novel ini saya buat sekitar satu tahun lalu, silahkan dibaca dan beri komentarnya ya....:)
SAYOUSHITERU
“Yaaa.... akhirnya, hari itu tiba
juga. Semua kelas XII di seluruh negeri tercinta ini menanti pengumuman hasil
belajar mereka. Ya, kelulusan SMA yang ditnggu-tunggu akhirnya di depan mata.
Ada dua sejoli, tentunya cowo dan
cewe. Mereka adalah sahabat karib yang salah seorangnya merasa ingin memiliki
hubungan lebih dari itu. Itulah aku, panggil saja Ana, akulah sahabat Giza yang
ingin hubungan kami melebihi status yang sekarang. Giza dikenal sebagai seorang
siswa SMA di salah satu Ibukota Jakarta itu yang pendiam, pemalu, tampan, baik
hati, dan penyayang. Aku bersahabat dengan Giza sewaktu pertama kali masuk SMA
itu. Aku merasa bahwa Giza itu berbeda dari cowo lain.
Karena Aku berusaha untuk selalu di samping Giza, makanya
Giza yang dulunya pemalu (apalagi sama cewe) bisa akrab denganku karena kita
merasa memiliki kecocokan. Kemanapun Giza pergi atau sebaliknya, kita tidak
pernah sendirian, kita setia menemani terutama dalam urusan pendidikan. Aku dan
Giza terkenal di SMA karena... Bukan
sombong, tapi seringkali
kami yang suka dijadikan
perpustakaan berjalan oleh teman-teman kami.
***
“Jangan berlebihan Za! Aku yakin, nilai kamu pasti
juga teratas.. percaya deh..”, jawabku saat Giza meneleponku sebelum pergi
sekolah. Hari ini aku dan Giza tidak akan berangkat bareng karena katanya dia
naik mobil bareng supirnya. Hmm.. dia lebih memilh supir daripada sahabatnya
sendiri. Dasar sahabat tersayangku…
***
Ketika Giza melihat papan
kelulusannya, tidak dipungkiri lagi Giza memang cowo yang pintar. Ia berada di
jajaran teratas. Giza
dan teman-temannya saling memberi selamat dan pelukan teman. “Gilaa! Bro, keren.. Selamat ya”, banyak sekali
ucapan selamat yang dilontarkan padanya.
“Aku harus ngasih tahu Anna soal ini… Oya, mana anak
itu? Kok belum keliatan, padahal udah siang.. Apa aku telepon saja ya?”.
Halo, Ann?
Iya? Tumben, biasanya aku yang telepon kamu..
Kamu sekarang lagi di mana?
Kenapa gitu Za? Kehilangan aku? Haha..
Apaan sih kamu, itu hasilnya udah dipajang di madding,
cepetan..
Kenapa buru-buru amat sih,, emangnya mau ke mana?
Kalau udah liat, rencananya aku mau ngajak kamu makan
siang..
Lagi seneng ya?
Yaudah, cepetan.. Kamu lagi di mana?
Aku lagi di depan mading tahu… aku juga udah lihat
hasilnya. Sekarang kamu ada di mana?
Aku tunggu ya di taman belakang.
(tuut..tuut..tuut..)
*
“Iih, nyebelin. Kok langsung ditutup sih, gak sopan..!”,
tutupku.
Ketika
kulihat papan pengumuman, tepat sekali, aku seposisi dengan
Giza.
“Kita memang selalu berdampingan ya,hehe... “GR
banget sih kamu, An!”, jawabku juga. Ayolah, kamu dan Giza kan sahabatan... masa
iya sih aku punya perasaan lebih dari itu!”, pikiranku terus saja begitu...
*
Wajah
Anna yang cantik, ditambah
rasa gembiranya membuat wajahnya sangat bersinar. Namanya juga perempuan,
teman-teman Anna
langsung saling memberi selamat ditambah yel-yel kurang jelas ala remaja.
Di sana Anna terlihat sedang
mencari sesuatu. Kanan, kiri, depan, dan belakang. Tidak salah lagi,dia pasti
mencari sahabatnya, Giza. Ana segera ke taman belakang sekolah dan melihat Giza
dengan headset yang selalu menempel di telinganya. Giza memang penikmat
musik, bahkan kemampuannya dalam vokal sangat bagus menurut Anna, hanya saja Giza
tidak pernah menunjukkan kebolehannya itu karena pribadinya yang pemalu.
*
Hei!!!Giza,
Gizaaaa,yes....!
Ana?
Hehe...Good Job!
Kok segitu kagetnya lihat aku, kaya lihat penampakan
aja.. Oya, tahu gak sih, angkatan kita lulus 100%.
Iya
tau.(dengan nada cuek)
Za??
Kamu seneng kan?
Iyalah pasti!
Terus? Mana raut seang kamu?
*
Memang seperti biasa, namanya juga
cowo. Bicara seperlunya. Terlebih Giza, dia itu kan pendiam, jadi pantas saja
kalo dia diajak ngobrol memang begitu. Tapi aku sangat mengerti sifat Giza. Aku
selalu ikhlas dicuekin sahabatku itu, karena aku tahu sebenarnya
Giza juga sayang sama aku. Pikirku selalu mengatakan seperti itu..
*
(Aku
terdiam, nampak agak kesal dengan Giza)
Ana?
Nanti malam,,,, promnite ya???
Tumben
kamu bicara duluan!
Ih,ko
gitu sahabatku?
Habisnya
kamu kalau gak ditanya gak pernah mau ngomong.. Jelek tahu..
Segitu
sensinya sih,, maaf. Maafin gak?
Maafin kan? Loh.. kok tangan kamu dingin?
Ketika tanganku dipegang Giza, aku berpikir
betapa perhatian Giza padaku. Aku semakin sayang dengan Giza. Diam-diam aku
memiliki rasa lebih lagi pada Giza. Ooooh
ya Tuhan, apa benar perasaan ini?
Apa aku harus diam saja dengan perasaanku ini..
*
Hei,Bro!!Ko
diem gitu? Dimaafin gak nih ?
Hah?
Apa? Maaf, aku melamun tadi....
Kamu
ngomong apaan?
Tuh,
kan melamun itu gak baik tau! Jadi, aku dimaafin gak nih?
Ya
iyalah Za! Masa aku sesensi itu...
Oh
ya, nanti malam di promnite kamu jadi pasangan aku ya? ya? ya?
Ya...
ga ada pilihan lain, kepaksa deh!
Dasar! Ya sudah, ga usah maksain. Banyak kali yang mau
pasangan sama aku…
Keep calm my sister,, gitu aja dianggap serius? Dasar
bawel..
*
Aku yang begitu kalem bawaannya, tetap
saja dibilang bawel oleh Giza. Mungkin Giza lagi sensi waktu itu. Namun, itu tidak masalah. Walaupun begitu, aku tetap
akan menjadi pasangan Giza di promnite nanti malam. Aduuuh, sudah terbayang aku
dan Giza di promnite nanti..
*
Kita
pulang sekarang? Let’s go!
Bukannya tadi mau ngajak makan siang?
Kamu sih malah ngajak ngobrol, mau hujan nih kayanya!
Gak jadi makannya ya? Hehe..
*
Aku
biasa
berjalan setiap hari pulang dan pergi. Rumah kami memang dekat dan itu satu perumahan.
Rumahku tidak jauh dari rumah
Giza. Karena itu, semakin lama aku rasanya nyaman dekat
Giza. Di perjalanan, Giza mengajakku untuk beristirahat sejenak
di bawah pohon rindang. Akhir-akhir ini dia punya hobi baru yaitu diam di
bawah pohon. Hobi kok aneh, bukannya bermain futsal, badminton atau sebagainya
malah memilih diam.
Disini
kayaknya sejuk nih! Apa
kita bisa terus menikmati ini
gak ya?
Maksud
kamu Za?
Ngga,
aku cuman mau kalau aku masih bisa menikmati suasana seperti ini sama kamu. Rasanya adem ya di
bawah pohon?
Tiba-tiba Giza membuka tasnya dan
mengeluarkan air mineral dan obat yang selalu dibawanya. Rasa penasaranku semakin hari semakin besar dengan
obat itu. Apa sih itu?
Za? Aku lihat dan aku perhatiin kamu
selalu miinum obat itu tiap jam segini. Itu bukan vitamin yang selama ini kan?
Memang, sebelumnya ketika aku kerap menanyakan
hal itu Giza selalu
menjawab kalau itu vitamin. Namun,
aku selalu yakin kalau itu bukan sekadar vitamin. Karena rasa tidak percaya ini
makin besar, kali ini aku bersikeras ingin tahu.
Iya,
ini vitamin.
Za!
Aku ini sahabat kamu kan?
Apa harus dijawab? Iyalah!
Kamu
jujur deh, itu bukan vitamin kan? Bukan apa-apa Za, aku khawatir sama kamu..
Ga segitunya kali.. Kalau ini emang vitamin harus gimana lagi?
Kutengadahkan telapak
tanganku. Ada yang ganjil dengan kelakuan Giza akhir-akhir ini.
Za,
kalau itu vitamin aku minta ya?
Ih, jangan Ann!
Sini,
aku nyoba satu ya?
Please.. jangan Anna. Baik, aku bakalan
bicara.
Jadi benar kan ini bukan vitamin kamu?
Tapi,
ini rahasia kita. Jangan pernah....
Ssssttt… Za, aku janji ga akan ngomongin
ini...
Aku
rasa, gak sekarang ya? Pasti Papa udah nunggu .... nanti malam pas
promnite aku janji bakal ceritain.
Janji
sahabat ya? Awas aja kalau ngga..
Iya janji..
*
Langit sepertinya juga tidak senang mendengar pegakuan
Giza tentang vitamin itu. Rintik demi rintik segera berubah menjadi lebat. “Ya
udah, sampai ketemu di prom ya! Aku duluan!”, Anna segera berlari ke rumahnya.
Lama-lama Giza bosan juga diam di sana. Langkah cepat Giza memecah air yang
menggenang di permukaan jalan. Tas kosong dijadikan tameng di atas kepalanya.
Assalamu’alaikum....Pah!
Waalaikumsalam.
Za, sendiri? Biasanya Ana kan suka ke sini dulu..
Ngga
Pah, katanya Anna mau nyiapin pakaian
dulu buat promnite nanti.
Oh
ya, kita lulus 100% loh Pah!”
