Sabtu, 18 Oktober 2014

·         cerpen ini aku buat untuk afganisme yang lagi pengen baca cerita-cerita tentang idolanya, yaitu Afgan Syahreza...
BELUM PERCAYA
"Pagi ini cerah banget,,, enaknya ngapain ya? Pr semua udah beres, tugas kelompok sekolah beres, mandi udah, apalagi ya?"
Dia adalah Tibi. Anak cantik itu memang sangat perfectsionist. Setiap tugas sekolah yang diberikan pasti selalu dikerjakan lebih awal sebelum waktunya sehingga di hari libur seperti ini ia tidak perlu cape lagi mengerjakannya.
"Dengerin lagu Afgan enak kayanya". Emm... tapi kenapa cewe itu ragu-ragu dengerin lagu idolanya itu ya? Oooh, pantas saja, Afgan idolanya itu adalah tetangganya. Ia takut nanti malah Afgan yang takut dengan dirinya yang terlaku terobsesi dengan Afgan.
...
Ayahku pindah kantor seminggu yang lalu. Aku dan ibu ikut ayah pastinya. eh, tidak sengaja pas aku beres-beres rumah dua hari yang lalu ada mobil yang melewati rumahku.
Aku yang begitu penasaran dengan tetangga baruku itu (tepatnya aku yang menjadi tetangga baru mereka)menerawang siapa yang di dalam mobil hitam itu alias KEMAL "Kepo Maksimal". OMG!! Jantungku berdebar tidak karuan, hatiku rasanya mau keluar dari tempatnya. "Apa bener aku lihat Afgan? Ko bisa?"
Aku terus melihat kemana tujuan mobil itu... dan...
"OMG!! Ko mobilnya masuk ke rumah di sebelah rumahku sih? Beneran? Aaaaaa!!!"
Aku berteriak histeris sambil menutup mulutku yang tidak bisa berhenti menganga ini... Setelah itu, aku masuk ke dalam rumahku sampai-sampai aku lupa sapu yang sedang aku pegang tadi disimpan entah dimana.
"Mamaaaaa?"
"Ada apa sayang? Ko kamu panik gitu, ada apa?"
"Ma, aku .... emmm, Ma..."
"Iya ada apa? Ga jelas gitu ngomongnya? Jadi mama ikut panik kan.."
"Mama tahu ga tetangga kita itu siapa?"
"Tahu lah, mereka itu Pa Loyd dan Bu Lola kan.. kenapa emangnya?"
"emmm... ngga ko Ma.. ya udah,  aku ke luar dulu ya ..."
Aku keluar lagi dan tidak memberitahu pada Mama tentang tetanggaku ini adalah idolaku.
...
Aku sengaja membaca koran di luar sambil duduk di kursi menunggu siapa tahu ada malaikat datang ke rumahku... tapi kira-kira mungkin ga ya?... aduuh, ko jadi dreamer kaya gini sih? Mendingan di hari Minggu ini aku lari-lari aja gitu ya ke taman deket kompleks ini.
"Mama, ingat ga Mama nyimpan sepatu sport aku dimana?"
"Di bawah tangga sayang, kamu mau kemana?"
"Tibi mau keliling kompleks sini Ma.. mau ikut ga?"
"Mama lagi sibuk nih kan nanti sore kita bikin syukuran.. kamu aja sendiri ya, hati-hati sayang"!
Kubuka gerbang rumahku dan berlari pelan sambil mengintip pagar rumah Afgan. Mana ya? Ko ga ada orang?
Hmmm... yasudah lah. Apa salahnya aku berlari sendirian? Langkah kakiku semakin lamban,, dan akhirnya lari-lari berubah mejadi jalan-jalan. Aku mengambil hp di saku jaketku yang telah terpasang dengan headset. Kumasukkan hedset ke telingaku dan segera aku memutar lagu Afgan yang berjudul "Rumahmu Jauh". Tidak terasa mulutku ternyata ikut bernyanyi, sampai-sampai ada seseorang yang mencolek pundakku dari belakang, dan aku langsung kaget karenanya.
"Hai, boleh ikut lari?"
Spontan aku mencopot headset yang menghalangi pendengaranku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. OMG! Afgan?
"Dari tadi aku panggil, eh.. kamu terus asyik dengan musik kamu.."
