang”
Ana  :”Aku bilang kalau kamu kecapean, suka muntah-muntah.. Peace dan maaf aku cuma bisa ngomong itu”.
Giza :”Ngga gitu kali Ana! Gimana kalo semuanya denger? Ada-ada aja kamu ini..”
Ana  :”Aku bilangnya bisik-bisik aja ke seniornya. Aku juga ga akan bicara di depan semua orang kali...”(tertawa)
Giza :”Ana, Ana,.  Kamu  memang pintar. Aku sangat beruntung punya sahabat seperti kamu”(sambil menggeleng-gelengkan rambut Ana)
            *
            Hari terakhir Ospek pun selesai. Giza dan aku lega,begitu juga peserta lainnya lega mendengar itu dan mereka siap menimba ilmu di Universitas yang dibanggakan itu. Saat aku dan Giza asyik mengobrol sambil makan di kantin, ada seorang cowo menghampiri kami.
            *
Dani :”Hei!”(menepuk pundak Ana)”Masih ingat kan sama gue?”
Ana  :”Emmmm Oh ya,,,, Dani kan?”
Dani :”100% buat loe., by the way loe belum ngasih tau nama loe ke gue...”
Giza :”An, suruh dia duduk kali,,,,,jahat amat”
Ana  :”Oh, ya...Dani, kamu duduk di sebelah Giza..”
Dani :”Okay my friend!!!”
Ana  :”Kenalin, aku Ana, dan ini Giza”.
Dani :”Ana,meskipun aku kecewa sama kamu, aku tetep mau jadi sahabat kamu”(dengan nada jealous)
Ana  :”Kecewa? Kenapa?”(heran)
Dani :”Ngga, aku bercanda aja ko”.
            “Selamat ya, buat kalian. Dari kapan kamu jadian sama Ana, Za?”
Giza : (tersedak air minum)”Kita ga pacaran. Kita cuma sahabatan sejak SMA, makanya kita akrab”.
Dani :”Hah? Cuma sahabat? Asyik, nih....”
Ana  :”Kenapa asyik?”
Dani :”Oh.ngga”
            “Emmm,boleh ga aku masuk jadi daftar sahabat kalian.Boleh ya An?An?””
Ana  :’Tanyain sama Giza aja..”
Giza :”Ya, boleh lah, masa ngajak jadi sahabat ditolak. Aku sih welcome aja.”
Dani :”Za, ngomong-ngomong kamu kan yang waktu itu nyatain cinta sama seseorang di Ospek??”(bertanya penasaran)
Giza :”Oh ....iya”.
Dani :”Gimana rasanya, Za?”
Giza :”Ya, malu lah di depan banyak orang gitu! Untungnya itu Ospek aja, jadi peserta lain juga ga serius nanggapin momen itunya. kamu juga ga percaya kan aku waktu itu nyatain gitu?”
Dani :”Gimana aku bisa percaya,,, waktu itu yang ada di pikiranku cuman ngebayangin rasanya kalau aku di posisi kamu. Saking tegangnya, aku sama sekali ga nanggepin kalo kamu  lagi nyatain cinta”
Giza :”Bagus lah..”
Dani :”Terus, aku suka bingung kenapa waktu itu Ana langsung bawa kamu ke luar lapangan? Ada apa emang”
Ana  :”Udahlah jangan bahas tentang Ospek mulu. Kepo amat sih?”
            *
            Giza kemudian mengambil obat di sakunya. Dani terlihat bingung melihat Giza yang langsung menelan obat itu.
            *
Dani :”Za, tuh obat apaan?”
Ana  :”Itu vitamin”.
Giza :”Iya, Dan,,  lagi sariawan”.
Dani :”Aku  aja ya  yang lagi sariawan segede jempol(sambill membuka mulutnya) kaga pernah pake vitamin segala.Lebay banget sih kamu...”
Ana  :”Dani, bukan Giza yang lebay. Tapi kamu yang ga sayang sama tubuh badan kamu. Masa sariawan segede jempol di biarin....”
Giza :”Udah udah,..Kenapa sih! Kita pulang sekarang aja yu!”
Ana  :”Dan, kamu mau bareng ga?”
Dani :”Iya dong sahabat......”
            *
            Giza, aku, dan Dani pun pulang bareng. Karena tidak searah, Dani pulang terlebih dahulu. Rumahnya juga tidak jauh dari kampus itu. Kami bertiga masih satu perumahan.
Di gerbang kampus, aku baru ingat kalau ternyata aku melupakan sesuatu. Hpku tertinggal. Dalam waktu yang sama pula, Rasi juga baru pulang dari kampus itu.
            *
Ana  :”Za, Aku.......ada yang ketinggalan deh, tunggu dulu disini bentar ya.”(tampak bingung)
Giza :”Gue nunggu disini ya”(menunggu di gerbang kampus)
Rasi :”Hei, kamu yang waktu itu....(belum selesai bicara)
Giza :”Yang jadi pasangan aku di Ospek kan?”(menebak))
Rasi :”Ya, by the way........kita belum kenalan. Namaku Rasi”(memberikan tangannya)
Giza :”Aku Giza, kamu baru pulang juga?”
Rasi :”Ya, ada pendaftaran club dance gitu, aku ikutan.”
Giza : (berhenti sejenak)”Nama kamu lucu Rasi?”
Rasi :”Kamu juga, nama Giza itu jarang loh..”
Giza :”Mudah-mudahan besok kita bisa ketemu lagi...”(tiba-tiba ia langsungmerasa pusing)
Rasi :”Amiin. Za, kamu pulang bareng siapa?”
(belum sempat menjawab prtanyaan Rasi, Giza kemudian langsung jongkok lemas. Dari jauh, aku berlari dan langsung mengajak Giza berteduh mumpung ia belum jatuh pingsan, Rasi melihat Giza sangat gemetar dan ia merasa aneh pada Giza, Ia juga mengira kalau aku adalah pacarnya Giza. Rasi pun pulang sendiri karena tidak enak melihat Giza dan aku berdua disana.
            *
Ana  :”Za, padahal kan tadi obatnya udah dimakan. (sambil memberi minum Giza di pos dekat gerbang)
Giza :”Aku juga ngga tau, An? Mungkin harus makannya dua kali ya.....”
Ana  :”Kamu harus iku aturan, kalau tulisannya 1 × 1, berarti udah segitu.......Mungkin kamu  terlalu kecapekan”.
Giza :”Mungkin cape aja ya,”
            “Yu,pulang sekarang aja....”
            *
Esoknya
Giza :”Ke  kantin yu, An?”
Ana   :”Oke, yu...”
            *
Ana  :”Tuh,, Dani udah nunggu kita kayanya”.(menghampiri Dani yang duduk sendirian)
Giza :”Hei, Dan! Kamu sendiri?”
