·
cerpen ini aku buat untuk afganisme yang lagi
pengen baca cerita-cerita tentang idolanya, yaitu Afgan Syahreza...
BELUM PERCAYA
"Pagi ini cerah banget,,, enaknya ngapain ya? Pr semua
udah beres, tugas kelompok sekolah beres, mandi udah, apalagi ya?"
Dia adalah Tibi. Anak cantik itu memang sangat
perfectsionist. Setiap tugas sekolah yang diberikan pasti selalu dikerjakan
lebih awal sebelum waktunya sehingga di hari libur seperti ini ia tidak perlu
cape lagi mengerjakannya.
"Dengerin lagu Afgan enak kayanya". Emm... tapi
kenapa cewe itu ragu-ragu dengerin lagu idolanya itu ya? Oooh, pantas saja,
Afgan idolanya itu adalah tetangganya. Ia takut nanti malah Afgan yang takut
dengan dirinya yang terlaku terobsesi dengan Afgan.
...
Ayahku pindah kantor seminggu yang lalu. Aku dan ibu ikut
ayah pastinya. eh, tidak sengaja pas aku beres-beres rumah dua hari yang lalu
ada mobil yang melewati rumahku.
Aku yang begitu penasaran dengan tetangga baruku itu
(tepatnya aku yang menjadi tetangga baru mereka)menerawang siapa yang di dalam
mobil hitam itu alias KEMAL "Kepo Maksimal". OMG!! Jantungku berdebar
tidak karuan, hatiku rasanya mau keluar dari tempatnya. "Apa bener aku
lihat Afgan? Ko bisa?"
Aku terus melihat kemana tujuan mobil itu... dan...
"OMG!! Ko mobilnya masuk ke rumah di sebelah rumahku
sih? Beneran? Aaaaaa!!!"
Aku berteriak histeris sambil menutup mulutku yang tidak
bisa berhenti menganga ini... Setelah itu, aku masuk ke dalam rumahku
sampai-sampai aku lupa sapu yang sedang aku pegang tadi disimpan entah dimana.
"Mamaaaaa?"
"Ada apa sayang? Ko kamu panik gitu, ada apa?"
"Ma, aku .... emmm, Ma..."
"Iya ada apa? Ga jelas gitu ngomongnya? Jadi mama ikut
panik kan.."
"Mama tahu ga tetangga kita itu siapa?"
"Tahu lah, mereka itu Pa Loyd dan Bu Lola kan.. kenapa
emangnya?"
"emmm... ngga ko Ma.. ya udah, aku ke luar dulu ya ..."
Aku keluar lagi dan tidak memberitahu pada Mama tentang
tetanggaku ini adalah idolaku.
...
Aku sengaja membaca koran di luar sambil duduk di kursi
menunggu siapa tahu ada malaikat datang ke rumahku... tapi kira-kira mungkin ga
ya?... aduuh, ko jadi dreamer kaya gini sih? Mendingan di hari Minggu ini aku
lari-lari aja gitu ya ke taman deket kompleks ini.
"Mama, ingat ga Mama nyimpan sepatu sport aku
dimana?"
"Di bawah tangga sayang, kamu mau kemana?"
"Tibi mau keliling kompleks sini Ma.. mau ikut
ga?"
"Mama lagi sibuk nih kan nanti sore kita bikin
syukuran.. kamu aja sendiri ya, hati-hati sayang"!
Kubuka gerbang rumahku dan berlari pelan sambil mengintip
pagar rumah Afgan. Mana ya? Ko ga ada orang?
Hmmm... yasudah lah. Apa salahnya aku berlari sendirian?
Langkah kakiku semakin lamban,, dan akhirnya lari-lari berubah mejadi
jalan-jalan. Aku mengambil hp di saku jaketku yang telah terpasang dengan
headset. Kumasukkan hedset ke telingaku dan segera aku memutar lagu Afgan yang
berjudul "Rumahmu Jauh". Tidak terasa mulutku ternyata ikut
bernyanyi, sampai-sampai ada seseorang yang mencolek pundakku dari belakang,
dan aku langsung kaget karenanya.
"Hai, boleh ikut lari?"
Spontan aku mencopot headset yang menghalangi pendengaranku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. OMG! Afgan?
"Dari tadi aku panggil, eh.. kamu terus asyik dengan
musik kamu.."
Afgan tersenyum memulai pembicaraannya di sela-sela
perjalanan kami
"Aduh, maaf tadi volumenya diperbesar jadi ga
kedengaran mungkin,, hehe.."