Oya?.. Keren dong!... Eh, ngomong-ngomong, di
promnite nanti Anna
pergi sama kamu? Ciyeee...ciyee, udah
punya sasaran nih...!
Giza kan belum bilang iya..
Tapi benar kan kamu akan pergi bareng Anna..
Iya, tapi apaan sih Pah! Aneh-aneh
aja... Ana
itu cuman sahabat Giza kali, lagipula kan sahabat itu ngga akan ada ujungnya.
Kalau
seandainya jadi pasangan juga sama-sama ga akan ada ujungnya kan Za,...Right?
Bisa
aja Papa. Ngga mungkin lah, Giza ngga ada perasaan sama Anna.
Sejauh
ini?
Aduh Pah! Udahlah, tuh
liat lagi rame filmnya!
*
Ibu Giza meninggal saat beliau
berangkat ke luar negeri. Giza tinggal dengan Papanya. Papa sangat senang
dengan kedekatan aku dengan Giza.
Tetapi,
pilihan Gizalah yang terbaik. Papa akan melakukan apa saja demi anaknya itu,
yang penting Giza senang dan bisa menjalani hidupnya dengan mulus walaupun Giza
punya sesuatu yang mengganjal hidupnya. Setiap malam Papanya itu selalu berdoa
untuk kesembuhan anaknya. Begitupun Giza, Ia selalu berdoa untuk Papa dan
kesembuhan dirinya.
*
Sekarang kita berbicara tentang
Rasi, dia adalah siswi di salah satu SMA di Jakarta juga, tetapi ia berbeda sekolah
denganku dan Giza. Ia pun sama, sedang bergembira hati karena kelulusan dia dan teman-temannya
yang sempurna..
Sepulang sekolah, ia biasa makan siang, bahkan ia suka menunggu temannya yang
pulang sore hanya untuk makan bareng. Rasi memang setia dengan teman- temannya. Rasi itu cantik, aktif,
pintar, dan baik. Namun,
meskipun begitu, ia sama sekali belum pernah pacaran. Mungkin karena dia
terlalu aktif atau dia selalu menolak
karena menurutnya belum ada yang klop dengan dirinya.
Mamaaaa... aku pulang!
Ih,
kamu kebiasaan, bilang salam dulu dong sayang!
Assalamu’alaikum
Mama!
Waalaikumsalam,
gimana hasilnya nak?”
Lulus
100%! Aku senaaang banget. Rasi
sayang Mama!
Pah,
sini! Coba lihat Rasi.... Kasih selamat dulu dong Pah!
Anak
Papa sudah remaja, ga kerasa
ya Ma, Rasi
sudah mau kuliah lagi..
By
the way,,,, Rasi
laper nih, di meja udah ada makanan
kan? Yuk, Ma, Pah! Kita rayain kelulusan
Rasi bareng daging ayam dan sayur!!
*
Yang
suka bareng sama kamu siapa Papa lupa, bisanya juga dia
suka kesini pulang sekolah..
Maksud Papa Giza? Emmmm....mungkin
dia lagi mau nyiapin pakaian buat nanti malam sama kaya aku, jadinya ga kesini dulu...
Aduuuh... pengen banget disamain sama Giza.. Memangnya kamu
tahu Giza lagi apa sekarang?
Kan
itu bisa jadi Pah...hehe..
Giza
itu ganteng ya, An?
Ya
emang, Papa sirik ya....
Yeeey... masa sirik sama calon pacar anak Papa. Eh, keceplosan..
Maksudnya?
Anak
Papa jangan bohong, kamu suka kan sama Giza,,, bilang aja, curhat sama
Papa!
Kok Papa malah
jodoh-jodohan sih! Giza emang deket sih sama Anna, tapi belum pacaran.. Udah ah, Anna nyiapin pakaian dulu
ya... Muach
Papa...
*
Aku dan Giza senasib. Mama kami
sudah meninggal karena kecelakaan. Namun kini kami tetap senang karena memiliki
ayah yang begitu memperhatikan kami.
*
Anak
Papa keren banget...
Baru
aja Giza mau nanya. Beneran Pah? Gimana Giza pake begini? Jasnya gerah amat
ya,,,
Turutin
kata Papa. Udah, kamu pas banget,
cocok,
Kamu kaya Papa dulu. Dijamin Anna pasti terpana lihat
kamu!
Kok Anna lagi? Memangnya ga ada orang lain.. Eh, sudah
jam 9 pah! Aku jemput dulu....
Anna, kan?)
Ya,
itu papa tau.... berangkat
dulu ya pah...!
Siapa lagi selain Anna? Hehe..hati-hati, kamu bawa obatnya
jangan lupa!
Siap pah!
Jaga
diri kamu... Anna
juga!
Apaan..
*
Papa giza begitu senang melihat
anaknya menjalani hidup dengan bahagia tanpa merenungkan kondisi tubuhya. Senyuman
Giza adalah yang terpenting untuk Papa.
Giza
pun berjalan menuju rumah Anna.
Dari dulu memang begitu, kadang
Anna atau Giza yang
menjemput sahabatnya duluan. Tapi kali ini Anna memang ingin Giza menjemputnya.
Ana.... itu ada teman kamu
diluar kayanya.
Bentar
pah... Anna
belum beres
Giza? Ayo silahkan masuk!
Makasih
Om..
Mari
duduk.. Bi, tolong ambilkan minum
ada tamu..
Bentar
ya Giza! Oya, katanya kamu nilainya bagus-bagus ya. Selamat
ya..
Iya
Om, makasih. Emmmm, Anna
nya masih di atas?”
Iya,
kan dandannya spesial mau ketemu kamu,,,
eh, maksudnya mau ke promnite
bareng kamu.
*
Papaku terlihat senang dengan Giza. Obrolan
Papa dan Giza selalu nyambung dan selaras. Mungkin karena Giza sopan dan
wawasannnya luas, jadi bicara apapun, Giza selalu nyambung. Ketika mereka asyik
mengobrol tentang salah satu pengalaman Papa, aku pun datang ke hadapan
mereka..
*
I
am coming..
Eh, Giza,, kamu udah datang?
Hmmmm dari tadi kali.
Maaf
deh...
Pah,
gimana Ana?, kuperlihatkan gaunku di
depan Papa.
Emmm..
itu gaun Mama kamu ya? Bagus. Kalau
menurut kamu Za?
Hah?
Oh... emmm
bagus, cantik. Oya,
Om kita berangkat sekarang aja, yuk Anna!
Pah,
berangkat dulu ya!
*
Cuaca dingin, sepi dan
berangin. Namun kali ini tidak seperti biasanya, aku merasa hangat dan nyaman.
Bahkan setiap ku lihat Giza sedag berjalan rasanya seperti di surga walaupun
aku belum tahu bagaimana rasanya. Namun, setiap Giza menengok ke arahku aku
langsung berpaling. Bukan malu, tapi jantungku rasanya mau copot. Tidak ada
suara apapun di antara kami. Kalau begini terus, ga akan rame. Baik, akan
kucoba lontarkan pertanyaan saja dan semoga dijawab. Amiin,
Za,
jangan diem aja dong,,,, ngobrol . Iya.....maaf, tadi aku lama banget kan? Maaf, maaf ya,,
Bukan
itu...
Terus?
Ana, kamu bakal ngelanjutin kuliah ke mana?
Aku takut kita ga bisa ketemu lagi...
Oh
ya, gimana kalau aku ngikutin
kamu aja . Hobi kamu kan ga jauh
beda sama aku.
Ide
bagus juga tuh! Gimana
kalau di Universitas deket
sini aja, aku
bakal ngambil Bussines Management. Lagipula, ga jauh dan bagus juga, kan?
Aku
setuju aja sih. Aku mau ngambil bisnis juga, biar ke depannya mudah.
Makasih
ya An! Kamu sahabatku yang paling baik.
Kembali kasih..
*
Begitu Ana dan Giza datang, semua
orang di dalam ruangan melihat mereka
berdua. Teman-temannya menganggap Anna dan Giza sudah jadian alias pacaran karena
mereka memang klop banget. Padahal, Giza dan Anna hanya sahabat biasa.
Ana memang sangat serasi dengan
gaun di malam itu,
apalagi wajahnya selalu ceria dan calm. Giza juga terlihat sangat tampan dan
sopan. Keduanya memang serasi. Hiburan, kesenian dan pidato sambutan dinikmati
bersama. Kemudian Anna
ingat tentang janji Giza tadi siang. Tapi sebelum itu, Giza yang sedang duduk
bersama Anna
kemudian mengeluarkan lagi obatnya. Ia meneguk obatnya dengan tenang, Anna diam melihat Giza
yang selalu menelan obat itu setiap harinya.
Za,
emmm..... kamu
janji akan kasih tau tentang obat itu.
Ya,, aku ingat, aku janji.
Kita duduknya di meja belakang saja ya?
*
Aku...ga
bisa bertahan tanpa obat ini..
Hah?
Maksud kamu?
Aku
mulai makan obat ini pas SMP. Aku punya penyakit. Waktu SMP itu aku sangat
aktif, bahkan aku pulang ke rumah lebih sore daripada guru. Sejak itu aku bolak-balik
ke dokter sama Papa. Aku ngerasa mudah cape, sampe-sampe aku pernah pingsan di
jalan. Dokter pribadi ngasih obat ini. Waktu itu aku gak sengaja ngedenger
pembicaraaan dokter, katanya umurku ga akan lama, Ann..
Kok kamu bisa sampai begitu, Za?
Loh,
kamu nangis Ann?
Terus... kamu makan obat ini buat hidup?
Penyakitku
ini ga ada obatnya An. Mau pake apapun, penyakit ini makin lama malah tambah
parah. Obat ini cuman sebagai supply oksigen biar aku keliatan segar dan bisa ceria aja”.
Kita
ngobrol diluar aja yu..! Aku ga kuat, ga bisa nahan nangis. Malu diliat orang..
Lebay
banget sih, Ann!
*
Kalau
kamu ga keberatan..........,
sebenarnya
kamu sakit apa?
Pengen
tau banget, apa pengen tau
aja? Ngga nular ko, tenang aja..
Za,
jangan bercanda ya! Mau
itu penyakit nular atau ngga,
aku
tetep mau jadi sahabat kamu. Kalau bisa dipindahin, aku mau penyakit kamu ada
di aku!
Anna,, aku sebenernya kena
penyakit lupus, Ann...
Hah???
Ana,
jangan sampe kamu pingsan ...! Dasar
lebay..