Dani :”Aku nunggu kalian kalleeee..(nada kesal)
Ana  :”Maaf kalau nunggunya lama, Dan”,
Dani :”Kalau kamu yang minta maaf mah pasti dimaafin lah.”
(seperti biasa, Giza minum obat lagi siang iitu)
Dani :”Giza.....Giza. Belum sembuh juga kamu...Sariawan apanya sih?”(heran)
Giza :”Segitu perhatiannya sama sahabat baru kamu, sampai kepoin masalah sariawan...”(nada bercanda)
Dani :’Iih, GR,,,,,,udah, aku ga jadi nanya”.
(Dani pun nngobrol dengan dua sahabat barunya ittu dengan penuh keceriaan dan keakraban)
Giza :”Ana, Dani! Aku ke sana dulu ya, pengen yang pedes-pedes!”
Dani :”Za, aku beliin ya...Ana juga!Hehe”
            *
Rasi :”Hei, ketemu lagi Za, Kamu suka pedes juga?”(di depan pedagang kentang goreng)
Giza :”Kalau manis terus, nanti semut kelaparan , kasian.
Rasi :”Hah?Emmm.........Ooooh, ya, Kamu bener, Za.Aku lemot, hehe...”
Giza :”Mau makan bareng aku sama temen-temen ga?”
Rasi :”Tapi, aku juga udah ditungguin sama temen-temen..”
Giza :”Oh, ya ngga apa-apa sih”.
Giza :”Eh ,Za. Nanti pulangnya boleh ga kita ketemuan dulu.Ngga jauh-jauh ko, di taman kampus aja..”
Giza :”Oh,Oke.....aku kesana dulu ya!”
            *
Dani :”Lama amaaaat,tidur dulu?”
Giza :”Aku ketemu Rasi,kita ngobrol dulu bentar..............”
Ana  :Rasi? Ko kayanya Giza bisa seakrab itu sama Rasi? Siapa itu Rasi? Aneh, aku belum pernah liat Giza nngobrol sama cewe yang ia baru kenal...Apa  ini yang namanya cemburu?(didalam hati)
Giza :”Woiii,..... Hei,......Hello,., hello Ana! Melamun itu bisa jadi kebiasaan tau.....”
Ana  :”Hah”(kaget sambil tersenyum malu)
            *
            Seperti biasa aku, Giza, dan Dani pulang bareng........
Giza :”ku,..ada janji.Emm ketemuan sama Rasi di Taman. Kalian mau duluan apa nungguin?”
Ana  :”Aku nunggu kamu aja, Za!”
Dani :”Ya,...aku sih terserah Ana aja”.
            *
            Ketika Giza pergi  meninggalkan kami berdua. Aku dan Dani berdua disana. Dani sebenarnya suka denganku, tapi ia malu mengungkapkannya
            *
Nampaknya Rasi jajan dulu di luar kampus. Jadi, begitu Giza menuju Taman, Rasi tidak ada di sana.Giza melihat kanan kiri, kemidian ia melihatnya diluar gerbang kampus belakang sedang membeli sesuatu. Ketika Rasi menyebrang, sebuah mobil melintas menujunya,
            *
Giza :”Rasi, awas!!!”
(Giza berlari dan mendorong Rasi ke luar jalan.Bahu Rasi mengenai roda pedagang di sana.Sedangkan Giza terguling ke rumput samping jalan itu)
            *
            Namanya juga laki-laki. Giza yang terluka langsung terbangun dan menghampiri Rasi. Rasi mengalami lecet di bahu kanannya. Sedangkan Giza memar di lutut, sikut, dan di telapak tangannya. Giza segera membawa Rasi ke ruang kesehatan. Asi yang lemas terus melihat Giza yang begitu perhatian mengangkatnya ke ruang kesehatan di kampus.
            *
Giza :”Kamu ga apa-apa kan?”
Rasi :”Cuma lecet aja, kamu sendiri gimana,Za?”
Ana  :”Giza!”(tersenyum lega , tapi panik)
            “Aku denger kamu ketabrak?”(khawatir)
Dani :”Lagian kamu malah ke jalan, katanya mau nemuin Rasi di Taman...”
Giza :”Aku udah ketemu ko sama Rasi, ini Rasi”(melihat Rasi yang terbaring di tempat tidur ruang kesehatan)
Rasi :”Hai, aku Rasi (sambil terbaring masih sedikit lemas)
Ana  :”Hai, Rasi,...
            “Dan, kita ke luar yu.Giza kan ketemuannya sama Rasi, bukan kita”(jutek dan agak kesal)
Giza :”Makasih An, Dan.....”
(Ana dan Dani menunggu di luar)
            *
Rasi :”Za, makasih ya, kalau kamu ga disana, mungkin aku udah di rumah sakit sekarang”.
Giza : (tersenyum)”Bentar ya, Ra...”(sambil ke luar ruangan)
            “Ana, kamu bawa kan?”
Ana  :”Ini....(sambil memberikan obat Giza dengan wajah sedikit murung)
Giza :”Kamu kenapa An? Sakit juga?”(sambil memeganh pipi dan kening Ana)”Iiih, panas banget An, mendidih! Udah....jangan cemberut ah!jelek tau..”
Ana  :”Giza, udah ah ga lucu!!”(sambil melepas tangan Giza yang ada di keningnya itu)
            Ternyata.........Giza masih perhatian sama aku (dalam hati, Ana senang)
Dani :”Iya nih Za! Dari tadi aku ajak ngomong ga pernah dijawab. Kenapa? Kamu sakit beneran?”(sambil memegang kening Ana)
Ana  :”Idiiih, apa sih Dan? Aku baik aja!”(tidak mau di pegang Dani)
Giza :”Aku ke dalam lagi ya.......”(masuk ruangan)
(Giza minum obat yang diberikan Ana itu disamping Rasi)
Rasi :”Aku yang ngebaring di sini, ko kamu yang minum obat?”Lucu deh”(tersenyum)
Giza :”Ini vitamin ...”
Rasi :”Za, temen-temen kamu di luar ga apa-apa nunggu?”
Giza :”Ngga lah. Mereka baik ko,tenang aja...”
Rasi :”Mereka pacaran, Za?”
Giza :”Ngga. Ana dan Dani ga pacaran. Ana itu.....(belum selesai bicara)
Rasi :”Oh....(memotong pembicaraaan,,,,Rasi menganggap  Ana itu benar-benar pacar Giza)
            “Za, aku boleh minta nomor kamu ga? Kalau ngobrol lama di sini, aku ngga enak  sama temen-temen kamu di luar”(sambil memberikan Hpnya)
Giza : (memasukkan nomor Hpnya)
Rasi :”Makasih ya, Za. Aku pulang sekarang aja, temen-temen kamu udah nunggu lama”.
            *
Rasi :”Ana, Dani, maafin aku ya.....Karena aku, kalian nunggu lama”
Giza :”Ngga apa-apa kali Ra!Ana dan Dani juga ngerti keadaan kamu...”