Afgan tersenyum memulai pembicaraannya di sela-sela perjalanan kami
"Aduh, maaf tadi volumenya diperbesar jadi ga kedengaran mungkin,, hehe.."
Aduh, gantengnya manusia ini.. sungguh beruntung bisa jalan sama Afgan.....
"Ngomong-ngomong siapa nama kamu?"
Hah? Afgan nanyain namaku?
"Tibi, salam kenal.."
"Nama kamu lucu banget, t-i-b-i"
Aduuh, senyumnya begitu menawan. Aku tidak berhenti memandangi afgan ketika dia menoleh ke arah lain. Karena itu, aku tersandung batu di depanku dan aku tersungkur di depan Afgan... aduh, rasanya malu sekali.. bagaimana ini? Apa aku harus bangkit sambil tersenyum? Atau aku pura-pura sakit saja biar ditolongin Afgan?
"Sini aku bantu.."
Aduh, suara Afgan membuatku semakin lemas.. kurasakan tangan Afgan memegang lenganku membantu aku berdiri.. duuh, senangnya...
"Kamu ga apa-apa Tibi?"
"Ngga ngga ko, makasih ya".
Kemudian afgan menutunku ke bawah pohon untuk duduk-duduk sebentar sambil membeli 2 gelas es campur yang dibelikannya satu untukku. Saat dia makan, aku benar-benar tidak bisa menggerakan tanganku. Aku membayangkan dia adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk hidupku. Cara makannya aja udah mempesona, apalagi yang lainnya?
...
Satu bulan kemudian,,
aku mengintip lagi  pagar rumah Afgan, namun kali ini aku mengintip dari samping rumahku. Afgan terlihat memakai kemeja hitam rapi casual bersiap untuk bernyanyi di sebuah acara. Ingin sekali aku ikut, tetapi bagaimana caranya...
aku mengendap mengeluarkan motor dari garasiku.
"Tibi, itu siapa yang ngeluarin motor? Coba tolong lihat sebentar!"
Duh, bagaimana ini, Mama tahu kali motornya diambil.
"mm... ini tibi lagi ngeluarin motor Ma.. Tibi boleh kan pergi naik motor mau ke rumah teman Tibi!"
Dan ternyata Mama memperbolehkanku... Alhamdulillah...
Lalu kubuntuti mobil Afgan...dan akhirnya mobilnya berhenti juga di sebuah gedung yang sudah bertuliskan nama sebuah acara dengan bintang tamu spesial yaitu Afgan Syahreza.
Setelah Afgan dan teamnya masuk, aku megendap masuk juga, tetapi aku dihalangi oleh beberapa penjaga disana. Mereka menanyakan tiket masuk padaku. Oh iya, aku lupa tidak membawa dompet.. bagaimana ini..aku bingung tujuh keliling, aku duduk termenung di samping tempat penukaran tiket menunggu entah apa itu. Tiba-tiba dari dalam gedung keluarlah idolaku yang begitu cool, entah mau apa Afgan keluar gedung. Aku menyembunyikan wajahku. Namun, ternyata Afgan menujuku dan berkata pada penjaga tiket itu. Afgan langsung menarik tanganku. Aku ikut begitu saja bersamanya ke dalam gedung.
Aku belum sadar yang menarik tanganku itu adalah Afgan. Kemudian kudengar suara lembut di telingaku,"kamu datang kesini sendiri Tibi?"
"Iya... emm... aku tadi tidak bawa dompet, lupa. Maafkan aku.."
"Kenapa minta maaf? Seharusnya aku berterimakasih sama kamu sudah meluangkan waktu untuk acara spesial ini, lagipula aku juga pernah lupa tidak bawa dompet.. tenang aja, kita sama ko.."
Waah, baik sekai Afgan ini. Udah ganteng, pinter, baik lagi...
Aku diantarkan Afgan ke tempat duduk paling depan.. dan saat itu aku baru sadar kalau ternyata aku masih memakai baju tidur. Untungnya, aku memakai jaket yang bagus sehingga baju tidurku ini sedikit tertutupi. Rambutku yang lurus ini untung mudah diatur sehingga tidak terlalu amburadul.
...
Munculah idolaku yang sangat ditunggu-tunggu penonton diikuti teriakan yang sangat histeris dari belakangku. Aku ikut berteriak dan sungguh, ini pengalaman pertamaku menonton Afgan secara live dan duduk paling depan.