Aku
tidak akan pernah ninggalin kamu, Za...
*
Ana kemudian memeluk Giza sambil
menangis. Giza begitu tersentuh ketika sahabatnya itu melempar kata-kata itu
padanya.
*
Udahlah
An, buktinya aku masih
bisa hidup sampai sekarang kan,
segala sesuatu kan ga bisa ditentuin manusia, tapi sama Tuhan. Mending kita ke
dalam lagi, ikutan menari disana. Itu lagunya lagi slow,
enak buat bareng-bareng ..”.
Kami
pun segera masuk ke ruangan itu. Cahaya lampu menyamarkan bekas air mata di
pipiku. Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa Giza baru memberitahuku
sekarang. Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang.. Aku sangat takut ada
sesuatu yang buruk erjadi dengan Giza..
*
Ann, jangan ngasih tahu ke siapapun tentang
penyakitku ya..
Aku
udah janji, Za.
Ann, kamu ga takut sama
penyakit aku?
Aku
ga takut penyakitnya, tapi aku takut
banget kalau kamu lupa makan obat itu...
Makasih,
Ann..
Sampai
jumpa di kampus
baru nanti ya…
Siip, bro..
*
Tibalah saatnya Anna
dan Giza menjalani OSPEK di salah satu Universitas di Jakarta itu. Kami berdua
datang barengan meskipun harus nyubuh datang ke kampus. Kami diharuskan memakai kalung dari rantai karet gelang dengan
tulisan nama tentang seputar hewan.
*
“Jalan jongkok terus, jangan
berhenti... Gitu
aja manja!”, suara salah seorang senior
membentak kami. Dari belakang, ada lagi suara yang tidak kalah mengagetkan, ”Heeh!
itu tuh yang paling
belakang turutin depan dong!.
Senior
1 :”Emmm, apa ya yang bikin kalian jadi rame,
“Oya,... sekarang kalian berpasangan cowo cewe,terus bikin kalung
sepanjang mungkin dari kertas ini! cepet...”(sambil membagikan kertas kecil)
*
Semua sibuk mencari pasangannya, Ana
terletak di tengah kerumunan peserta Ospek, Ia kebingungan mencari Giza..
*
Dani
:”Hei,,,!(menepuk Ana dari belakang)
Ana :”Giza?...Oh, maaf ya” (ia berharap itu Giza)
Dani
:”Kamu pasti nyari pasangan kan?
Udah,
sama aku aja, kebetulan aku belom
juga”(sambil memegang tangan Ana)”Kenalin, aku Dani. Kamu
jadi pasangan aku ga apa-apa kan?”
Ana :”Oh, iya ga apa-apa”(Ana terlihat terpaksa,
sambil berusaha mencari Giza)
*
Giza
:Wadduh! Di barisan ini cowo semua, mana cewenya?(Di dalam hati)
Rasi
:”Addudududuh!!”(terdorong menuju Giza oleh kerumunan)”Maaf,maaf...aku ga
sengaja”
Giza
:”Ya,ga apa. Ngomong-ngomong, kamu udah ada pasangan?”
Rasi
:”Hehe..belum, kamu?”
Giza
:”Sama. Kamu keberatan ga kalau kamu sama aku. Tapi, kalau ga mau aku ga
apa-apa ko.”
Rasi
:”Ya, ya.Aku sama kamu aja....”
“Emmm,,, ini kertas sekecil ini, harus
di jadiin panjang?Ada-ada aja sih!”(menggerutu dengan suara pelan)
Giza
:”Boleh minjem kertasnya ga? Biar aku coba.......”
Rasi
: (menatap dan melihat Giza tanpa menghiraukan sekitarnya)
*
Rasi terus saja melihat Giza. Rasi
baru kali ini melihat seseorang yang bicaranya seperti Giza, sopan. Giza juga
pintar dan hormat.
*
Giza
:”Mungkin kaya gini”(sambil menunjukkan kalung yang telah dibuatnya)
Rasi
:” You are so genious!”
Giza
:”Kamu berlebihan kali...”(tersenyum)
Senior
1 :”Waktunya sudah habis! Sekarang kalung itu pakein ke cewe pasangan
kalian!!!”
Senior
2 :”Tunggu dulu! Kita akan pilih satu pasangan dari kalian untuk masangin
kalungnya di depan kita semua...”(diam sejenak)”Ini! Pasangan depan saya yang
cowonya pake kacamata ayo maju!”(menunjuk Giza)
Rasi
:”Hei...(sambil menepuk pundak Giza)...maksud senior itu kita?”(berbisik pada
Giza)
Giza
:”Ayo kita ke depan, ”(sambil menghela nafas)
Senior
1 :”Sekarang saya minta anda (menunjuk Giza)memberikan kalung ke pasangannya
dengan romantis sambil bilang I LOVE YOU!”
(Giza
dan Rasi tegang dan gemetar)
Senior
2 :”Cepat!! Lagipula ini hanya bohongan!Gitu aja susah..”
Giza
: (memegang kalung kertas)
“I Love You”(sambil mengalungkan
kertas itu ke Rasi dengan suara yang ragu)
*
Saat aku dengar Giza berbicara
seperti itu, aku tertunduk,, tertunduk,
dan meneteskan air mata. Aku tak sanggup melihat pujaanku mengucapkan I Love
You pada yang lain.
*
Senior
1 :”Mana tepuk tangannya?”(kemudian sekeliling
dipenuhi dengan suara tepuk tangan)
“Eh,,, kalau bohongan ga seru ya
teman-teman!Gimana kalao dia nembak beneran sekarang!!!”
Peserta Ospek :”Tembak, tembak, tembak!”(sorak peserta menyuruh Giza menembak
Rasi)
*
Giza yang polos, tidak pernah
memikirkan dirinya akan menyatakan cinta pada orang yang baru saja dikenalnya
itu. Tiba-tiba Giza merasa pusing, karena itu adalah waktunya ia minum obat.
Aku sangat tahu gerak-gerik Giza waktu itu dalam keadaan sakit. Aku pun
langsung mengacungkan tangan sambil
memanggil salah satu senior.
*
Ana :”Kak!”(sambil mengacungkan tangan)
(seorang
senior perempuan menyuruh Ana ke depan)
Senior
:”Ya,, ada apa?”
Ana : (berbisik di telinga senior)
Senior
:”Kalau begitu, silahkan...”(mengizikan Ana untuk mengambil Giza yang sedang
berdiri di depan peserta Ospek)
*
Aku menghampiri Giza yang sudah
lemas itu. Giza dan Aku meninggalkan lapangan. Benar saja, sebelum kami menuju
tas Giza untuk mengambil obat, Giza jatuh pigsan. Giza segera dibawa petugas
kesehatan di sana dan aku segera berlari mengambi obat Giza, lalu ke ruang kesehatan
menunggu sahabatku ..
*
Ana :”Za, lama banget sih. Ayo bangun
Za..”(khawatir)
Petugas
kesehatan:”Teman kamu pusing? Ini obatnya!”
Ana :”Iya, makasih. Tapi dia punya obat pribadi
kak..”
Petugas
kesehhatan :”Kalau begitu saya tinggal dulu ya...”
Ana :”Makasih, Kak!”
*
Giza
: (batuk)”Ana...obatnya sini”
Ana :”Ini, Za,”(mengambil obat dan air mineral)
Giza
:”An, tadi ko kamu bisa ngambil gue di lapang sih? Kamu pemberani juga
ya...(tersenyum)
Ana :Ini demi kamu, Za(di dalam hati)
“Baru tahu ya....”(bergurau)
Giza
:”Kamu tadi izinnya gimana emang”
Ana :”Aku bilang kalau kamu kecapean, suka
muntah-muntah.. Peace dan maaf aku cuma bisa ngomong itu”.
Giza
:”Ngga gitu kali Ana! Gimana kalo semuanya denger? Ada-ada aja kamu ini..”
Ana :”Aku bilangnya bisik-bisik aja ke seniornya.
Aku juga ga akan bicara di depan semua orang kali...”(tertawa)
Giza
:”Ana, Ana,. Kamu memang pintar. Aku sangat beruntung punya
sahabat seperti kamu”(sambil menggeleng-gelengkan rambut Ana)
*
Hari terakhir Ospek pun selesai. Giza
dan aku lega,begitu juga peserta lainnya lega mendengar itu dan mereka siap
menimba ilmu di Universitas yang dibanggakan itu. Saat aku dan Giza asyik
mengobrol sambil makan di kantin, ada seorang cowo menghampiri kami.
*
Dani
:”Hei!”(menepuk pundak Ana)”Masih ingat kan sama gue?”
Ana :”Emmmm Oh ya,,,, Dani kan?”
Dani
:”100% buat loe., by the way loe belum ngasih tau nama loe ke gue...”
Giza
:”An, suruh dia duduk kali,,,,,jahat amat”
Ana :”Oh, ya...Dani, kamu duduk di sebelah
Giza..”
Dani
:”Okay my friend!!!”
Ana :”Kenalin, aku Ana, dan ini Giza”.
Dani
:”Ana,meskipun aku kecewa sama kamu, aku tetep mau jadi sahabat kamu”(dengan
nada jealous)
Ana :”Kecewa? Kenapa?”(heran)
Dani
:”Ngga, aku bercanda aja ko”.
“Selamat ya, buat kalian. Dari kapan
kamu jadian sama Ana, Za?”
Giza
: (tersedak air minum)”Kita ga pacaran. Kita cuma sahabatan sejak SMA, makanya
kita akrab”.
Dani
:”Hah? Cuma sahabat? Asyik, nih....”
Ana :”Kenapa asyik?”
Dani
:”Oh.ngga”
“Emmm,boleh ga aku masuk jadi daftar
sahabat kalian.Boleh ya An?An?””
Ana :’Tanyain sama Giza aja..”
Giza
:”Ya, boleh lah, masa ngajak jadi sahabat ditolak. Aku sih welcome aja.”
Dani
:”Za, ngomong-ngomong kamu kan yang waktu itu nyatain cinta sama seseorang di
Ospek??”(bertanya penasaran)
Giza
:”Oh ....iya”.
Dani
:”Gimana rasanya, Za?”
Giza
:”Ya, malu lah di depan banyak orang gitu! Untungnya itu Ospek aja, jadi
peserta lain juga ga serius nanggapin momen itunya. kamu juga ga percaya kan
aku waktu itu nyatain gitu?”