Ana  :”Iya, aku ngerti keadaan kamu, Za.”(menatap pada Giza saja)
(Ana terlihat kurang suka pada Rasi)
Dani :”Tenang aja Ra, kita ngerti loe..”
Giza : (tersenyum)”Untung aja Dani ngomong gitu.Kalau ngga, gur takut Rasi ga enak perasaannya denger Ana bicara (dalam hati)
            *
            Rasi pulang dijemput Ayahnya. Sedangkan tiga sahabat itu seperti biasa pulang bersama.....
            *
            Di rumah, Rasi mondar-mandir sambil memegang Hpnya. Ia ragu untuk menelepon Giza, Tapi akhirnya ia memberanikan dirinya. Di waktu yang sama,Giza sedang menonton TV di kasur kamarnya.Hpnya pun berbunyi....
            *
Giza :”Halo?”
Rasi :”Hai, Za.Coba tebak ini siapa?”
Giza :”Rasi?”(menebak dengan cepat)
Rasi :”Right!!Ko tau sih Za?”
Iyalah, dari suaranya aja aku udah bisa tau...”
Za, aku ga tau kenapa sekarang aku nelpon kamu...”
Giza :”Aneh...Kangen?”
Rasi :”Emmm mungkin. Oh ya, maaf lagi yang tadi siang ya,......”
Giza :”Aduuh, Ra! Masih aja kamu mikirin itu. Ana sama Dani ga apa-apa ko”
Rasi :”Oya, Za, kamu inget ga waktu pertama kita kenalan di gerbang waktu itu?”
Giza :”Ingat, memang ada apa?”
Rasi :”Kamu waktu itu lagi sakit ya?”
Giza :”Oh,...iya mungkin lemes aja..”
Rasi :”Ko bisa pas banget ya. Pas kamu mau jatuh, Ana langsung ada di sampig kamu. Dia lari loh dari jauh...”
Giza :”Ana itu baik banget dan dia yang paling ngerti aku dari dulu sampai sekarang.”
Rasi :”Oooh, Ana itu...(mau bertanya soal Ana pacar Giza atau tidak) Eh,,ngga jadi deh Za?
Ana itu apa?”
Ngga,,,, ga penting ko..”
Eh, Ra. Kayanya ini udah malem banget. Cepet tidur biar besok ga ngantuk. Kita lanjutin besok ya..”
Rasi :”Oke,, Hoooaaam!(suara Rasi menguap)See you Za!”
            *
            Esok hari di sepulang dari kampus Giza dan Rasi ketemuan di taman belakang. Kali ini aku  harus tahu, jadi aku terus membuntuti Giza. Aku ingin tau seberapa dekat Giza dengan Rasi.
            *
Ra, udah lama nunggu?”
Barusan ko Za”
By the way, kamu mau ngomongin apa?”
Cuma mau ngobrol-ngobrol aja ko,ga ganggu kan?”
Nggalah...tenang aja”
Oya, Za. Ana itu.....setia banget ya sama kamu?”
Iya banget. Dia cewe paling baik. Pokoknya dia adalah sahabat yang gak pernah ada yang akan bisa gantiin dia buat gue”.
Hah? sahabat?”
Ya, ada apa Ra?”
Sahabatan aja?”
Ya ampun aku ini emang muka bohong ya...”
Tapi,..kamu berharap ke dia?”
Berharap??  Maksud nya.... pacaran?”
Ya,,,, mungkin iya..”
Ga lah. Kita udah sahabatan dari SMA. Aku ngerti dia, dia ngerti aku. Kita sebatas sahabat aja, ga lebih...”
            *
Mendengar itu, aku yang berdiri di samping pohon besar dekat Giza dan Rasi hanya bisa duduk menangis mendengar Giza yag menganggap kita tidak lebih dari sahabat. Padahal, aku begitu mencintai Giza. Tapi, aku tidak bisa memaksakan perasaan Giza, asalkan Giza senang, aku juga merasa senang walaupun hatiku sangat sakit.
            *
Za, maaf ya. Aku  kira kamu sama Ana itu pacaran.Makanya aku agak jutek waktu itu.
Udah...yang penting sekarang ga ada lagi salah paham di antara kita.(sambil memberikan jari kelingkingnya)
 (membalas dengan mengaitkan kelingkingnya itu)
            *
            Nampaknya, Rasi juga menyukai Giza. Walaupun mereka baru bertemu beberapa hari yang lalu, tapi Rasi merasa kalau Giza itu berbeda. Giza adalah cowo yang klop di hatinya. Begitu pun Giza, ia menganggap Rasi adalah cewe yang juga nyaman dengan dirinya. Di lain pembicaraan, Ana yang sedang merenug di taman keudian dihampiri Dani dari belakangnya.
            *
Ana, kenapa kamu?”
Ngga Dan, cuma kelilipan...”
Ana,,,, boleh gak aku ngomong sesuatu sama kamu...”
 (Ia sudah mengira kalau Dani pasti akan nembak dia saat  itu)
            “Ngomongin apaan Dan?”
Ana,, sebenarnya dari pertama aku ketemu kamu, aku udah suka sama kamu..Boleh kan aku jadi pacar kamu?”(sambil memberi bunga kecil)
*
“Aduuh, aku harus menjawab apa!,, Hatiku hanya untuk Giza, tapi Giza hanya menganggapku sahabat saja. Mungkin, aku terima saja Dani ya.., meskipun hatiku tidak memihak pada Dani)
Ana  :”Iya, Dan..”(menerima bunga)
Dani  :”Ana, aku ga mimpi kan? makasih Ana ku....”(sanat gembira)
Ana :”Tapi, kamu jangan mudahjealous ya kalau aku lagi baareng sama Giza. Kamu bisa ngerti aku ya, Dan...”
Dani :”Siap ayang...Pokonya meski kamu bareng sama orang terkeren di dunia dan sejealous apapun aku sama kamu, aku ga akan marah. Aku tetep cinta sama kamu,,,”
Ana  :”Gombal kamu Dan”.
            *
Giza :”Halo, Ra?”(mengangkat telpon di malam hari)
Rasi :”Maaf aku jam segini nelpon kamu...Aku ga bisa tidur nih...”
Giza :”Gitu ya,kenapa?? Jangan bilang ga bisa tidur karena mikiin gue? hehehe...”
Rasi :”GR banget sih Za! emmmmm..Iya deh, aku ngaku ...aku sedikit mikirin....
Giza : (batuk-batuk) “Tuh kan bener kamu kangen..”(Tiba-tiba Giza langsung lemas tanpa sebab)
Rasi :”Ya udah deh, aku Cuma pengen ngobrol itu aja.Za, udah malem banget nih, aku tutup ya.”