Sayangnya, acara itu hanya berlangsung selama dua jam. Waktu yang sangat kurang bagiku dan afganisme lainnya untuk mendengarkan dan melihat Afgan.
...
"Aduh, ko kempes sih bannya!!! Mana panas lagi? Ga bawa uang lagi? Ga bawa handphone pula... ".
Aku menuntun sepeda motorku yang kempes. Cuaca begitu panas terik, hampir membuat  kulitku dehidrasi. Untungnya nyanyian Afgan di konser tadi menghapus semua rasa hausku. Aku terus saja bernyanyi sepanjang jalan dan tidak merasakan cape atau lelah sedikitpun..
...
Tiid...tiid...tiid, suara klakson mobil berbunyi. Ternyata itu ayahku.
"Tibi, kenapa motornya... sini, ikut ayah saja biar motornya simpan di bengkel dulu.".
"Ini juga lagi nyari bengkel yah... tapi masalahnya masih jauh bengkelnya.."
"Bentar, ayah telpon dulu pak Roni ya biar urus motornya. Kamu sekarang ikut ke mobil, panas banget ini"..
Alhamdulillah lagi,,,  hari ini memang sangat beruntung bagiku..
...
Tok tok tok... siapa itu??
"Tibi, itu ada tamu tuh... tolong bukakan pintunya.."
Clek, pintu terbuka. OMG! Waw, mimpi apa aku semalam? Ko pagi-pagi begini ada malaikat datang ke rumahku? Aku harus bagaimana. Wajahku saat itu lagi ngga kobe banget. Aku tersenyum dan mempersilakan masuk.
"Aku ambilkan minum dulu ya,,,"
"Ah, tidak usah Tibi, aku kesini mau sebentar saja ko,  aku mau ngajak kamu jalan sore ini. Lagi sibuk ga?"
"Ngg....ngga ko, memangnya kamu ngga sibuk ya?"
"Kebetulan lagi kosong jadwalnya, kamu mau kan?"
"Ya,"dengan tegas aku katakan ya pada Afgan.
"Eh, loh perasaan.... Mama kenal sama temen kamu ini? Sebentar sebentar, Afgan yang penyanyi itu kan?"
"Iya tante..hehe"
"Ko bisa kenal sama Tibi, rumah na Afgan dimana?"
"Di sebelah rumah tante. Pak Loyd.."
"Oh, anaknya Pak Loyd dan Bu Lola toh... pantas saja Afgan kenal sama Tibi ya... Eh, mau minum apa?"
"Ga usah tante, ini juga mau pulang ko... makasih tante"
...
Kulihat Afgan mengeluarkan mobil dari garasinya tanpa supir. Aku yang sudah berpakaian rapi menunggu afgan di teras rumah.
"Maa.. berangkat dulu ya...."
Aku sangat senang, apalagi ketika Afgan membukakan pintu mobilnya untukku. Ahaideuh... aku yakin kalau Afgan menaruh hati padaku. GR banget sih kamu Tibi? Dalam hati aku berbicara sendiri.
"Kita mau kemana nih?"
"kan kamu yang ngajak, aku sih ikut kamu aja..."
"Kita ke tempat makan aja gimana? Udah makan?"
"Kalo makan sore sih belum,, hehe... kan tadi udah makan siang"
"Yaaah, padahal aku belum makan nih, tapi kamu mau ga temenin aku makan?"
OMG! Afgan mau aku nemenin dia makan? Kesempatan yang ga boleh dibiarkan nih...
"Temenin? Boleh..."
Boleh amat gaan, dalam hati aku bersorak ria.
...
"Tibi, kamu mau aku pesenin apa?"
"Terserah kamu aja.."
"Beneran nih... aku suka kentang goreng, kamu mau itu juga?"
"Apa aja..."
aku tahu saat aku makan, pandangan mata Afgan tertuju padaku. Entah aku yang terlalu kepedean ataukah memang benar adanya. Aku memberanikan diri melihat mata Afgan dan benar saja, Afgan tampak sedang melihatku dan segera menoleh ke arah lain saat aku melihatnya. Tidak lama kemudian, aku mendengar panggilan untukku...
"Tibi..."
"Iya?"
"Aku boleh tanya sesuatu ga sama kamu,,, apa kamu udah punya pacar?"
"Aku.... belum gan... ada apa?"
"Kalau aku mau jadi pacar kamu gimana?"