Dani
:”Gimana aku bisa percaya,,, waktu itu yang ada di pikiranku cuman ngebayangin
rasanya kalau aku di posisi kamu. Saking tegangnya, aku sama sekali ga
nanggepin kalo kamu lagi nyatain cinta”
Giza
:”Bagus lah..”
Dani
:”Terus, aku suka bingung kenapa waktu itu Ana langsung bawa kamu ke luar
lapangan? Ada apa emang”
Ana :”Udahlah jangan bahas tentang Ospek mulu.
Kepo amat sih?”
*
Giza kemudian mengambil obat di
sakunya. Dani terlihat bingung melihat Giza yang langsung menelan obat itu.
*
Dani
:”Za, tuh obat apaan?”
Ana :”Itu vitamin”.
Giza
:”Iya, Dan,, lagi sariawan”.
Dani
:”Aku aja ya yang lagi sariawan segede jempol(sambill
membuka mulutnya) kaga pernah pake vitamin segala.Lebay banget sih kamu...”
Ana :”Dani, bukan Giza yang lebay. Tapi kamu yang
ga sayang sama tubuh badan kamu. Masa sariawan segede jempol di biarin....”
Giza
:”Udah udah,..Kenapa sih! Kita pulang sekarang aja yu!”
Ana :”Dan, kamu mau bareng ga?”
Dani
:”Iya dong sahabat......”
*
Giza, aku, dan Dani pun pulang
bareng. Karena tidak searah, Dani pulang terlebih dahulu. Rumahnya juga tidak
jauh dari kampus itu. Kami bertiga masih satu perumahan.
Di
gerbang kampus, aku baru ingat kalau ternyata aku melupakan sesuatu. Hpku
tertinggal. Dalam waktu yang sama pula, Rasi juga baru pulang dari kampus itu.
*
Ana :”Za, Aku.......ada yang ketinggalan deh,
tunggu dulu disini bentar ya.”(tampak bingung)
Giza
:”Gue nunggu disini ya”(menunggu di gerbang kampus)
Rasi
:”Hei, kamu yang waktu itu....(belum selesai bicara)
Giza
:”Yang jadi pasangan aku di Ospek kan?”(menebak))
Rasi
:”Ya, by the way........kita belum kenalan. Namaku Rasi”(memberikan tangannya)
Giza
:”Aku Giza, kamu baru pulang juga?”
Rasi
:”Ya, ada pendaftaran club dance gitu, aku ikutan.”
Giza
: (berhenti sejenak)”Nama kamu lucu Rasi?”
Rasi
:”Kamu juga, nama Giza itu jarang loh..”
Giza
:”Mudah-mudahan besok kita bisa ketemu lagi...”(tiba-tiba ia langsungmerasa
pusing)
Rasi
:”Amiin. Za, kamu pulang bareng siapa?”
(belum
sempat menjawab prtanyaan Rasi, Giza kemudian langsung jongkok lemas. Dari
jauh, aku berlari dan langsung mengajak Giza berteduh mumpung ia belum jatuh
pingsan, Rasi melihat Giza sangat gemetar dan ia merasa aneh pada Giza, Ia juga
mengira kalau aku adalah pacarnya Giza. Rasi pun pulang sendiri karena tidak
enak melihat Giza dan aku berdua disana.
*
Ana :”Za, padahal kan tadi obatnya udah dimakan.
(sambil memberi minum Giza di pos dekat gerbang)
Giza
:”Aku juga ngga tau, An? Mungkin harus makannya dua kali ya.....”
Ana :”Kamu harus iku aturan, kalau tulisannya 1 × 1, berarti udah
segitu.......Mungkin kamu terlalu
kecapekan”.
Giza
:”Mungkin cape aja ya,”
“Yu,pulang sekarang aja....”
*
Esoknya
Giza
:”Ke kantin yu, An?”
Ana :”Oke, yu...”
*
Ana :”Tuh,, Dani udah nunggu kita
kayanya”.(menghampiri Dani yang duduk sendirian)
Giza
:”Hei, Dan! Kamu sendiri?”
Dani
:”Aku nunggu kalian kalleeee..(nada kesal)
Ana :”Maaf kalau nunggunya lama, Dan”,
Dani
:”Kalau kamu yang minta maaf mah pasti dimaafin lah.”
(seperti
biasa, Giza minum obat lagi siang iitu)
Dani
:”Giza.....Giza. Belum sembuh juga kamu...Sariawan apanya sih?”(heran)
Giza
:”Segitu perhatiannya sama sahabat baru kamu, sampai kepoin masalah sariawan...”(nada
bercanda)
Dani
:’Iih, GR,,,,,,udah, aku ga jadi nanya”.
(Dani
pun nngobrol dengan dua sahabat barunya ittu dengan penuh keceriaan dan
keakraban)
Giza
:”Ana, Dani! Aku ke sana dulu ya, pengen yang pedes-pedes!”
Dani
:”Za, aku beliin ya...Ana juga!Hehe”
*
Rasi
:”Hei, ketemu lagi Za, Kamu suka pedes juga?”(di depan pedagang kentang goreng)
Giza
:”Kalau manis terus, nanti semut kelaparan , kasian.
Rasi
:”Hah?Emmm.........Ooooh, ya, Kamu bener, Za.Aku lemot, hehe...”
Giza
:”Mau makan bareng aku sama temen-temen ga?”
Rasi
:”Tapi, aku juga udah ditungguin sama temen-temen..”
Giza
:”Oh, ya ngga apa-apa sih”.
Giza
:”Eh ,Za. Nanti pulangnya boleh ga kita ketemuan dulu.Ngga jauh-jauh ko, di
taman kampus aja..”
Giza
:”Oh,Oke.....aku kesana dulu ya!”
*
Dani
:”Lama amaaaat,tidur dulu?”
Giza
:”Aku ketemu Rasi,kita ngobrol dulu bentar..............”
Ana :Rasi? Ko kayanya Giza bisa seakrab itu sama
Rasi? Siapa itu Rasi? Aneh, aku belum pernah liat Giza nngobrol sama cewe yang
ia baru kenal...Apa ini yang namanya
cemburu?(didalam hati)
Giza
:”Woiii,..... Hei,......Hello,., hello Ana! Melamun itu
bisa jadi kebiasaan tau.....”
Ana :”Hah”(kaget sambil tersenyum malu)
*
Seperti biasa aku, Giza, dan Dani
pulang bareng........
Giza
:”ku,..ada janji.Emm ketemuan sama Rasi di Taman. Kalian mau duluan apa
nungguin?”
Ana :”Aku nunggu kamu aja, Za!”
Dani :”Ya,...aku sih terserah Ana aja”.
*
Ketika Giza pergi meninggalkan kami berdua. Aku dan Dani berdua
disana. Dani sebenarnya suka denganku, tapi ia malu mengungkapkannya
*
Nampaknya
Rasi jajan dulu di luar kampus. Jadi, begitu Giza menuju Taman, Rasi tidak ada
di sana.Giza melihat kanan kiri, kemidian ia melihatnya diluar gerbang kampus
belakang sedang membeli sesuatu. Ketika Rasi menyebrang, sebuah mobil melintas
menujunya,
*
Giza
:”Rasi, awas!!!”
(Giza
berlari dan mendorong Rasi ke luar jalan.Bahu Rasi mengenai roda pedagang di
sana.Sedangkan Giza terguling ke rumput samping jalan itu)
*
Namanya juga laki-laki. Giza yang
terluka langsung terbangun dan menghampiri Rasi. Rasi mengalami lecet di bahu
kanannya. Sedangkan Giza memar di lutut, sikut, dan di telapak tangannya. Giza
segera membawa Rasi ke ruang kesehatan. Asi yang lemas terus melihat Giza yang
begitu perhatian mengangkatnya ke ruang kesehatan di kampus.
*
Giza
:”Kamu ga apa-apa kan?”
Rasi
:”Cuma lecet aja, kamu sendiri gimana,Za?”
Ana :”Giza!”(tersenyum lega , tapi panik)
“Aku denger kamu ketabrak?”(khawatir)
Dani
:”Lagian kamu malah ke jalan, katanya mau nemuin Rasi di Taman...”
Giza
:”Aku udah ketemu ko sama Rasi, ini Rasi”(melihat Rasi yang terbaring di tempat
tidur ruang kesehatan)
Rasi
:”Hai, aku Rasi (sambil
terbaring masih sedikit lemas)
Ana :”Hai, Rasi,...
“Dan, kita ke luar yu.Giza kan
ketemuannya sama Rasi, bukan kita”(jutek dan agak kesal)
Giza
:”Makasih An, Dan.....”
(Ana
dan Dani menunggu di luar)
*
Rasi
:”Za, makasih ya, kalau kamu ga disana, mungkin aku udah di rumah sakit sekarang”.
Giza
: (tersenyum)”Bentar ya, Ra...”(sambil ke luar ruangan)
“Ana, kamu bawa kan?”
Ana :”Ini....(sambil memberikan obat Giza dengan
wajah sedikit murung)
Giza
:”Kamu kenapa An? Sakit juga?”(sambil memeganh pipi dan kening Ana)”Iiih, panas
banget An, mendidih! Udah....jangan cemberut ah!jelek tau..”
Ana :”Giza, udah ah ga lucu!!”(sambil melepas
tangan Giza yang ada di keningnya itu)
Ternyata.........Giza masih
perhatian sama aku (dalam hati, Ana senang)
Dani
:”Iya nih Za! Dari tadi aku ajak ngomong ga pernah dijawab. Kenapa? Kamu sakit
beneran?”(sambil memegang kening Ana)
Ana :”Idiiih, apa sih Dan? Aku baik aja!”(tidak
mau di pegang Dani)
Giza
:”Aku ke dalam lagi ya.......”(masuk ruangan)
(Giza
minum obat yang diberikan Ana itu disamping Rasi)
Rasi
:”Aku yang ngebaring di sini, ko kamu yang minum obat?”Lucu deh”(tersenyum)
Giza
:”Ini vitamin ...”
Rasi
:”Za, temen-temen kamu di luar ga apa-apa nunggu?”
Giza
:”Ngga lah. Mereka baik ko,tenang aja...”
Rasi
:”Mereka pacaran, Za?”