Giza :”Ya”(suara pelan sambil menghela napas)
Rasi :”Za?Masih disitu  kan?Selamat tidur...”
(Hp Giza lepas dari genggamannya,lau jatuh ke lantai...Giza lalu jatuh pingsan)
Rasi :”Loh...ko putus. Aneh banget Giza ini...udah ngantuk berat kali ya....”
            *
            Seperti biasa Papa Giza memang suka menengok  anak tunggalnya tidur .Saat Papa masuk kamar Giza, Giza tergeletak di lantai dekat tempat tidurnya. Kemudian Papa memeganng nadi Giza. Ia begitu shock, Giza sangat lemah.
Papa :”Bi......Bi...Bibi...tolong!”
            *
            Tidak lama kemudian Giza terssadar dan papanya segera memberi obat pada Giza. Lalu Giza tertidur kembali.
Papa :”Giza, jaga kondisi kam nak! Jangan biarkan Papa sedih, jangan biarkan papa sedih,Za..”
            *
Pagi hari saat di kampus, aku bingung mencari Giza di mana-mana
Ana  :”Biasanya dia jam segini lagi disini baca buku! Giza,kamu dimana?”(hampir menangis)
Dani :”Hei, Yang! Oh...pasti lagi nyari Giza kan? Mana anak itu ya?
Ana  :”Dari tadi aku nyari,,,tapi ga ada...”
Dani :’Coba telpon!
Ana  :”Udah,tapi ga aktif  Dan ...”
Dani :”Gimana kalau ke nyokap atau bokapnya?”
Ana  :”Ya, kamu benar...Bentar, aku cobaa
(Dani melihatku yang begitu perhatian terhadap Giza, ia kayanya  sedikit jealous,,Tapi mau apa lagi, ia tetap cinta denganku)
            *
Ana  :”Halo,Om?”
Papa Giza :”Ini pasti Ana kan?”
Ana  :”Iya,Om,,, emmm Gizanya hari ini ke kampus ga Om?”
Papa :”Kayanya hari ini Giza absen ...Giza sakit lagi..”
Ana  :”Hhhh....dari kapan Om?”
Papa :”Kemarin pas Om masuk kamar, Giza udah pingsan. Ga tau jelas dari kapan,,,”
Ana   :”Kalau gitu salam buat Giza, Cepet sembuh. Kalau sempat, nanti pulangnya aku kesana..”
Papa :”Iya, makasih an..”
            *
Ana  :”Dani, kamu mau ikut ke rumah Giza?”
Dani :”Iya dong yang..Masa sahabat sakit ga dijenguk”.
Ana  :”Kalau gitu, cepet....keburu hujan!Cuacanya ga enak....”
            *
Ana  :”Assalamu’alaikum Om!”
Papa :”Waalaikumsalam, Ana makin cantik aja...Uda segede gini lagi ya....”
Ana  :”Oh iya Om, kenalin ini Dani...”
Dani :”Dani, Om,,,selamat sore!Saya sahabat baru Giza dan pacarnya Ana...”(dengan suara yang tegas)
Papa :”Hah? Ana, kamu udah punya  pacar? Kamu pacar Ana?(melihat Dani) Kirain kamu ini....(sedikit kecewa karena Papa ingin Ana menjadi pacar Giza)
Ana  :”Iya, Om...(agak malu-malu)
            “Oya Om,Gizanya di mana?”
Papa :”Dia lagi istirahat di kamarnya..”
Dani :”Kita boleh masuk ke kamarnya sekarang, Om?”
Papa :”Boleh”(agak jutek pada Dani)
Dokter pribadi :”Hai, Pak Andre(papa Giza)..Maaf, saya terlambat”
Papa :”Ngga apa-apa. Silahkan masuk, Pak!
            “Ana, Dani ayo masuk...”
Dani :”Yang..!Temennya Om itu dokter ya?”(sambil berjalan, berbisik dan melihat orang yang berseragam putih itu)
Ana  :”Itu dokter pribadinya Giza...”
            *
Ana  :”Gizaa?”(sambil mengtuk pintu menunggu Giza)
Dani :”Za,   Ini kita Dani dan Ana..”
(Giza yang sedang terbaring mendengar sahabat sahabatnya itu dan segera melepas alat bantu pernafasan di hidungnya)
            *
            Karena tidak mendengar jawaban Giza, aku langsung membuka pintu kamar Giza dengan terburu-buru dan khawwatir. Aku sangat takut keadaan sahabatnya itu.
            *
Ana  :”Za!Za, ? Jangan dilepas!!!”(suara bergetar sambil berlari ke arah Giza )
Giza :”Udah ga apa ko, An..”(masih berusaha melepas alat yang menempel di hidungnya itu)
Ana  :”Za, udah...pake lagi aja. Kita ngga apa-apa kalau kamu ga bisa ngobrol dulu sama kita. Udah kamu pake lagi ya...”(nada khawatir)
Giza : (memegang tangan sahabat perempuannya itu) An,tenang deh...Aku sudah ga apa-apa kali, kamu berlebihan banget..”(dengan suara pelan sambil tersenyum)
(Dani hanya bisa melihat pacarnnya (aku) khawatir yang berlebihan dengan Giza, ia pasti sangat cemburu. Akan tetapi, ia sangat mengerti perasaanku ini. Ia juga mengerti keadaan Giza yang sedang sakit)
Giza :”Dan,,! Kamu ko diem aja? By the way, makasih udah nengok ...”
Dani :”Aku....diem karena aku bingung sama kamu, Za!”(Dani tampak mencari-cari alasan, padahal sebenarnya ia diam karena cemburu dengan sahabatnya itu)
Giza :”Kamu bingung kenapa, Dan??”(tersenyum)
Dani :”Baru kali ini kamu nemu orang selebay kamu, Za. Waktu sariawan, minum vitamin. Sekarang sakit, langsung pake alat ginian segala...”
Ana  :”Dan! Tetep aja kamu ngomong kaya gitu! Aneh aku sama kamu...”(nada pelan tapi marah)
Dani :”Bercanda ko sayaaaang.....Giza juga ngga nganggap serius kan ya, Za!...”
(Giza hanya tersenyum pada mereka)
Giza :”Hah apa tadi?? Sayang???”
            *(tiba-tiba Papa Giza masuk ke kamar)
Papa :”Giza sekarang  gimana? Baikan?”
Giza :”Udah baikan, Pah..”
Papa : (sambil membawa obat Giza ) Minum dulu ininya Za!”(menyodorkan obat yang biasa diminum Giza)
            “Oh ya...udah berapa lama pacaran sama...siapa? emm...Dani ya?
(ketika Papa berbicara seperti itu, Giza cepat-cepat meminum obatnya)
Giza :”Siapa pah??  Kalian?”(sambil melihat Ana dan Dani) Beneran? Akhirnya....Aku juga udah ngira dari awal kalau kalian bisa jadian.”