Aduuh gaan, ngapain kamu nanya itu? Ya pasti aku bakal bilang mau lah... kalaupun aku punya pacar, bakal aku putusin pacar aku demi kamu gan... tapi, gimana cara jawab pertanyaan Afgan ini ya?
"M... m... Mau gan"
"Beneran Tibi? Berarti sekarang kita resmi pacaran kan?"
Afgan nampak tak percaya aku bilang mau jadi pacarnya. Padahal, aku yang seharusnya masih belum percaya Afgan melakukan hal ini...
"Iya, Afgan ganteng...."
"Berarti aku boleh manggil kamu sayang kan? Alhamdulilah..."
"Aku juga seneng banget punya pacar kaya kamu sayang..."
Sejak saat itu aku menjadi pacar Afgan.. dan kamu tahu apa? Afgan yang setiap hari menjemputku pulang kuliah.. kurang apa coba? Namun, setiap Afgan menjemputku, dia tidak pernah turun dari mobilnya, mungkin karena takut diketahui identitasnya sama yang lain .. kalau yang lain pada tahu gawat, bisa-bisa pacarku yang super ganteng ini habis dikerumuni orang-orang...
"Halo? Yang, aku lagi di jalan mau jemput kamu, tunggu ya sayang!"
Kamu tahu rasanya Afgan bilang seperti itu? Rasanya tuh kaya hati yang ditusuk-tusuk sama cinta yang sangat bisa buat aku lemas.
Itu mobilnya udah datang, aduuh, rambutku harus kobe nih. Tampil cantik di hadapan malaikat... aku segera berlari ke arah mobil itu.
"Tadi macet ga sayang?"
"asal itu buat kamu, macet atau ngga ga masalah buat aku,"
Aduh,,, suara manja khas ala Afgan muncul lagi bikin aku lemas. Stop gan, stop,, jangan gombal lagi.... bisa bisa aku meleleh nanti...
kemudian Afgan mengeluarkan suara merdunya itu...
"Bawakah pergi cintaku, ajak kemana engkau mau. Jadikan temanmu, temanmu paling kau cinta.. disini ku pun begitu, trus cintaimu di hidupku didalam hatiku sampai waktu yang pertemukan kita nanti...." saking merdunya suara Afgan, aku mulai tertidur di dalam mobil.
Tidak terasa dari kampus ke rumahku sampai begitu cepat. Tidurku belum cukup.., ku dengar suara Afgan membangunkanku, "sayang, ini udah sampai... ayo bangun"
Kurasakan telapak tangan Afgan mengusap pipiku... aduh lembutnya.. Sebenarnya saat itu aku sudah bangun, aku sengaja tertidur siapa tahu afgan mengangkatku dan memangkuku ke dalam rumah...
....
 tiba-tiba pintu mobil terbuka dan terdengar suara Mama yang membangunkanku,,,
"Sayang, bangun sayang,,,"
Loh? Ko suara Mama sih yang muncul? Aku segera terbangun dan menanyakan Afgan pada Mama..
"Afgannya kemana Ma? Mama ko di sini sih?"
"Hah? Afgan? Tuh lihat, dia lagi nyanyi di Tv!"
Aku segera mengucek-ngucek mataku dan melihat Tv... dan Afgan ternyata lagi nyanyi di acara gebyar BCA,
"Loh? Ko aku ada di atas tempat tidur sih?"
ALAMAK! Aku baru sadar aku bermimpi di atas semua ini... aku teryata sudah tidur seharian, sampai-sampai aku belum sempat membantu Mama yang sedang meyiapkan makanan dan lain-lain untuk syukuran sore nanti...
Aku segera turun dari kasurku, aku langsung menuju teras rumah dan memulai untuk mengintip rumah Afgan dan disitu sepi banget. Cuma ada Arsya (adiknya Afgan) dan bibi yang selalu ada di rumah Afgan.
Yaa.. sudahlah Tibi, kamu ternyata cuma mimpi. Tapi kan siapa tahu mimpi itu jadi keyataan, iya kan?
TAMAT

cerita ini hanya karangan fiktif belaka, jika ada kesamaan nama dan tempat merupakan bentuk ketidaksengajaan.
Mohon dikomentari ya readers... terimakasih sudah berkunjung...


1 komentar:

  1. hohouuu , tibi cuma mimpi ,,, jauh bgt tuh mimpinya ......
    ini khayalan sendiri nih pastinya

    BalasHapus