Aduh, gantengnya manusia ini.. sungguh beruntung bisa jalan
sama Afgan.....
"Ngomong-ngomong siapa nama kamu?"
Hah? Afgan nanyain namaku?
"Tibi, salam kenal.."
"Nama kamu lucu banget, t-i-b-i"
Aduuh, senyumnya begitu menawan. Aku tidak berhenti
memandangi afgan ketika dia menoleh ke arah lain. Karena itu, aku tersandung
batu di depanku dan aku tersungkur di depan Afgan... aduh, rasanya malu
sekali.. bagaimana ini? Apa aku harus bangkit sambil tersenyum? Atau aku
pura-pura sakit saja biar ditolongin Afgan?
"Sini aku bantu.."
Aduh, suara Afgan membuatku semakin lemas.. kurasakan tangan
Afgan memegang lenganku membantu aku berdiri.. duuh, senangnya...
"Kamu ga apa-apa Tibi?"
"Ngga ngga ko, makasih ya".
Kemudian afgan menutunku ke bawah pohon untuk duduk-duduk
sebentar sambil membeli 2 gelas es campur yang dibelikannya satu untukku. Saat
dia makan, aku benar-benar tidak bisa menggerakan tanganku. Aku membayangkan
dia adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk hidupku. Cara makannya aja udah
mempesona, apalagi yang lainnya?
...
Satu bulan kemudian,,
aku mengintip lagi
pagar rumah Afgan, namun kali ini aku mengintip dari samping rumahku.
Afgan terlihat memakai kemeja hitam rapi casual bersiap untuk bernyanyi di
sebuah acara. Ingin sekali aku ikut, tetapi bagaimana caranya...
aku mengendap mengeluarkan motor dari garasiku.
"Tibi, itu siapa yang ngeluarin motor? Coba tolong
lihat sebentar!"
Duh, bagaimana ini, Mama tahu kali motornya diambil.
"mm... ini tibi lagi ngeluarin motor Ma.. Tibi boleh
kan pergi naik motor mau ke rumah teman Tibi!"
Dan ternyata Mama memperbolehkanku... Alhamdulillah...
Lalu kubuntuti mobil Afgan...dan akhirnya mobilnya berhenti
juga di sebuah gedung yang sudah bertuliskan nama sebuah acara dengan bintang
tamu spesial yaitu Afgan Syahreza.
Setelah Afgan dan teamnya masuk, aku megendap masuk juga,
tetapi aku dihalangi oleh beberapa penjaga disana. Mereka menanyakan tiket
masuk padaku. Oh iya, aku lupa tidak membawa dompet.. bagaimana ini..aku
bingung tujuh keliling, aku duduk termenung di samping tempat penukaran tiket
menunggu entah apa itu. Tiba-tiba dari dalam gedung keluarlah idolaku yang
begitu cool, entah mau apa Afgan keluar gedung. Aku menyembunyikan wajahku.
Namun, ternyata Afgan menujuku dan berkata pada penjaga tiket itu. Afgan
langsung menarik tanganku. Aku ikut begitu saja bersamanya ke dalam gedung.
Aku belum sadar yang menarik tanganku itu adalah Afgan.
Kemudian kudengar suara lembut di telingaku,"kamu datang kesini sendiri
Tibi?"
"Iya... emm... aku tadi tidak bawa dompet, lupa.
Maafkan aku.."
"Kenapa minta maaf? Seharusnya aku berterimakasih sama
kamu sudah meluangkan waktu untuk acara spesial ini, lagipula aku juga pernah
lupa tidak bawa dompet.. tenang aja, kita sama ko.."
Waah, baik sekai Afgan ini. Udah ganteng, pinter, baik
lagi...
Aku diantarkan Afgan ke tempat duduk paling depan.. dan saat
itu aku baru sadar kalau ternyata aku masih memakai baju tidur. Untungnya, aku
memakai jaket yang bagus sehingga baju tidurku ini sedikit tertutupi. Rambutku
yang lurus ini untung mudah diatur sehingga tidak terlalu amburadul.
...
Munculah idolaku yang sangat ditunggu-tunggu penonton
diikuti teriakan yang sangat histeris dari belakangku. Aku ikut berteriak dan
sungguh, ini pengalaman pertamaku menonton Afgan secara live dan duduk paling
depan.