Dani :”Hehe,...baru ko, Om!”
Papa :”Giza, kamu ga gimana-gimana kan sama mereka?”
Giza :”Gimana apanya, Pah?”
Papa :”Oh,,, ngga jadi... Kalau gitu, Papa ke sana dulu ya? Kalau ada apa-apa pannggil Om ya Ana!”(meninggalkan tempat tidur Giza)
            *
Giza :”Dani, Ana...selama dulu dong!(sambil memberikan tangan kanannya)
Dani :”Za, kamu baik banget sih!”
Giza :”Baik? Apanya, Dan??”(bingung)
Ana  :”Udah....Dani cuma baru tu aja kalau kamu baik..”(sambil mengedip pada Dani menandakan sesuatu)
(Dani nampaknya tidak mengerti)
Dani :”Bukan baik tu maksud aku yaaang...Cuman...(berhenti sejenak) “Za, kamu beneran ga ngerasa gimana-gimana gitu sama aku?”
Giza :”Emang aku gimana? Ga ngerti sumpah....
Dani :”Kamu ngga marah gitu?”
Giza :”Ya ngga lah...(Giza masih bingung mengapa Dani bertanya seperti itu. Padahal maksudnya apakah Giza cemburu atau tidak pada Dani dan Ana) Malah gue seneng,, karena sekarang loe ada yag ngurusin, Dan! Ya kan, Ana?”
Ana  : (hanya tersenyum sambil memegang selimut Giza )
Giza :”Emmm....(berhenti sejenak)
            Ana, kita bisa ngobrol bentar ga di sini? Boleh,kan??”
Ana  :”Boleh lah.... Dani, kamu ga keberatan kan nunggu bentar aja di luar?”
Dani :”Oh oke An, tapi bentar aja ya,....”
            *
            Dani pun keluar kamar dan berjalan ke ruang tengah. Dani melihat Papa Giza mengobrol dengan dokter pribadi Giza. Ia pun mengintip jauh mereka dan ia sedikit mendengar pembicaraan mereka.
Papa :” Pak Feri (sebutan dokter pribadi Giza)Gimana hasil test kesehatan Giza waktu itu?”
Dokter : (menarik napas) “Ini hasilnya “(sambil memberikan laporan hasl tes)
Papa :”Pak Feri,apa maksudnya ini?”(setelah melihat semua laporannya)
Dokter :”Ya, Pak Andre ...itu adalah hasil test kesehatan Giza yang benar-benar murni...Keadaannya sudah sangat parah”
Papa :”Tapi, berapa lama Giza masih bisa bertahan?”
Dokter :”Mungkin hanya beberapa hari, Pak Andre...Saya dan tim sudah berusaha sebisa mungkin, tapi memang penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Kecuali takdir Tuhan berkehendak lain...”(sambil menepuk pundak Papa Giza)
Papa :”Astagfirullahaladziim...Ya Tuhan...”(menutup wajah dengan kedua tanganya  sambil menangis)
            *
            Dani sangat panik dan tidak percaya penyakit yang ada pada sahabatnya itu bisa separah yang dikatakan Dokter. Ia semakin empati pada Giza dan semakin mengerti keadaan Giza.
            *
Ana  :”Giza, ada apa?”
Giza :”An, Dani ga tau kan gue sakit apaan?”
Ana  :”Tenang aja Za..Ngga tau ko...
Giza :”An, aku takut kamu berubah..”
Ana  :”Berubah gimana,Za?”
Giza :”Aku takut ga ada lagi yang perhatiin aku nanti..Papa, Dani, dan yang terpenting kamu, An..”
Ana  : (tersenyum) sebenernya aku sangat sayang sama kamu,Za dan itu ga akan pernah berubah ..(di dalam hati)
(Ana pun duduk dan membereskan selimut Giza)
Giza :”Kamu memang sahabat terbaikku.. Aku sayang sama kamu, Ana..(lalu memeluk Ana)
Ana :”Aku juga, Za...cepet sembuh ya...”
(Dani idak sengaja melihat Ana memeluk Giza, Tetapi saat ini, Ia semakin mengerti keadaannya)
Ana   :”Dani, kita pulang yu....Giza perlu istirahat..(sambil ke pintu luar pintu kamar melihat Dani)
Dani :”Oke,,,yu ana sayang...
            “Za, jaga diri loe baik-baik ya...”
Ana  :”Kita pulan dulu, Za...!”
            *
(Di perjalanan pulang dari rumah Giza, mereka berjalan)
Dani :”An, kamu sahabat Giza dari SMA kan?”(berhenti berjalan lalu memegang tangan Ana)
Ana  :”Iya, Dan...
Dani :”Sekarang kamu jujur sama aku. Giza itu sakit  kan?”
Ana  :”Seperti yang kamu liat tadi, dia emang lagi sakit..”
Dani :”Maksudnya itu,....Dia bukan sakit biasa kan? Tolong jawab Ana sayaaang, please..”
Ana  :”Kenapa kamu ngotot kaya gitu,Dan?”
Dani :”Sayaaang ....(mencoba menahan emosi Ana)
            “Tadi aku ga sengaja denger pembicaraan Papanya Giza dengan Dokter itu..”
Ana  : (langsung kaget dan menatap Dani)
Dani :”Mereka bilang,.....Giza sudah sangt parah. Ia Cuma bisa bertahan dalam hitungan.....HARI....(Nada pelan)
Ana  : (menangis terisak)
            “Dia itu...kena LUPUS, Dan!”(langsung memeluk Dani dan menangis)
Dani :Ya Allah...
            “Udah sayang, aku ngerti perasaan kamu...”
            *
Giza menelepon Ana malam itu
Giza :”Halo, An?”
Ana  :”Giza? Kamu udah sembuh? Kamu belum tidur?:”
Giza :”Bahkan lebih baik dari sebelumnya,An..
            “Oya,...besok di kampus pas istirahat tunggu gue di taman ya?”
Ana  :”Iya Za...”
Giza :”Udah itu aja...Cepet kamu tidur,jangan sampe kurang tidur..!”
Ana  :”Selamat tidur ..”
            *
            Perasaanku saat itu sangat senang karena Giza akan hadir di kampus besok...
Sementara itu, Rasi yang sedang di rumahnya juga membayangkan Giza, Ia juga heran mengapa ia bisa menyukai cowo secepat itu. Padahal, baru satu minggu ia kenal dengan Giza.
            *
Ana  :”Za, udah lama nunggu?”
Giza :”Ngga lama ko Ana..”
Ana  :”Ngomong-ngomong, ada apa Za...”
Giza :”Ana, kapan ya...aku bisa punya pacar kaya kamu sama Dani?
Ana  : (menatap Giza)”Za, kalau masalah itu, kehendak Tuhan. Kamu bisa menemukannya saat pertama kali bertemu atau orang yang sering banget ketemu kamu, Za..”