Giza
:”Ngga. Ana dan Dani ga pacaran. Ana itu.....(belum selesai bicara)
Rasi
:”Oh....(memotong pembicaraaan,,,,Rasi menganggap Ana itu benar-benar pacar Giza)
“Za, aku boleh minta nomor kamu ga? Kalau
ngobrol lama di sini,
aku ngga enak sama temen-temen kamu di
luar”(sambil memberikan Hpnya)
Giza
: (memasukkan nomor Hpnya)
Rasi
:”Makasih ya, Za. Aku pulang sekarang aja, temen-temen kamu udah nunggu lama”.
*
Rasi
:”Ana, Dani, maafin aku ya.....Karena aku, kalian nunggu lama”
Giza
:”Ngga apa-apa kali Ra!Ana dan Dani juga ngerti keadaan kamu...”
Ana :”Iya, aku ngerti keadaan kamu, Za.”(menatap
pada Giza saja)
(Ana
terlihat kurang suka pada Rasi)
Dani
:”Tenang aja Ra, kita ngerti loe..”
Giza
: (tersenyum)”Untung aja Dani ngomong gitu.Kalau ngga, gur takut Rasi ga enak
perasaannya denger Ana bicara (dalam hati)
*
Rasi pulang dijemput Ayahnya. Sedangkan
tiga sahabat itu seperti biasa pulang bersama.....
*
Di rumah, Rasi mondar-mandir sambil
memegang Hpnya. Ia ragu untuk menelepon Giza, Tapi akhirnya ia memberanikan dirinya.
Di waktu yang sama,Giza sedang menonton TV di kasur kamarnya.Hpnya pun
berbunyi....
*
Giza
:”Halo?”
Rasi
:”Hai, Za.Coba tebak ini siapa?”
Giza
:”Rasi?”(menebak dengan cepat)
Rasi
:”Right!!Ko tau sih Za?”
Iyalah,
dari suaranya aja aku udah bisa tau...”
Za, aku ga tau kenapa sekarang aku nelpon kamu...”
Giza
:”Aneh...Kangen?”
Rasi
:”Emmm mungkin. Oh ya, maaf lagi yang tadi siang ya,......”
Giza
:”Aduuh, Ra! Masih
aja kamu mikirin itu. Ana sama Dani ga apa-apa ko”
Rasi
:”Oya, Za, kamu inget ga waktu pertama kita kenalan di gerbang waktu itu?”
Giza :”Ingat, memang ada apa?”
Rasi :”Kamu waktu itu lagi sakit ya?”
Giza
:”Oh,...iya mungkin lemes aja..”
Rasi :”Ko bisa pas banget ya. Pas kamu mau jatuh, Ana langsung ada di sampig
kamu. Dia lari loh dari jauh...”
Giza
:”Ana itu baik banget dan dia yang paling ngerti aku dari dulu sampai
sekarang.”
Rasi
:”Oooh, Ana itu...(mau bertanya soal Ana pacar Giza atau tidak) Eh,,ngga jadi
deh Za?
Ana
itu apa?”
Ngga,,,,
ga penting ko..”
Eh, Ra. Kayanya ini udah malem banget. Cepet tidur biar besok ga ngantuk. Kita
lanjutin besok ya..”
Rasi
:”Oke,, Hoooaaam!(suara Rasi menguap)See you Za!”
*
Esok hari di sepulang dari kampus
Giza dan Rasi ketemuan di taman belakang. Kali ini aku harus tahu, jadi aku terus membuntuti Giza.
Aku ingin tau seberapa dekat Giza dengan Rasi.
*
Ra,
udah lama nunggu?”
Barusan ko Za”
By
the way, kamu mau ngomongin apa?”
Cuma mau ngobrol-ngobrol aja ko,ga ganggu kan?”
Nggalah...tenang
aja”
Oya,
Za. Ana itu.....setia banget ya sama kamu?”
Iya banget. Dia cewe paling baik. Pokoknya dia adalah sahabat yang gak pernah
ada yang akan bisa gantiin dia buat gue”.
Hah? sahabat?”
Ya, ada apa Ra?”
Sahabatan aja?”
Ya
ampun aku ini emang muka bohong ya...”
Tapi,..kamu
berharap ke dia?”
Berharap?? Maksud nya.... pacaran?”
Ya,,,,
mungkin iya..”
Ga
lah. Kita udah sahabatan dari SMA. Aku ngerti dia, dia ngerti aku. Kita sebatas
sahabat aja, ga lebih...”
*
Mendengar
itu, aku yang berdiri di samping pohon besar dekat Giza dan Rasi hanya bisa duduk
menangis mendengar Giza yag menganggap kita tidak lebih dari sahabat. Padahal,
aku begitu mencintai Giza. Tapi, aku tidak bisa memaksakan perasaan Giza,
asalkan Giza senang, aku juga merasa senang walaupun hatiku sangat sakit.
*
Za,
maaf ya. Aku kira kamu sama Ana itu
pacaran.Makanya aku agak jutek waktu itu.
Udah...yang
penting sekarang ga ada lagi salah paham di antara kita.(sambil memberikan jari
kelingkingnya)
(membalas dengan mengaitkan kelingkingnya itu)
*
Nampaknya, Rasi juga menyukai Giza.
Walaupun mereka baru bertemu beberapa hari yang lalu, tapi Rasi merasa kalau
Giza itu berbeda. Giza adalah cowo yang klop di hatinya. Begitu pun Giza, ia
menganggap Rasi adalah cewe yang juga nyaman dengan dirinya. Di lain
pembicaraan, Ana yang sedang merenug di taman keudian dihampiri Dani dari
belakangnya.
*
Ana,
kenapa kamu?”
Ngga Dan, cuma kelilipan...”
Ana,,,,
boleh gak aku ngomong sesuatu sama kamu...”
(Ia sudah mengira kalau Dani pasti akan nembak
dia saat itu)
“Ngomongin apaan Dan?”
Ana,, sebenarnya dari pertama aku ketemu kamu, aku udah suka sama kamu..Boleh
kan aku jadi pacar kamu?”(sambil memberi bunga kecil)
*
“Aduuh,
aku harus menjawab apa!,, Hatiku hanya untuk Giza, tapi Giza hanya menganggapku
sahabat saja. Mungkin, aku terima saja Dani ya.., meskipun hatiku tidak memihak
pada Dani)
Ana :”Iya, Dan..”(menerima bunga)
Dani :”Ana, aku ga mimpi kan? makasih Ana
ku....”(sanat gembira)
Ana
:”Tapi, kamu jangan mudahjealous ya kalau aku lagi baareng sama Giza. Kamu bisa
ngerti aku ya, Dan...”
Dani
:”Siap ayang...Pokonya meski kamu bareng sama orang terkeren di dunia dan
sejealous apapun aku sama kamu, aku ga akan marah. Aku tetep cinta sama
kamu,,,”
Ana :”Gombal kamu Dan”.
*
Giza
:”Halo, Ra?”(mengangkat telpon di malam hari)
Rasi :”Maaf aku jam segini nelpon kamu...Aku ga bisa tidur nih...”
Giza
:”Gitu ya,kenapa?? Jangan bilang ga bisa tidur karena mikiin gue? hehehe...”
Rasi
:”GR banget sih Za! emmmmm..Iya deh, aku ngaku ...aku sedikit mikirin....
Giza
: (batuk-batuk) “Tuh kan bener kamu kangen..”(Tiba-tiba Giza langsung lemas
tanpa sebab)
Rasi
:”Ya udah deh, aku Cuma pengen ngobrol itu aja.Za, udah malem banget nih, aku
tutup ya.”
Giza :”Ya”(suara pelan sambil menghela napas)
Rasi
:”Za?Masih disitu kan?Selamat tidur...”
(Hp
Giza lepas dari genggamannya,lau jatuh ke lantai...Giza lalu jatuh pingsan)
Rasi
:”Loh...ko putus. Aneh banget Giza ini...udah ngantuk berat kali ya....”
*
Seperti biasa Papa Giza memang suka
menengok anak tunggalnya tidur .Saat
Papa masuk kamar Giza, Giza tergeletak di lantai dekat tempat tidurnya.
Kemudian Papa memeganng nadi Giza. Ia begitu shock, Giza sangat lemah.
Papa
:”Bi......Bi...Bibi...tolong!”
*
Tidak lama kemudian Giza terssadar
dan papanya segera memberi obat pada Giza. Lalu Giza tertidur kembali.
Papa
:”Giza, jaga kondisi kam nak! Jangan biarkan Papa sedih, jangan biarkan papa
sedih,Za..”
*
Pagi
hari saat di kampus, aku bingung mencari Giza di mana-mana
Ana :”Biasanya dia jam segini lagi disini baca
buku! Giza,kamu dimana?”(hampir menangis)
Dani
:”Hei, Yang! Oh...pasti lagi nyari Giza kan? Mana anak itu ya?
Ana :”Dari tadi aku nyari,,,tapi ga ada...”
Dani
:’Coba telpon!
Ana :”Udah,tapi ga aktif Dan ...”
Dani
:”Gimana kalau ke nyokap atau bokapnya?”
Ana :”Ya, kamu benar...Bentar, aku cobaa
(Dani
melihatku yang begitu perhatian terhadap Giza, ia kayanya sedikit jealous,,Tapi mau apa lagi, ia tetap
cinta denganku)
*
Ana :”Halo,Om?”
Papa
Giza :”Ini pasti Ana kan?”
Ana :”Iya,Om,,, emmm Gizanya hari ini ke kampus
ga Om?”
Papa
:”Kayanya hari ini Giza absen ...Giza sakit lagi..”
Ana :”Hhhh....dari kapan Om?”
Papa :”Kemarin pas Om masuk kamar, Giza udah pingsan. Ga tau jelas dari
kapan,,,”
Ana :”Kalau gitu salam buat Giza, Cepet sembuh.
Kalau sempat, nanti pulangnya aku kesana..”
Papa
:”Iya, makasih an..”
*
Ana :”Dani, kamu mau ikut ke rumah Giza?”
Dani :”Iya dong yang..Masa sahabat sakit ga dijenguk”.
Ana :”Kalau gitu, cepet....keburu hujan!Cuacanya
ga enak....”
*
Ana :”Assalamu’alaikum Om!”
Papa
:”Waalaikumsalam, Ana makin cantik aja...Uda segede gini lagi ya....”
Ana :”Oh iya Om, kenalin ini Dani...”
Dani
:”Dani, Om,,,selamat sore!Saya sahabat baru Giza dan pacarnya Ana...”(dengan
suara yang tegas)
Papa
:”Hah? Ana, kamu udah punya pacar? Kamu
pacar Ana?(melihat Dani) Kirain kamu ini....(sedikit kecewa karena Papa ingin
Ana menjadi pacar Giza)
Ana :”Iya, Om...(agak malu-malu)
“Oya Om,Gizanya di mana?”