Sayangnya, acara itu hanya berlangsung selama dua jam. Waktu
yang sangat kurang bagiku dan afganisme lainnya untuk mendengarkan dan melihat
Afgan.
...
"Aduh, ko kempes sih bannya!!! Mana panas lagi? Ga bawa
uang lagi? Ga bawa handphone pula... ".
Aku menuntun sepeda motorku yang kempes. Cuaca begitu panas
terik, hampir membuat kulitku dehidrasi.
Untungnya nyanyian Afgan di konser tadi menghapus semua rasa hausku. Aku terus
saja bernyanyi sepanjang jalan dan tidak merasakan cape atau lelah sedikitpun..
...
Tiid...tiid...tiid, suara klakson mobil berbunyi. Ternyata
itu ayahku.
"Tibi, kenapa motornya... sini, ikut ayah saja biar
motornya simpan di bengkel dulu.".
"Ini juga lagi nyari bengkel yah... tapi masalahnya
masih jauh bengkelnya.."
"Bentar, ayah telpon dulu pak Roni ya biar urus
motornya. Kamu sekarang ikut ke mobil, panas banget ini"..
Alhamdulillah lagi,,,
hari ini memang sangat beruntung bagiku..
...
Tok tok tok... siapa itu??
"Tibi, itu ada tamu tuh... tolong bukakan
pintunya.."
Clek, pintu terbuka. OMG! Waw, mimpi apa aku semalam? Ko
pagi-pagi begini ada malaikat datang ke rumahku? Aku harus bagaimana. Wajahku
saat itu lagi ngga kobe banget. Aku tersenyum dan mempersilakan masuk.
"Aku ambilkan minum dulu ya,,,"
"Ah, tidak usah Tibi, aku kesini mau sebentar saja
ko, aku mau ngajak kamu jalan sore ini.
Lagi sibuk ga?"
"Ngg....ngga ko, memangnya kamu ngga sibuk ya?"
"Kebetulan lagi kosong jadwalnya, kamu mau kan?"
"Ya,"dengan tegas aku katakan ya pada Afgan.
"Eh, loh perasaan.... Mama kenal sama temen kamu ini?
Sebentar sebentar, Afgan yang penyanyi itu kan?"
"Iya tante..hehe"
"Ko bisa kenal sama Tibi, rumah na Afgan dimana?"
"Di sebelah rumah tante. Pak Loyd.."
"Oh, anaknya Pak Loyd dan Bu Lola toh... pantas saja
Afgan kenal sama Tibi ya... Eh, mau minum apa?"
"Ga usah tante, ini juga mau pulang ko... makasih
tante"
...
Kulihat Afgan mengeluarkan mobil dari garasinya tanpa supir.
Aku yang sudah berpakaian rapi menunggu afgan di teras rumah.
"Maa.. berangkat dulu ya...."
Aku sangat senang, apalagi ketika Afgan membukakan pintu
mobilnya untukku. Ahaideuh... aku yakin kalau Afgan menaruh hati padaku. GR
banget sih kamu Tibi? Dalam hati aku berbicara sendiri.
"Kita mau kemana nih?"
"kan kamu yang ngajak, aku sih ikut kamu aja..."
"Kita ke tempat makan aja gimana? Udah makan?"
"Kalo makan sore sih belum,, hehe... kan tadi udah
makan siang"
"Yaaah, padahal aku belum makan nih, tapi kamu mau ga
temenin aku makan?"
OMG! Afgan mau aku nemenin dia makan? Kesempatan yang ga
boleh dibiarkan nih...
"Temenin? Boleh..."
Boleh amat gaan, dalam hati aku bersorak ria.
...
"Tibi, kamu mau aku pesenin apa?"
"Terserah kamu aja.."
"Beneran nih... aku suka kentang goreng, kamu mau itu
juga?"
"Apa aja..."
aku tahu saat aku makan, pandangan mata Afgan tertuju
padaku. Entah aku yang terlalu kepedean ataukah memang benar adanya. Aku
memberanikan diri melihat mata Afgan dan benar saja, Afgan tampak sedang
melihatku dan segera menoleh ke arah lain saat aku melihatnya. Tidak lama
kemudian, aku mendengar panggilan untukku...
"Tibi..."
"Iya?"
"Aku boleh tanya sesuatu ga sama kamu,,, apa kamu udah
punya pacar?"
"Aku.... belum gan... ada apa?"
"Kalau aku mau jadi pacar kamu gimana?"