Giza :”Kamu bener Ana..”
(aku berharap Giza sadar akan diriku yang selama ini menyayanginya dari dulu)
Giza :”An, aku suka sama...Rasi..”
Ana  : (berwaajah sangat kecewa)”Emmmm Rasi yang waktu itu ketemuan sama kamu?”
Giza :”Iya....
(Tidak dipungkiri Ana memang kecewa, tapi memang itulah pilihan Giza)
Ana  :Yang penting kamu bahagia Za...(di dalam hati mencoba tegar)
Giza :”Tapi, aku takut ga ada waktu lagi buat ngungkapinnya..”
Ana  :”Sekarang aja, Za. Pulangnya....kamu bisa langsung temuin Rasi...”
Giza :”Apa aku bisa?”
Ana  :”Kamu pasti bisa, Za (memberi semangat pada Giza dengan hati yang menangis)
Giza :”Aku latihan dulu disini ya....
            “Ana, kalau aku  masih ada waktu, aku bakal nembak lansung ke Rasi. Tapi, kalau waktu ga mendukung, aku minta kamu buat katakan pernyataan aku ke Rasi ya...”(serius)
Ana  :”Kamu jangan bicara gitu Za. Jangan bicra soal waktu.....Kamu pasti bisa...”
Giza :”Ya Ana aku bercanda aja ko,,”(Giza nampaknya punya firasat buruk dengan keadaannya)
            “Ana, kamu duduk depanku, ya?”
(Aku pun duduk di  depan Giza dengan hati yang sakit karena Giza akan latihan menembak Rasi dengan dirinya)
Giza :”An, kamu ngga keberatan kan jadi Rasi dulu. Ceritanya  aku mau latihan nembak Rasi... Biar ga gerogi... HeheheJ
Ana  : (hanya terdiamdan meng-iyakan)
Giza : (berhenti sejenak)
            “Emm... aku sayang sama kamu (sambil memegang tangan Ana)
Ana  : (mendengar Giza berbicara seperti itu, Ana menangis)
Giza :”Aku sayang sama kamu..”(kemudian memeluk Ana)
            *
            Tanpa sepengetahuan kami, ternyata ketika Giza memberi pernyataan tersebut, Rasi tidak sengaja melewati tempat dimana Giza dan aku duduk disana. Ia mendengar pernyataan cinta yang dilontarkan padaku dan ia melihat Giza memelukku. Arhh...Rasi menyangka Giza menembak Ana sahabatnya. Ia pun langsung pergi sambil menangis...
            *
Giza :”Makasih Ana,... Sekarang aku sudah lega...”
Ana  :”Za, aku dan Dani dukung kamu untuk nyatain perasaan kamu ke Rasi. Kita slalu ada di samping kamu..””
Giza :”Pulangnya.... aku akan coba..”(menarik napas)
            *
            Sepulangnya dari kampus, aku segera memberi tahu Dani kalau Giza akan menembak Rasi. Kami segera menemui Giza yang biasa duduk di koridor kampus sambil mendengarkan musik itu...
Dani :”Za, udah siap??”
Ana  :”Za, kita dukung kamu. Ayo nyatain sekarang...!”
Giza : (menarik napas)”Biasanya jam segini Rasi ada di taman...”(sambil mengajak kedua sahabatnya itu ke taman belakang kampus)
Ana  :”Itu... Rasi, kan???”(menunjuk ke arah Rasi yang sedang duduk di bawah pohon)
(Rasi sebenarnya patah hati setelahmelihat Giza tadi. Ia disana berusaha menenangkan dirinya)
Dani :”Ayo samperin,Za!”
(Giza menghampiri Rasi dari belakang)
Giza :”Rasi!”
Rasi :”Eh kamu, Za..”(sambil mengusap sebelah matanya yang terlihat meneteskan air mata, lalu berpura-pura memanggil temannya karena tidak ingin bicara dengan Giza)
            “Hei... tunggu bentar... aku ikut!!!”(melambai kearah temannya, Rasi mencoba menghindar dari Giza)
Dani :”An,, itu si Rasi kenapa gitu sama Giza. Biasanya ga gitu dia sama Giza..”
Ana  :”Iya.... nggak basanya dia seperti itu..”
(lalu Ana dan Dani segera menghampiri Giza)
Ana  :”Za... (ragu dan khawatir)
Dani :”Za, dia belum pergi jauh... Kalau kamu memang cinta sama Rasi,cepat kejar dia!”
(Giza melangkah pasti ke arah Rasi)
Giza :”Ra,...Ra! Bentar, aku  mau....
Rasi :”Maaf Za” (memotongpembicaraan) Sekarang aku ada urusan!!”
(Giza terlihat kecewa lalu berbalik arah ke belakang )
Ana  :”Giza, mungkin ini bukan waktu yang tepat...”(khawatir dan sedih)
            *
            Dani penasaran dengan tingkah laku Rasi yang berubah pada Giza. Dani meninggalkanku dan Giza tanpa pemberitahuan. Ia mengikuti kemana Rasi berlari...
            *
Dani :”Tuh kan! Aku bener...”(melihat Rasi yang duduk termenung di taman samping kampus)
(Dani segera meneleponku dan memberi tahu keberadaan Rasi)
Dani :”Sayang! Aku tahu dimana Rasi. Dia di taman samping kampus. Rasi bohong, dia ga ikut sama teman-temannya!”
Ana  :”Oke,,, nanti kita kesana! Makasih Dan..”
            “Za, Rasi ada di taman samping kampus kata Dani. Ayo buruan kita kesana...”
(Giza pun segera menuju taman dan ia melihat Rasi terdiam di sana)
Dani : (Dari belakang Giza)”Za, masalah dia terima atau ngga itu belakangan. Yang penting kamu bilang dulu ke dia biar kamu lega”
Giza :”Kamu bener, Dan. Kalian tunggu disini...”
            *
Giza :”Ra, (langsung memegang tangan Rasi dari belakang)
Rasi :”Apa lagi, Za!”
Giza :”Kamu kenapa Ra?”
Rasi :”Aku ada urusan, aku mau pergi Za, Lepasin!”
Giza :”Aku bener-bener ga ngerti Ra, kamu ini kenapa? (lalu melepas tangan Rasi)
Rasi :”Harusnya bukan kamu yang nanya. Tapi  aku yang harus nanya kamu yang kenapa? Udah, Za aku ga mau ketemu kamu sekarang!”(pergi meninggalkan Giza)
Giza :”Sekarang... dan mungkin untuk selamanya, Ra..”(Giza kecewa)
(Rasi mendengar kalimat terakhir tadi tang diucap Giza dan ia tampak bingung)
“Ko dia malah bicara “untuk selamanya” sih... dia tega....,”gumam Rasi.