Papa
:”Dia lagi istirahat di kamarnya..”
Dani :”Kita boleh masuk ke kamarnya sekarang, Om?”
Papa
:”Boleh”(agak jutek pada Dani)
Dokter
pribadi :”Hai, Pak Andre(papa Giza)..Maaf, saya terlambat”
Papa :”Ngga apa-apa. Silahkan masuk, Pak!
“Ana, Dani ayo masuk...”
Dani
:”Yang..!Temennya Om itu dokter ya?”(sambil berjalan, berbisik dan melihat
orang yang berseragam putih itu)
Ana :”Itu dokter pribadinya Giza...”
*
Ana :”Gizaa?”(sambil mengtuk pintu menunggu Giza)
Dani
:”Za, Ini kita Dani dan Ana..”
(Giza
yang sedang terbaring mendengar sahabat sahabatnya itu dan segera melepas alat
bantu pernafasan di hidungnya)
*
Karena tidak mendengar jawaban Giza,
aku langsung membuka pintu kamar Giza dengan terburu-buru dan khawwatir. Aku
sangat takut keadaan sahabatnya itu.
*
Ana :”Za!Za, ? Jangan dilepas!!!”(suara bergetar
sambil berlari ke arah Giza )
Giza
:”Udah ga apa ko, An..”(masih berusaha melepas alat yang menempel di hidungnya
itu)
Ana :”Za, udah...pake lagi aja. Kita ngga apa-apa
kalau kamu ga bisa ngobrol dulu sama kita. Udah kamu pake lagi ya...”(nada
khawatir)
Giza
: (memegang tangan sahabat perempuannya itu) An,tenang deh...Aku sudah ga
apa-apa kali, kamu berlebihan banget..”(dengan suara pelan sambil tersenyum)
(Dani
hanya bisa melihat pacarnnya (aku) khawatir yang berlebihan dengan Giza, ia
pasti sangat cemburu. Akan tetapi, ia sangat mengerti perasaanku ini. Ia juga
mengerti keadaan Giza yang sedang sakit)
Giza
:”Dan,,! Kamu ko diem aja? By the way, makasih udah nengok ...”
Dani
:”Aku....diem karena aku bingung sama kamu, Za!”(Dani tampak mencari-cari
alasan, padahal sebenarnya ia diam karena cemburu dengan sahabatnya itu)
Giza
:”Kamu bingung kenapa, Dan??”(tersenyum)
Dani
:”Baru kali ini kamu nemu orang selebay kamu, Za. Waktu sariawan, minum
vitamin. Sekarang sakit, langsung pake alat ginian segala...”
Ana :”Dan! Tetep aja kamu ngomong kaya gitu! Aneh
aku sama kamu...”(nada pelan tapi marah)
Dani
:”Bercanda ko sayaaaang.....Giza juga ngga nganggap serius kan ya, Za!...”
(Giza
hanya tersenyum pada mereka)
Giza
:”Hah apa tadi?? Sayang???”
*(tiba-tiba Papa Giza masuk ke
kamar)
Papa
:”Giza sekarang gimana? Baikan?”
Giza
:”Udah baikan, Pah..”
Papa : (sambil membawa obat Giza ) Minum dulu ininya Za!”(menyodorkan obat yang
biasa diminum Giza)
“Oh ya...udah berapa lama pacaran
sama...siapa? emm...Dani ya?
(ketika
Papa berbicara seperti itu, Giza cepat-cepat meminum obatnya)
Giza
:”Siapa pah?? Kalian?”(sambil melihat
Ana dan Dani) Beneran? Akhirnya....Aku juga udah ngira dari awal kalau kalian
bisa jadian.”
Dani
:”Hehe,...baru ko, Om!”
Papa
:”Giza, kamu ga gimana-gimana kan sama mereka?”
Giza
:”Gimana apanya, Pah?”
Papa :”Oh,,, ngga jadi... Kalau gitu, Papa ke sana dulu ya? Kalau ada apa-apa
pannggil Om ya Ana!”(meninggalkan tempat tidur Giza)
*
Giza
:”Dani, Ana...selama dulu dong!(sambil memberikan tangan kanannya)
Dani
:”Za, kamu baik banget sih!”
Giza
:”Baik? Apanya, Dan??”(bingung)
Ana :”Udah....Dani cuma baru tu aja kalau kamu
baik..”(sambil mengedip pada Dani menandakan sesuatu)
(Dani
nampaknya tidak mengerti)
Dani
:”Bukan baik tu maksud aku yaaang...Cuman...(berhenti sejenak) “Za, kamu beneran
ga ngerasa gimana-gimana gitu sama aku?”
Giza
:”Emang aku gimana? Ga ngerti sumpah....
Dani
:”Kamu ngga marah gitu?”
Giza
:”Ya ngga lah...(Giza masih bingung mengapa Dani bertanya seperti itu. Padahal
maksudnya apakah Giza cemburu atau tidak pada Dani dan Ana) Malah gue seneng,, karena
sekarang loe ada yag ngurusin, Dan! Ya kan, Ana?”
Ana : (hanya tersenyum sambil memegang
selimut Giza )
Giza :”Emmm....(berhenti sejenak)
Ana, kita bisa ngobrol bentar ga di
sini? Boleh,kan??”
Ana :”Boleh lah.... Dani, kamu ga
keberatan kan nunggu bentar aja di luar?”
Dani :”Oh oke An, tapi bentar aja ya,....”
*
Dani pun keluar kamar dan berjalan
ke ruang tengah. Dani melihat Papa Giza mengobrol dengan dokter pribadi Giza.
Ia pun mengintip jauh mereka dan ia sedikit mendengar pembicaraan mereka.
Papa
:” Pak Feri (sebutan dokter pribadi Giza)Gimana hasil test kesehatan Giza waktu
itu?”
Dokter
: (menarik napas) “Ini hasilnya “(sambil memberikan laporan hasl tes)
Papa
:”Pak Feri,apa maksudnya ini?”(setelah melihat semua laporannya)
Dokter
:”Ya, Pak Andre ...itu adalah hasil test kesehatan Giza yang benar-benar
murni...Keadaannya sudah sangat parah”
Papa
:”Tapi, berapa lama Giza masih bisa bertahan?”
Dokter :”Mungkin hanya beberapa hari, Pak Andre...Saya dan tim sudah berusaha
sebisa mungkin, tapi memang penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Kecuali
takdir Tuhan berkehendak lain...”(sambil menepuk pundak Papa Giza)
Papa
:”Astagfirullahaladziim...Ya Tuhan...”(menutup wajah dengan kedua tanganya sambil menangis)
*
Dani sangat panik dan tidak percaya
penyakit yang ada pada sahabatnya itu bisa separah yang dikatakan Dokter. Ia
semakin empati pada Giza dan semakin mengerti keadaan Giza.
*
Ana :”Giza, ada apa?”
Giza :”An, Dani ga tau kan gue sakit apaan?”
Ana :”Tenang aja Za..Ngga tau ko...
Giza
:”An, aku takut kamu berubah..”
Ana :”Berubah gimana,Za?”
Giza :”Aku takut ga ada lagi yang perhatiin aku nanti..Papa, Dani, dan yang
terpenting kamu, An..”
Ana : (tersenyum) sebenernya aku sangat sayang sama
kamu,Za dan itu ga akan pernah berubah ..(di dalam hati)
(Ana
pun duduk dan membereskan selimut Giza)
Giza
:”Kamu memang sahabat terbaikku.. Aku sayang sama kamu, Ana..(lalu memeluk Ana)
Ana
:”Aku juga, Za...cepet sembuh ya...”
(Dani
idak sengaja melihat Ana memeluk Giza, Tetapi saat ini, Ia semakin mengerti
keadaannya)
Ana :”Dani, kita pulang yu....Giza perlu
istirahat..(sambil ke pintu luar pintu kamar melihat Dani)
Dani :”Oke,,,yu ana sayang...
“Za, jaga diri loe baik-baik ya...”
Ana :”Kita pulan dulu, Za...!”
*
(Di
perjalanan pulang dari rumah Giza, mereka berjalan)
Dani :”An, kamu sahabat Giza dari SMA kan?”(berhenti berjalan lalu memegang
tangan Ana)
Ana :”Iya, Dan...
Dani
:”Sekarang kamu jujur sama aku. Giza itu sakit
kan?”
Ana :”Seperti yang kamu liat tadi, dia
emang lagi sakit..”
Dani :”Maksudnya itu,....Dia bukan sakit biasa kan? Tolong jawab Ana sayaaang, please..”
Ana :”Kenapa kamu ngotot kaya gitu,Dan?”
Dani
:”Sayaaang ....(mencoba menahan emosi Ana)
“Tadi aku ga sengaja denger
pembicaraan Papanya Giza dengan Dokter itu..”
Ana : (langsung kaget dan menatap Dani)
Dani
:”Mereka bilang,.....Giza sudah sangt parah. Ia Cuma bisa bertahan dalam
hitungan.....HARI....(Nada pelan)
Ana : (menangis terisak)
“Dia itu...kena LUPUS,
Dan!”(langsung memeluk Dani dan menangis)
Dani :Ya Allah...
“Udah sayang, aku ngerti perasaan
kamu...”
*
Giza
menelepon Ana malam itu
Giza
:”Halo, An?”
Ana :”Giza? Kamu udah sembuh? Kamu belum
tidur?:”
Giza :”Bahkan lebih baik dari sebelumnya,An..
“Oya,...besok di kampus pas
istirahat tunggu gue di taman ya?”
Ana :”Iya Za...”
Giza
:”Udah itu aja...Cepet kamu tidur,jangan sampe kurang tidur..!”
Ana :”Selamat tidur ..”
*
Perasaanku saat itu sangat senang
karena Giza akan hadir di kampus besok...
Sementara
itu, Rasi yang sedang di rumahnya juga membayangkan Giza, Ia juga heran mengapa
ia bisa menyukai cowo secepat itu. Padahal, baru satu minggu ia kenal dengan
Giza.
*
Ana :”Za, udah lama nunggu?”
Giza :”Ngga lama ko Ana..”
Ana :”Ngomong-ngomong, ada apa Za...”
Giza
:”Ana, kapan ya...aku bisa punya pacar kaya kamu sama Dani?