Aduuh gaan, ngapain kamu nanya itu? Ya pasti aku bakal
bilang mau lah... kalaupun aku punya pacar, bakal aku putusin pacar aku demi
kamu gan... tapi, gimana cara jawab pertanyaan Afgan ini ya?
"M... m... Mau gan"
"Beneran Tibi? Berarti sekarang kita resmi pacaran
kan?"
Afgan nampak tak percaya aku bilang mau jadi pacarnya.
Padahal, aku yang seharusnya masih belum percaya Afgan melakukan hal ini...
"Iya, Afgan ganteng...."
"Berarti aku boleh manggil kamu sayang kan?
Alhamdulilah..."
"Aku juga seneng banget punya pacar kaya kamu
sayang..."
Sejak saat itu aku menjadi pacar Afgan.. dan kamu tahu apa?
Afgan yang setiap hari menjemputku pulang kuliah.. kurang apa coba? Namun,
setiap Afgan menjemputku, dia tidak pernah turun dari mobilnya, mungkin karena
takut diketahui identitasnya sama yang lain .. kalau yang lain pada tahu gawat,
bisa-bisa pacarku yang super ganteng ini habis dikerumuni orang-orang...
"Halo? Yang, aku lagi di jalan mau jemput kamu, tunggu
ya sayang!"
Kamu tahu rasanya Afgan bilang seperti itu? Rasanya tuh kaya
hati yang ditusuk-tusuk sama cinta yang sangat bisa buat aku lemas.
Itu mobilnya udah datang, aduuh, rambutku harus kobe nih.
Tampil cantik di hadapan malaikat... aku segera berlari ke arah mobil itu.
"Tadi macet ga sayang?"
"asal itu buat kamu, macet atau ngga ga masalah buat
aku,"
Aduh,,, suara manja khas ala Afgan muncul lagi bikin aku
lemas. Stop gan, stop,, jangan gombal lagi.... bisa bisa aku meleleh nanti...
kemudian Afgan mengeluarkan suara merdunya itu...
"Bawakah pergi cintaku, ajak kemana engkau mau. Jadikan
temanmu, temanmu paling kau cinta.. disini ku pun begitu, trus cintaimu di
hidupku didalam hatiku sampai waktu yang pertemukan kita nanti...." saking
merdunya suara Afgan, aku mulai tertidur di dalam mobil.
Tidak terasa dari kampus ke rumahku sampai begitu cepat.
Tidurku belum cukup.., ku dengar suara Afgan membangunkanku, "sayang, ini
udah sampai... ayo bangun"
Kurasakan telapak tangan Afgan mengusap pipiku... aduh
lembutnya.. Sebenarnya saat itu aku sudah bangun, aku sengaja tertidur siapa
tahu afgan mengangkatku dan memangkuku ke dalam rumah...
....
tiba-tiba pintu mobil
terbuka dan terdengar suara Mama yang membangunkanku,,,
"Sayang, bangun sayang,,,"
Loh? Ko suara Mama sih yang muncul? Aku segera terbangun dan
menanyakan Afgan pada Mama..
"Afgannya kemana Ma? Mama ko di sini sih?"
"Hah? Afgan? Tuh lihat, dia lagi nyanyi di Tv!"
Aku segera mengucek-ngucek mataku dan melihat Tv... dan
Afgan ternyata lagi nyanyi di acara gebyar BCA,
"Loh? Ko aku ada di atas tempat tidur sih?"
ALAMAK! Aku baru sadar aku bermimpi di atas semua ini... aku
teryata sudah tidur seharian, sampai-sampai aku belum sempat membantu Mama yang
sedang meyiapkan makanan dan lain-lain untuk syukuran sore nanti...
Aku segera turun dari kasurku, aku langsung menuju teras
rumah dan memulai untuk mengintip rumah Afgan dan disitu sepi banget. Cuma ada
Arsya (adiknya Afgan) dan bibi yang selalu ada di rumah Afgan.
Yaa.. sudahlah Tibi, kamu ternyata cuma mimpi. Tapi kan
siapa tahu mimpi itu jadi keyataan, iya kan?
TAMAT
cerita ini hanya
karangan fiktif belaka, jika ada kesamaan nama dan tempat merupakan bentuk
ketidaksengajaan.
Mohon dikomentari ya readers... terimakasih sudah
berkunjung...
hohouuu , tibi cuma mimpi ,,, jauh bgt tuh mimpinya ......
BalasHapusini khayalan sendiri nih pastinya