            *
Ana  :”Ihh..(sambil memukul batang pohon)”si Rasi kenapa sih!”(nada marah, kesal, dan hampir menangis)
            “Dani, kamu sampein Giza! Tenangin dia..., aku mau nyusul Rasi..”(sambil pergi meninggalkan Dani)
            *
Ana  :”Hei, Rasi..!! (berlari dan langsung mengambil tangan Rasi)
Rasi :”Eh, An...”(berwajah lurus)
Ana  : (ingin menampar pipi Rasi, namun ia adalah orang yang pandai mengendalikan emosinya)
(Rasi terdiam dan kaget)
Rasi :”Ada apa kamu ini? ”(kaget melihat Ana yang sudah mengurungkan niatnya untuk menampar Rasi)
Ana  : (menarik napas) ”Kamu tega ya? Bikin Giza seperti itu?”
Rasi :”Jadi ini masih berkaitan sama Giza? Terus apa urusan kamu, An?
Ana  :”Ra, kamu pikir matang-matang. Jangan perlakuin Giza seperti itu!”
Rasi :”Aku ga ada urusan sama kamu, An...”(hendak pergi)
Ana  :”Ra, dia rela nungguin kamu di ruang kesehatan, dia rela korbanin nyawanya demi nyelametin kamu, dan tadi..dia rela lari-lari kecapekan cuma buat nyamperin kamu, padahal sekarang dia lagi...”(tidak melanjutkan pembicaraannya)
Rasi :”Ko jadi kamu yang marah... Aku juga perempuan, An! Seharusnya aku yang marah sama kamu..”
Ana  :”Apa maksud kamu, Ra! Yang jelas, kamu udah ngecewain Giza tadi. Aku kira, kamu suka dan sayang sama Giza, makanya aku dukung dia buat nyatan cinta sama kamu sekarang! Eh, ternyata kamu gini ..!”
Ana  :”Kamu aneh Ana! Jelas-jelas aku tadi liat Giza nyatain cinta sama kamu. Kenapa sekarang suruh Giza nyatain ke yang lain hah?”(sedikit menangis)
(Ana berpikir sejenak)
Ana  :”Maksud kamu... tadi istirahat?”
Rasi : (hanya terdiam)
Ana  :”Ra, asal kamu tahu, tadi itu Giza nyatain cinta ke kamu, lewat aku...,  tadi cuma latihan..”
Rasi :”Kenapa harus lewat kamu? Itu Cuma alasan, An!!!”
Ana  :”Kamu harus percaya, Ra! Ceritanya panjang... Aku ga bohong, Giza cuma sayang sama kamu. Jangan sia-siakan pengorbanan Giza buat kamu tadi!Aku taut dia....
Rasi :”Dia apa!?”(nada marah dan menangis)
Ana :”Aku takut dia sakit lagi,Ra!”
(Rasi langsung diam dan menyesal telah mengecewakan orang yang juga disukainya itu)
Ana  :”Sekarang, kita samperin Giza lagi,,Ra!”
Rasi :”Tapi,,, aku...
Ana  :”jangan ragu, Ra...Ayo!”
            *
            Ketika Ana menyusul Rasi tadi, Dani punlangsung menghampiri Giza yang bediri tertunduk. Tiba-tiba Giza langsung terjatuh dan kepalang tertunduk ke tanah..
Dani :’Za? Kamu ga apa-apa kan?”
(Giza hanya menggelengkan kepalanya)
            *
Tidak lama kemudian,Giza pingsan dan terbaring di tanah,,,
            *
Dani :”Za, Za? Kamu kenapa? (kemudian Dani meminta pertolongan dan segera membawa Giza ke rumah sakit)
            *
            Ketika Ana dan Rasi ke tempat Giza dan Dani tadi, ternyata mereka sudah tidak di sana..
Ana  :”Giza, Dani?”(lalu bola mataya langsung tertuju pada tempat Giza tadi berdiri)
            “Emm...ini kan...?”(sambil menemukan obat Giza yang tergeletak di tanah)
Rasi :”Itu apa, An?”
Ana : (menangis terisak)”Dia ga bisa bertahan tanpa obat ini........”
Rasi :”Hah?”(meneteskan air mata)
Ana  :”Halo,,,, Dani, dimana Giza?”(tampak terburu-buru menelepon Dani)
Dani :”Giza tadi pingsan. Sekarang kita di rumah sakit. Kamu kabarin Papa Giza, nanti aku kirimin alamatnya ke kamu..(Dani juga tampak panik)
            *
Ana  :”Halo, Om!”
Papa :”Ana? Ada apa...?”
Ana  :”Giza sekarang di rumah sakit....”
Papa :”Giza? Ruangan apa, An?”
Ana  :”Mawar nomer 2, Om...nanti dikabarin lagi ya,”(menutup telponnya)
            *
            Kemana-mana Ana tidak pernah membiarkan tangannya melepas Rasi. Ia sangat ingin Giza bertemu Rasi.Ia langsung mengajak Rasi ke rumah sakit..
            *
Rasi :”An, sekarang kita ke rumah sakit?”
Ana  :”Iya, kamu harus ikut. Kamu harus ketemu Giza!”
Rasi : (heran)
(didalam hati ia berpikir mengapa Ana sangat ingin aku bertemu Giza. Padahal Rasi tahu bahwa Ana suka dengan Giza dan mungkin Ana lebih mencintai Giza daripadanya)
            *
(di rumah sakit, terlihat Dani dan Papa Giza duduk di luar ruangan Giza.Lalu, Ana dan Ras menghampiri mereka. Kemudian seorang dokter keluar dari ruangan Mawar no. 2 itu)
Papa :”Bagaimana anak saya,dok?”
Dokter :”Dia hanya kelelahan,tapi saat saya kasih obat dia tidak mau, mungkin coba oleh bapak..”(mempersilahkan Papa untuk memberikan obat yan di pegangnya  pada Giza)
Papa : (Dokter ini tidak tahu kalau Giza tidak makan obat itu <di dalam hati>)
            “Boleh kami semua masuk ruangan, Dok?”
Dokter :”Silahkan,silahkan...”
(lalu semuanya masuk ruangan kecuali Rasi)
Papa :”Za, jaga kondisi kamu, nak!”
Giza :”Cuma capek mungkin,Pah...Iya kan An?”(mengedipkan matanya pada Ana)
Ana  :”Oh iya, ini tadi jatuh di kampus...”(sambil memberikan obat pada Giza)
Giza :”Ngga usah,udah sembuh ko.....simpan, buat kenang-kenangan aja...”
Papa :”Ada-ada aja kamu, masa obat jadi kenang-kenangan..!Kalau gitu,Papa keluar dulu ya...”
(Di luar, beliau  bertemu dengan Rasi. Saat beliau menanyakan Rasi itu siapa Giza, Rasi menjawab bahwa ia teman kampus Giza. Kemudian Papa memprsilahkan Rasi masuk, tapi Rasi sendiri ragu,..)