Ana : (menatap Giza)”Za, kalau masalah itu,
kehendak Tuhan. Kamu bisa menemukannya saat pertama kali bertemu atau orang
yang sering banget ketemu kamu, Za..”
Giza :”Kamu bener Ana..”
(aku berharap Giza sadar akan diriku yang selama ini menyayanginya dari dulu)
Giza
:”An, aku suka sama...Rasi..”
Ana : (berwaajah sangat kecewa)”Emmmm
Rasi yang waktu itu ketemuan sama kamu?”
Giza
:”Iya....
(Tidak
dipungkiri Ana memang kecewa, tapi memang itulah pilihan Giza)
Ana :Yang penting kamu bahagia Za...(di dalam hati
mencoba tegar)
Giza
:”Tapi, aku takut ga ada waktu lagi buat ngungkapinnya..”
Ana :”Sekarang aja, Za. Pulangnya....kamu bisa
langsung temuin Rasi...”
Giza :”Apa aku bisa?”
Ana :”Kamu pasti bisa, Za (memberi semangat pada
Giza dengan hati yang menangis)
Giza :”Aku latihan dulu disini ya....
“Ana, kalau aku masih ada waktu, aku bakal nembak lansung ke
Rasi. Tapi, kalau waktu ga mendukung, aku minta kamu buat katakan pernyataan
aku ke Rasi ya...”(serius)
Ana :”Kamu jangan bicara gitu Za. Jangan bicra
soal waktu.....Kamu pasti bisa...”
Giza
:”Ya Ana aku bercanda aja ko,,”(Giza nampaknya punya firasat buruk dengan
keadaannya)
“Ana, kamu duduk depanku, ya?”
(Aku
pun duduk di depan Giza dengan hati yang
sakit karena Giza akan latihan menembak Rasi dengan dirinya)
Giza
:”An, kamu ngga keberatan kan jadi Rasi dulu. Ceritanya aku mau latihan nembak Rasi... Biar ga
gerogi... HeheheJ
Ana : (hanya terdiamdan meng-iyakan)
Giza
: (berhenti sejenak)
“Emm... aku sayang sama kamu (sambil
memegang tangan Ana)
Ana : (mendengar Giza berbicara seperti itu, Ana
menangis)
Giza
:”Aku sayang sama kamu..”(kemudian memeluk Ana)
*
Tanpa sepengetahuan kami, ternyata
ketika Giza memberi pernyataan tersebut, Rasi tidak sengaja melewati tempat
dimana Giza dan aku duduk disana. Ia mendengar pernyataan cinta yang
dilontarkan padaku dan ia melihat Giza memelukku. Arhh...Rasi menyangka Giza
menembak Ana sahabatnya. Ia pun langsung pergi sambil menangis...
*
Giza
:”Makasih Ana,... Sekarang aku sudah lega...”
Ana :”Za, aku dan Dani dukung kamu untuk nyatain
perasaan kamu ke Rasi. Kita slalu ada di samping kamu..””
Giza
:”Pulangnya.... aku akan coba..”(menarik napas)
*
Sepulangnya dari kampus, aku segera
memberi tahu Dani kalau Giza akan menembak Rasi. Kami segera menemui Giza yang
biasa duduk di koridor kampus sambil mendengarkan musik itu...
Dani
:”Za, udah siap??”
Ana :”Za, kita dukung kamu. Ayo nyatain
sekarang...!”
Giza : (menarik napas)”Biasanya jam segini Rasi ada di taman...”(sambil
mengajak kedua sahabatnya itu ke taman belakang kampus)
Ana :”Itu... Rasi, kan???”(menunjuk ke arah Rasi
yang sedang duduk di bawah pohon)
(Rasi
sebenarnya patah hati setelahmelihat Giza tadi. Ia disana berusaha menenangkan
dirinya)
Dani
:”Ayo samperin,Za!”
(Giza menghampiri Rasi dari belakang)
Giza
:”Rasi!”
Rasi
:”Eh kamu, Za..”(sambil mengusap sebelah matanya yang terlihat meneteskan air
mata, lalu berpura-pura memanggil temannya karena tidak ingin bicara dengan
Giza)
“Hei... tunggu bentar... aku
ikut!!!”(melambai kearah temannya, Rasi mencoba menghindar dari Giza)
Dani
:”An,, itu si Rasi kenapa gitu sama Giza. Biasanya ga gitu dia sama Giza..”
Ana :”Iya.... nggak basanya dia seperti itu..”
(lalu
Ana dan Dani segera menghampiri Giza)
Ana :”Za... (ragu dan khawatir)
Dani
:”Za, dia belum pergi jauh... Kalau kamu memang cinta sama Rasi,cepat kejar
dia!”
(Giza
melangkah pasti ke arah Rasi)
Giza
:”Ra,...Ra! Bentar, aku mau....
Rasi
:”Maaf Za” (memotongpembicaraan) Sekarang aku ada urusan!!”
(Giza
terlihat kecewa lalu berbalik arah ke belakang )
Ana :”Giza, mungkin ini bukan waktu yang tepat...”(khawatir
dan sedih)
*
Dani penasaran dengan tingkah laku
Rasi yang berubah pada Giza. Dani meninggalkanku dan Giza tanpa pemberitahuan.
Ia mengikuti kemana Rasi berlari...
*
Dani
:”Tuh kan! Aku bener...”(melihat Rasi yang duduk termenung di taman samping
kampus)
(Dani
segera meneleponku dan memberi tahu keberadaan Rasi)
Dani
:”Sayang! Aku tahu dimana Rasi. Dia di taman samping kampus. Rasi bohong, dia
ga ikut sama teman-temannya!”
Ana :”Oke,,, nanti kita kesana! Makasih Dan..”
“Za, Rasi ada di taman samping
kampus kata Dani. Ayo buruan kita kesana...”
(Giza pun segera menuju taman dan ia melihat Rasi terdiam di sana)
Dani
: (Dari belakang Giza)”Za, masalah dia terima atau ngga itu belakangan. Yang
penting kamu bilang dulu ke dia biar kamu lega”
Giza
:”Kamu bener, Dan. Kalian tunggu disini...”
*
Giza
:”Ra, (langsung memegang tangan Rasi dari belakang)
Rasi
:”Apa lagi, Za!”
Giza
:”Kamu kenapa Ra?”
Rasi
:”Aku ada urusan, aku mau pergi Za, Lepasin!”
Giza :”Aku bener-bener ga ngerti Ra, kamu ini kenapa? (lalu melepas tangan
Rasi)
Rasi
:”Harusnya bukan kamu yang nanya. Tapi
aku yang harus nanya kamu yang kenapa? Udah, Za aku ga mau ketemu kamu
sekarang!”(pergi meninggalkan Giza)
Giza
:”Sekarang... dan mungkin untuk selamanya, Ra..”(Giza kecewa)
(Rasi
mendengar kalimat terakhir tadi tang diucap Giza dan ia tampak bingung)
“Ko
dia malah bicara “untuk selamanya” sih... dia tega....,”gumam Rasi.
*
Ana :”Ihh..(sambil memukul batang pohon)”si Rasi
kenapa sih!”(nada marah, kesal, dan hampir menangis)
“Dani, kamu sampein Giza! Tenangin
dia..., aku mau nyusul Rasi..”(sambil pergi meninggalkan Dani)
*
Ana
:”Hei, Rasi..!! (berlari dan langsung
mengambil tangan Rasi)
Rasi
:”Eh, An...”(berwajah lurus)
Ana : (ingin menampar pipi Rasi, namun ia adalah
orang yang pandai mengendalikan emosinya)
(Rasi
terdiam dan kaget)
Rasi
:”Ada apa kamu ini? ”(kaget melihat Ana yang sudah mengurungkan niatnya untuk
menampar Rasi)
Ana : (menarik napas) ”Kamu tega ya? Bikin Giza
seperti itu?”
Rasi
:”Jadi ini masih berkaitan sama Giza? Terus apa urusan kamu, An?
Ana :”Ra, kamu pikir matang-matang. Jangan
perlakuin Giza seperti itu!”
Rasi
:”Aku ga ada urusan sama kamu, An...”(hendak pergi)
Ana :”Ra, dia rela nungguin kamu di ruang
kesehatan, dia rela korbanin nyawanya demi nyelametin kamu, dan tadi..dia rela
lari-lari kecapekan cuma buat nyamperin kamu, padahal sekarang dia lagi...”(tidak
melanjutkan pembicaraannya)
Rasi
:”Ko jadi kamu yang marah... Aku juga perempuan, An! Seharusnya aku yang marah
sama kamu..”
Ana :”Apa maksud kamu, Ra! Yang jelas, kamu udah
ngecewain Giza tadi. Aku kira, kamu suka dan sayang sama Giza, makanya aku
dukung dia buat nyatan cinta sama kamu sekarang! Eh, ternyata kamu gini ..!”
Ana :”Kamu aneh Ana! Jelas-jelas aku tadi liat
Giza nyatain cinta sama kamu. Kenapa sekarang suruh Giza nyatain ke yang lain
hah?”(sedikit menangis)
(Ana
berpikir sejenak)
Ana :”Maksud kamu... tadi istirahat?”
Rasi
: (hanya terdiam)
Ana :”Ra, asal kamu tahu, tadi itu Giza nyatain
cinta ke kamu, lewat aku..., tadi cuma
latihan..”
Rasi
:”Kenapa harus lewat kamu? Itu Cuma alasan, An!!!”
Ana :”Kamu harus percaya, Ra! Ceritanya
panjang... Aku ga bohong, Giza cuma sayang sama kamu. Jangan sia-siakan
pengorbanan Giza buat kamu tadi!Aku taut dia....
Rasi
:”Dia apa!?”(nada marah dan menangis)
Ana
:”Aku takut dia sakit lagi,Ra!”
(Rasi
langsung diam dan menyesal telah mengecewakan orang yang juga disukainya itu)
Ana :”Sekarang, kita samperin Giza lagi,,Ra!”
Rasi
:”Tapi,,, aku...
Ana :”jangan ragu, Ra...Ayo!”
*
Ketika Ana menyusul Rasi tadi, Dani
punlangsung menghampiri Giza yang bediri tertunduk. Tiba-tiba Giza langsung
terjatuh dan kepalang tertunduk ke tanah..
Dani
:’Za? Kamu ga apa-apa kan?”