            *
Dani :”Kamu beneran udah sembuh, Za?”
Giza :”Sebentar lagi aku udah bisa pulang ko, beneran,...”
Ana  :”Za, menurut aku, kau istirahat aja dulu di sini, Biar kalau ada apa-apa mudah nantinya. Aku yang akan absenin kamu di kampus..”
Giza :”Ana.... Ana... Kamu segitunya.Ngga usah kali...(tersenyum)
Dani :”Iya tuh Ana sayaaang. Giza bilang dia udah sembuh.(nada sedikit cemburu)
Giza :”Ohya,.. (sambil memegang pundak kedua sahabatnya yang duduk di kasur bersama Giza)”Dan, kalau misalkan temen deket kamu pergi jauh hari ini, kamu bakal ngapain?”(nada bergurau)
Dani :”Aku sih,bakalan nemenin dia sampe keberangkatannya...emang kenapa, Za..?”
Giza :”Ngga. Aku... juga bakal ngelakuin itu.Kalau kamu, An? Gimana kalau aku yang pergi jauh?”
Ana  :”Ko bicara itu sih? Ya..... kalau kamu pergi, yang pasti aku kehilangan senyum...(tersenyum dan khawatir)
Giza :”Aku ngomong ini cuman pengen bikin kalian akut kehilangan aku aja...(nada bercanda)
Dani :”Za, kamu memang paling bisa bikin kita khawatir. Ohya, aku minta maaf ya kalau sering nyebut kamu lebay ...”
Giza :”Kalau aku sih, ga pernah nanggepin itu...”(nada bergurau)
Dani :”Jadi, setiap  kali aku ngomong, kamu ga pernah nanggepin aku? Oke.... Fine bro...(tersenyum kesal)
Giza : (menepuk pundak Dani)”Keep calm... Makasih ya, Dan udah ma jadi sahabat aku...”
Dani :”Malah aku yang seharusnya makasih, kamu bikin sikap gue lebih baik.. Aku harus nyontoh kamu, sob!”
            *
Giza : (menatap Ana lalu memeluknya)”Makasih Ana, kamu sahabat terbaik aku...... selalu ada saat kamu  lemah. Pokoknya aku makasih banyak sama kalian, hari-hari kamu jadi selalu menyenangkan...
Ana  : (terisak)”Za, cepet sembuh. Kita semua sayang kamu...”
Giza : (menusap air mata Ana)”Udah, jangan cengeng.”
(kemudian masuklah Rasi dengan wajah khawatir membuka pintu perlahan kemudian berlari menuju Giza)
Rasi :”Giza?”
(lalu Giza langsug melihat Rasi)
(Rasi mendekati Giza dan langsung duduk di sampingnya)
Rasi :”Za, aku sangat minta maaf..Aku salah paham...”
Giza :”Ga apa-apa Ra, gue selalu maafin kamu..”
(Niki melihat Ana yang terus memberi isyarat padanya untuk mengungkapkan perasaan Rasi ke Giza)
Rasi :”Za, sebenernya aku sayang sama kamu,...(pelan tapi pasti)
(senyuman Giza yang teduh membuat Rasi semakin percaya kalau Giza juga sayang dengan dirinya)
Dani :”Kalau ga salah, waktu OSPEK Giza pernah bilang sesuatu sama Rasi di depan kita. Iya kan?”
            “Gimana kalau sekarang kita ulang lagi...Iya kan Za?”
Giza : (menarik napas dalam-dalam)”Rasi....(sambil memegang tangan Rasi dengan wajah pucat) I LOVE YOU..”
Ana  :”Ayo, Ra...jawab Giza...(dengan wajah senang melihat Giza senang)
Rasi : (lansung memeluk Giza erat) I love you too.Za, aku sayang kamu...”
(Ana dan Dani melhatnya dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan)
“iiih..so sweet ya,sayang?”kata Dani.
            *
            Tapi waktu tidak mengizinkan, mungkin sepuluh detik dari saat Rasi memeluk Giza, layar monitor Giza berbunyi dan menunjukan garis horizontal yang begitu lurus. Napas Giza yag lembut berhenti berhembus di pundak Rasi. Rasi yang mendengar bunyi itu, langsung berteriak...”Jangan Giza.....!!!”Ia menangis sambil terus memeluk Giza. Sedangkan Ana kaget dan juga menangis sambil memegang obat Giza. “Aku sayang kamu giza...:(“gumam Ana.
            Dani shock  dan segera memanggil Papa Giza, suster dan dokter.
“Innalillahi wainna ilaihi  roji’uun...”, suara Papa pelan hampir menangis sambil berlari ke arah Giza.
Papa :”Za, jangan tinggalin Papa,Nak!”(lalu mencium anak tunggalnya itu)
(wajah Giza yang bersinar, tersenyum meninggalkan mereka semua..)
            *
            Suster dan doktter pun datang. Mereka menutup Giza dengan sehelai kain putih dan mereka segera membawa Giza.Sedangkan Papa, Ana, Dani dan Rasi menunggu di luar...
            *
Dani : (langsung memeluk Ana)”Aku tahu kamu kehilangan Giza, sayang... Kita semua kehilangan”
Ana  : (terus menangis)Giza,,,kenapa kamu pergi secepat ini...”
Dani :”Ana, kamu ga sendiri,ada aku. Giza juga akan ada terus di hati kita, kan?” (mencoba menenangkan Ana yang terus menangis sambil memegang obat Giza)
            “Ohya, aku nemuin kertas ini di bawah bantal Giza,”
(kemudian semuanya membaca keras itu dengan penuh rasa sedih)
            Rasi hanya bisa meratapi kenangannya bersama Giza yang hanya satu minggu itu. Ia menyesal sudah pernah mengecewakan Giza. Lalu Ana memegang tangan Rasi, dan berkata, “Ra, apa yang  kamu lakuin tadi itu benar. Kamu udah nyatain perasaanmu ke Giza. Giza bakal senang disana,”Ana bicara sambil menngis dan mencoba tersenyum. Ia memeluk Rasi. Melihat  itu, Dani menghampiri dan memegang pundak mereka. “Giza adalah cowo paling baik yang pernah kita kenal”,ucap Dani. Lalu mereka semua menangisi kepergian sahabat terbaiknya itu.
___
(Tulisan Giza di dalam sehelai kertasnya)
            “Apa yang seharusnya  kulakukan sekarang... Sangat berat meninggalkan kalian semua. Papa, Ana, Dani, dan kamu ...Ra..
Saat aku ga lagi bareng kalian, aku harap kalian ga ngelupain aku. Seandainya aku masih punya waktu, aku bakal terus bareng Ana dan kamu Dani...
Aku juga bakal ngajak kamu di samping aku, Ra..”
Sahabat kalian

GizaJ