(Giza hanya menggelengkan kepalanya)
*
Tidak
lama kemudian,Giza pingsan dan terbaring di tanah,,,
*
Dani
:”Za, Za? Kamu kenapa? (kemudian Dani meminta pertolongan dan segera membawa
Giza ke rumah sakit)
*
Ketika Ana dan Rasi ke tempat Giza
dan Dani tadi, ternyata mereka sudah tidak di sana..
Ana :”Giza, Dani?”(lalu bola mataya langsung
tertuju pada tempat Giza tadi berdiri)
“Emm...ini kan...?”(sambil menemukan
obat Giza yang tergeletak di tanah)
Rasi
:”Itu apa, An?”
Ana
: (menangis terisak)”Dia ga bisa bertahan tanpa obat ini........”
Rasi
:”Hah?”(meneteskan air mata)
Ana :”Halo,,,, Dani, dimana Giza?”(tampak
terburu-buru menelepon Dani)
Dani
:”Giza tadi pingsan. Sekarang kita di rumah sakit. Kamu kabarin Papa Giza,
nanti aku kirimin alamatnya ke kamu..(Dani juga tampak panik)
*
Ana :”Halo, Om!”
Papa
:”Ana? Ada apa...?”
Ana :”Giza sekarang di rumah sakit....”
Papa
:”Giza? Ruangan apa, An?”
Ana :”Mawar nomer 2, Om...nanti dikabarin lagi
ya,”(menutup telponnya)
*
Kemana-mana Ana tidak pernah
membiarkan tangannya melepas Rasi. Ia sangat ingin Giza bertemu Rasi.Ia
langsung mengajak Rasi ke rumah sakit..
*
Rasi
:”An, sekarang kita ke rumah sakit?”
Ana :”Iya, kamu harus ikut. Kamu harus ketemu
Giza!”
Rasi
: (heran)
(didalam
hati ia berpikir mengapa Ana sangat ingin aku bertemu Giza. Padahal Rasi tahu
bahwa Ana suka dengan Giza dan mungkin Ana lebih mencintai Giza daripadanya)
*
(di
rumah sakit, terlihat Dani dan Papa Giza duduk di luar ruangan Giza.Lalu, Ana
dan Ras menghampiri mereka. Kemudian seorang dokter keluar dari ruangan Mawar
no. 2 itu)
Papa
:”Bagaimana anak saya,dok?”
Dokter
:”Dia hanya kelelahan,tapi saat saya kasih obat dia tidak mau, mungkin coba
oleh bapak..”(mempersilahkan Papa untuk memberikan obat yan di pegangnya pada Giza)
Papa
: (Dokter ini tidak tahu kalau Giza tidak makan obat itu <di dalam hati>)
“Boleh kami semua masuk ruangan,
Dok?”
Dokter
:”Silahkan,silahkan...”
(lalu
semuanya masuk ruangan kecuali Rasi)
Papa
:”Za, jaga kondisi kamu, nak!”
Giza :”Cuma capek mungkin,Pah...Iya kan An?”(mengedipkan matanya pada Ana)
Ana :”Oh iya, ini tadi jatuh di kampus...”(sambil
memberikan obat pada Giza)
Giza
:”Ngga usah,udah sembuh ko.....simpan, buat kenang-kenangan aja...”
Papa
:”Ada-ada aja kamu, masa obat jadi kenang-kenangan..!Kalau gitu,Papa keluar
dulu ya...”
(Di
luar, beliau bertemu dengan Rasi. Saat
beliau menanyakan Rasi itu siapa Giza, Rasi menjawab bahwa ia teman kampus
Giza. Kemudian Papa memprsilahkan Rasi masuk, tapi Rasi sendiri ragu,..)
*
Dani
:”Kamu beneran udah sembuh, Za?”
Giza
:”Sebentar lagi aku udah bisa pulang ko, beneran,...”
Ana :”Za, menurut aku, kau istirahat aja dulu di
sini, Biar kalau ada apa-apa mudah nantinya. Aku yang akan absenin kamu di
kampus..”
Giza
:”Ana.... Ana... Kamu segitunya.Ngga usah kali...(tersenyum)
Dani
:”Iya tuh Ana sayaaang. Giza bilang dia udah sembuh.(nada sedikit cemburu)
Giza
:”Ohya,.. (sambil memegang pundak kedua sahabatnya yang duduk di kasur bersama
Giza)”Dan, kalau misalkan temen deket kamu pergi jauh hari ini, kamu bakal
ngapain?”(nada bergurau)
Dani
:”Aku sih,bakalan nemenin dia sampe keberangkatannya...emang kenapa, Za..?”
Giza :”Ngga. Aku... juga bakal ngelakuin itu.Kalau kamu, An? Gimana kalau aku
yang pergi jauh?”
Ana :”Ko bicara itu sih? Ya..... kalau kamu
pergi, yang pasti aku kehilangan senyum...(tersenyum dan khawatir)
Giza
:”Aku ngomong ini cuman pengen bikin kalian akut kehilangan aku aja...(nada
bercanda)
Dani
:”Za, kamu memang paling bisa bikin kita khawatir. Ohya, aku minta maaf ya
kalau sering nyebut kamu lebay ...”
Giza
:”Kalau aku sih, ga pernah nanggepin itu...”(nada bergurau)
Dani
:”Jadi, setiap kali aku ngomong, kamu ga
pernah nanggepin aku? Oke.... Fine bro...(tersenyum kesal)
Giza
: (menepuk pundak Dani)”Keep calm... Makasih ya, Dan udah ma jadi sahabat aku...”
Dani
:”Malah aku yang seharusnya makasih, kamu bikin sikap gue lebih baik.. Aku
harus nyontoh kamu, sob!”
*
Giza
: (menatap Ana lalu memeluknya)”Makasih Ana, kamu sahabat terbaik aku...... selalu
ada saat kamu lemah. Pokoknya aku
makasih banyak sama kalian, hari-hari kamu jadi selalu menyenangkan...
Ana : (terisak)”Za, cepet sembuh. Kita semua
sayang kamu...”
Giza
: (menusap air mata Ana)”Udah, jangan cengeng.”
(kemudian
masuklah Rasi dengan wajah khawatir membuka pintu perlahan kemudian berlari
menuju Giza)
Rasi
:”Giza?”
(lalu
Giza langsug melihat Rasi)
(Rasi
mendekati Giza dan langsung duduk di sampingnya)
Rasi
:”Za, aku sangat minta maaf..Aku salah paham...”
Giza
:”Ga apa-apa Ra, gue selalu maafin kamu..”
(Niki
melihat Ana yang terus memberi isyarat padanya untuk mengungkapkan perasaan
Rasi ke Giza)
Rasi
:”Za, sebenernya aku sayang sama kamu,...(pelan tapi pasti)
(senyuman
Giza yang teduh membuat Rasi semakin percaya kalau Giza juga sayang dengan
dirinya)
Dani
:”Kalau ga salah, waktu OSPEK Giza pernah bilang sesuatu sama Rasi di depan kita.
Iya kan?”
“Gimana kalau sekarang kita ulang
lagi...Iya kan Za?”
Giza : (menarik napas dalam-dalam)”Rasi....(sambil memegang tangan Rasi dengan wajah
pucat) I LOVE YOU..”
Ana :”Ayo, Ra...jawab Giza...(dengan wajah senang
melihat Giza senang)
Rasi
: (lansung memeluk Giza erat) I love you too.Za, aku sayang kamu...”
(Ana
dan Dani melhatnya dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan)
“iiih..so
sweet ya,sayang?”kata Dani.
*
Tapi waktu tidak mengizinkan,
mungkin sepuluh detik dari saat Rasi memeluk Giza, layar monitor Giza berbunyi
dan menunjukan garis horizontal yang begitu lurus. Napas Giza yag lembut
berhenti berhembus di pundak Rasi. Rasi yang mendengar bunyi itu, langsung
berteriak...”Jangan Giza.....!!!”Ia menangis sambil terus memeluk Giza.
Sedangkan Ana kaget dan juga menangis sambil memegang obat Giza. “Aku sayang
kamu giza...:(“gumam Ana.
Dani shock dan segera memanggil Papa Giza, suster dan
dokter.
“Innalillahi
wainna ilaihi roji’uun...”, suara Papa
pelan hampir menangis sambil berlari ke arah Giza.
Papa
:”Za, jangan tinggalin Papa,Nak!”(lalu mencium anak tunggalnya itu)
(wajah
Giza yang bersinar, tersenyum meninggalkan mereka semua..)
*
Suster dan doktter pun datang.
Mereka menutup Giza dengan sehelai kain putih dan mereka segera membawa
Giza.Sedangkan Papa, Ana, Dani dan Rasi menunggu di luar...
*
Dani
: (langsung memeluk Ana)”Aku tahu kamu kehilangan Giza, sayang... Kita semua
kehilangan”
Ana : (terus menangis)Giza,,,kenapa kamu pergi
secepat ini...”
Dani
:”Ana, kamu ga sendiri,ada aku. Giza juga akan ada terus di hati kita, kan?” (mencoba
menenangkan Ana yang terus menangis sambil memegang obat Giza)
“Ohya, aku nemuin kertas ini di bawah
bantal Giza,”
(kemudian
semuanya membaca keras itu dengan penuh rasa sedih)
Rasi hanya bisa meratapi kenangannya
bersama Giza yang hanya satu minggu itu. Ia menyesal sudah pernah mengecewakan
Giza. Lalu Ana memegang tangan Rasi, dan berkata, “Ra, apa yang kamu lakuin tadi itu benar. Kamu udah nyatain
perasaanmu ke Giza. Giza bakal senang disana,”Ana bicara sambil menngis dan
mencoba tersenyum. Ia memeluk Rasi. Melihat
itu, Dani menghampiri dan memegang pundak mereka. “Giza adalah cowo
paling baik yang pernah kita kenal”,ucap Dani. Lalu mereka semua menangisi
kepergian sahabat terbaiknya itu.
___
(Tulisan
Giza di dalam sehelai kertasnya)
“Apa yang
seharusnya kulakukan sekarang... Sangat
berat meninggalkan kalian semua. Papa, Ana, Dani, dan kamu ...Ra..
Saat aku ga lagi bareng kalian, aku harap kalian ga
ngelupain aku. Seandainya aku masih punya waktu, aku bakal terus bareng Ana dan
kamu Dani...
Aku juga bakal ngajak kamu di samping aku, Ra..”
Sahabat kalian
GizaJ